Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

Posts tagged “Photography

Travelling & Photography

 - Danar Tri Atmojo - nnkq.wordpress.com

Rating 2 hal ini sedang diatas puncak sepuluh tahun terakhir. Ketika satu atau lebih manusia pergi ke suatu tempat, foto dan piranti perekamnya adalah hal paling dasar dan mungkin nomor satu yang akan mereka siapkan, ditambah muncul anekdot yang menjelaskan kalau jalan-jalan ga ada foto = hoax.

Era “Digital Book” seperti sekarang ini memudahkan manusia untuk mendapatkan piranti perekam cahaya dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Munculnya media sosial yang memamerkan hasil jepretan makin marak dan sedang dipuncaknya juga. Dari telepon genggam, mirrorless cam, hingga Digital SLR cam sudah bukan barang mahal. Semua punya, semua bisa, everyone could be photographer now.

Gw berani bertaruh, ga ada pejalan di era sekarang yang ga punya kamera. Itu hal wajib kudu harus punya atau minimal bawa saat travelling. Menurut statistik aplikasi foto instan berbasis smartphone, Instagram hampir 3juta foto diunggah setiap harinya. Menegaskan kalimat diawal “everyone could be photographer” atau beberapa orang bilang “just camera owner not photographer” you choose ✌️.

Dan pertanyaan muncul: berakhir bagaimana foto lo? Gimana siklus hidup foto lo? Dicetak? Atau hanya berakhir teronggok di sudut sektor byte hardisk? For myself, I haven’t found the answer yet.

Salam.


#IndonesiainVR360Project : Kenawa in VR360°

KenawaIntroImageclick on image to view Kenawa in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

#IndonesiainVR360Project : Pulau Kelapa in VR360°

DTA-nnkq-Kiluan_#IndonesiainVR360Project

click on image to view Pulau Kelapa in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : Ijen Crater in VR360°

Ijen Crater in VR360°

click on image to view Ijen Crater in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : Taman Nasional Baluran in VR360°

Taman Nasional Baluran in VR360°

click on image to view Taman Nasional Baluran in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : Bromo in VR360° view

Bromo in VR360°

click on image to view Bromo in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : The Video

Video ini dibuat dari keseluruhan perjalanan di penghujung tahun 2012 dan awal 2013. Dari Bromo, Baluran, Ijen, Tulamben, Amed, Balian, Menjangan. Dibuat oleh seorang sahabat Acionk. Enjoy!


The End meet The Beginning : Pulau Menjangan – Wall Freedive and Drift Freedive

Tempat yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi mereka yang suka scuba diving. Salah satu dari sekian banyak spot scuba diving yang ada di pulau dewata. Dan karena alasan itu pula kami merencanakan jalan jalan di akhir tahun 2012, karena menjangan lah kami semua berangkat..

Menjangan sendiri punya beberapa titik penyelaman diantaranya, Pos 1, Cave Point, Pos 2, Bat Cave, Temple Point, Coral Gardens, Anchor Wreck, dan Eel Gardens. Hampir semua titik berupa wall atau tembok karang yang menjulur ke kedalaman. Tidak semua titik kami selami, Bat Cave, Coral Garden, dan Temple Point saja yang kami kunjungi. Itu saja membuat kami betah di dalam air.

Bat Cave menyajikan tembok karang luar biasa dengan banyak ragam biota di dalamnya. Bagi kamu yang kurang berani Wall Dive tanpa alat scuba bisa coba Coral Garden sampai Temple Point. Titik tersebut terdapat arus tenang yang bisa membawa kamu perlahan mengikuti arus atau bisa disebut Drift Dive. Kontur nya berupa hamparan karang yang kedalamannya hanya 5 – 10 meter. Jadi bisa untuk sekedar snorkeling atau recreational freedive. Kami banyak bertemu biota yang sebelumnya belum kami temui di laut dangkal, salah satunya Spanish Dancer. Spanish Dancer adalah keluarga Nudi Branch atau siput laut yang bisa mengambang di air, saat dia mengambang itu terlihat seperti penari spanyol dengan kibasan rok nya.

 

 

PS: Travel Note: Menikmati Keindahan Bawah Laut Pulau Menjangan @freemagz

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The Winner – Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17: Ocean Creatures

Dari sekian banyak foto yang masuk pada ronde 17 didominasi oleh beberapa foto yang memang mudah kita jumpai dalam artian tidak membutuhkan effort yang lebih, dan memang mudah ditemukan. Karena saya akui tidak semua teman-teman pernah melakukan kegiatan penyelaman. Dan ada juga foto yang memiliki momen-momen yang sulit dijumpai. Dari situ sistem penjurian yang saya lihat pertama adalah bagaimana memilih foto yang berbeda, foto yang prosesnya membutuhkan ketelitian dan ketajaman mata dalam melihat objek.

Ada dua foto yang mengagetkan saya ketika notifikasi comment saya baca. Pertama milik mas Rizal Christian, dua ekor Soldierfish yang sedang berdiam diantara celah karang direkam dengan teknik makro, nyaris seperti cermin diantara kedua objek ikan.

Kemudian yang kedua adalah milik mas Regy Kurniawan. Blue Ringed Octopus atau Gurita Totol Biru atau Hapalochlaena lunulata. Adalah salah satu dari beberapa biota laut yang beracun walaupun ukuran yang tidak sebesar predator lainnya ataupun tidak sebesar keluarganya yaitu Octopoda. Komposisi warna yang dapat berkamuflase dengan lingkungan sekitar membuat hewan ini mimpi buruk untuk kepiting kecil, udang, dan juga manusia bila dia terganggu.

Terkadang manusia mengabaikan keberadaan hewan-hewan kecil yang sulit terlihat mata, kurangnya knowledge juga menjadi faktor pendukung cepatnya kerusakan biota laut. Dari foto tersebut kita jadi belajar bahwa ada yang hidup di laut dari seukuran bus kota sampai kurang dari 1cm. FYI, soft coral hanya tumbuh 1cm pertahun. Bayangkan butuh berapa lama untuk bisa tumbuh besar jika hanya dalam 1 menit bisa kita hancurkan. Maka saya nobatkan foto “Blue Ringed Octopus” karya mas Regy Kurniawan sebagai pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17 : Ocean Creatures”, Selamat!

Dan terima kasih untuk teman-teman yang sudah ikutan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17 ini, sudah visit, mau ikutan tapi belum punya foto sesuai tema. Mungkin di ronde berikutnya kalian yang jadi hostnya..

Blue Ringed Octopus

Laut berisi aneka ragam makhluk, dari kecil hingga raksasa, dari makhluk langka hingga makhluk gaib. Blue ringed octopus ini salah satunya. Ukurannya kecil, hampir sebesar bola pingpong. Jalannya juga selow walopun kakinya ada banyak. Tapi bisanya? Nomor 3 paling berbahaya di dunia. Hewan langka ini hidup di sepanjang garis pantai Asia Tenggara hingga Australia, dan hidup di daerah berpasir. Tidak seterkenal hiu yang ngetop di twitter, Blue Ringed Octopus hanyalah salah satu bagian kecil dari keseluruhan ekosistem laut dan kurang ngetop. Tapi keberadaannya tentu sangat penting, apa sih ciptaan Tuhan yang gak penting? Hehehe…

Save Corals

Save Corals

70% of the earth is covered by water. Non diver? Hope you enjoy your 30%


The End meet The Beginning : Berawal dari iseng

Kadang dalam perjalanan jauh apalagi berkendara pasti ada jenuh, capek, mau istirahat benar? “Search nearby POI” kalau kata GPS ngasih saran ke kita. Berpegangan dengan prinsip “satu kali gas dua tiga tempat baru ditemui” diselipkan sedikit keisengan dan coba-coba pasti ada tempat baru yang bagus.

Pantai Balian, tempat bagus yang saya dan 6 teman saya kunjungi hasil dari cara diatas. Lihat plang/penanda kecil dipinggir jalan Raya Denpasar-Gilimanuk langsung coba untuk membelokkan steer. Ternyata memang tempat ini di sambangi oleh mayoritas wisatawan asing untuk surfing. Walaupun tidak setenar Dreamland atau Balangan, pantai yang berada dipesisir selatan pulau Bali ini cukup melepas lelah kami dengan lanskap pantai bertebingnya dan yang jelas menambah satu kosatempat buat kami.

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.

https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot].com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission


The End meet The Beginning : Ijen – antara Pariwisata dan Ladang Nafkah

Siapa yang tidak tahu Kawah Ijen? Masyarakat Indonesia pasti tahu Kawah Ijen. Bahkan Kawah Ijen pernah masuk dalam film “War Photographer” kisah seorang fotografer dan sekaligus jurnalis terkenal James Nachtwey dalam mengabadikan perang-perang dan tragedi yang ada di dunia.

Kawah ijen adalah sebuah kaldera Gunung Ijen (2600mdpl) yang terdapat danau dipuncaknya dengan kedalaman -+200m berisi asam sulfat. Kaldera tersebut juga aktif dan menghembuskan gas belerang dimana sampai sekarang gas tersebut di manfaatkan oleh penampang lokal untuk mencari nafkah. Gas gas yang menguap dan kemudian mengembun dilarikan melalui pipa-pipa besi dan drum bekas, embun merah keemasan akan mengalir ke belerang disekitarnya menciptakan belerang keras murni yang siap di olah. Mereka bisa membawa 80-100kg belerang sekali jalan. Dan mereka biasanya bisa 2-3 kali jalan dalam sehari demi Rp. 400 – Rp. 600 per KG.  “Tidak siang atau malam asal target sudah terpenuhi kami sudahi” kata seorang penambang yang saya tanya diperjalanan. Saat malam jalur menuju kawah setelah pos penimbangan tidak terdapat penunjuk yang jelas; kanan dan kiri menganga jurang menuju kawah tidak ada pembatas. Belum lagi jika angin mengarah ke selatan yang membawa kepulan gas belerang, menambah tertutupnya jalur.

Disisi lain saat matahari nampak di ufuk timur, tidak sedikit wisatawan yang datang untuk mengabadikan lanskap Kawah Ijen terlebih di musim liburan. Memang indah “lukisan” Ijen saat pagi. Dan pasti banyak juga wisatawan yang mengabadikan para penambang dalam framenya, termasuk saya.

“The worst thing is to feel that as a photographer I’m benefiting from someone else’s tragedy. This Idea haunts me. It’s something I have to reckon every day, because I know that if I ever allow genuine compassion to be overtaken by personal ambition, I will have sold my soul. The only way I can justify my role is to have respect for the other person’s predicament. The extent to which I do that is the extent to which I become accepted by the other and to that extent I can accept myself.” James Nachtwey – 1991

to be continued..

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17 – Ocean Creatures

Sugeng Rawuh, selamat datang di Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17. Terima kasih saya haturkan sebelumnya kepada pencetus ajang Turnamen Foto Perjalanan yaitu Dina & Ryan (duaransel.com) yang idenya brilian sekali ini dan juga tidak lupa bang Febry Fawzi host & juri Turnamen Foto Perjalanan Ronde 16 yang telah mempercayakan saya menjadi host Ronde 17 matursuwun-terima kasih-thank youdanke!!

Masih tidak percaya foto saya yang terpilih di Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17 dengan tema Pelarian. Tidak terpikirkan akan jadi host selanjutnya karena niat awal saya hanya ingin share dan berkenalan dengan teman pejalan & blogger sekalian, Voila! thanks for your all apreciation..

Setelah kita merenung, kabur dari rutinitas, lari dari kenyataan walau hanya sabtu minggu atau “tanggal merah” kita kembali ke dunia tempat kita tinggal yuk. 2/3 bagian bumi tertutupi lautan, bahkan negara kita tercinta Indonesia 2/3 nya pun tertutupi oleh lautan dan masuk kedalam salah satu dari negara kawasan “Coral Triangle” atau “Segitiga Karang” dunia yang kembali 2/3 spesies lautan yang ada di seluruh bumi bisa dijumpai di Indonesia. can you imagine? Saya sendiri pecinta laut baik di permukaan atau dikedalaman :D. Siapa yang tidak suka laut? pencetus turnamen ini pun mengambil tema Laut sebagai temanya dan saya yakin 90% teman-teman pernah dan suka pergi ke laut.

Ocean Creatures (Biota Lautan) menjadi tema yang saya angkat kali ini. Pasti teman-teman pernah menjumpai makhluk laut apapun bentuknya itu, Soft coral, hard coral, ikan, mamalia, dll. Dengan tema ini juga saya berharap kita sebagai jejalan selain menikmati tetapi juga bisa menjaga kehidupan mereka paling tidak dengan mengenal “apa sih itu?“, “bahayakah buat kita?“, “bagaimana atitude yang benar?“, “boleh ga kalo di pegang?“, atau “kalo keinjak gimana?“.  Karena tidak dipungkiri sedikit atau banyak, pariwisata juga ikut andil dalam kerusakan habitat laut. Tidak ingin kan pejalan dianggap sebagai perusak tempat/habitat/makhluk laut?

Jadi, yuk share foto teman-teman yang ada di hardisk, flashdisk, floopy (mungkin), atau masih fresh dari jalan weekend kemarin yang masih ada di MMC kamera tentang keanekaragaman biota laut

Some Photo Credit to Agus Hong

Some Photo Credit to Agus Hong

Save Corals

Save Corals

ATURAN MAIN:

  1. Masa submisi : 18-24 Maret 2013 23.59 WIB
  2. Foto HARUS merupakan hasil jepretan alias karya kamu sendiri
  3. Host foto ‘Ocean Creatures/Biota Lautan’ – mu di situsmu sendiri. Web, blog, Flickr, Picasa, Photobucket, dsb terserah.
  4. Submit foto pada kolom comment artikel ini dengan format berikut :
  • Nama/nama blog (nama Twitter bila ada)
  • Link blog
  • Judul/keterangan foto (maksimal 1 paragraf)
  • Link foto (ukuran foto sekitar 550 px, jangan terlalu besar)
  • Ada kemungkinan foto yang kamu kirim akan di-rehost di web tuan rumah. Terutama kalau terlalu besar atau bermasalah
  • Submisi lebih cepat lebih baik, sehingga fotomu bisa tertampil seatas mungkin, hehe
  • Foto yang tidak patut, tidak akan di-upload disini, kebijaksanaan tuan rumah (misal : mengandung kebencian SARA, nyeleneh, menghina pihak lain)
  • Foto tidak diperkenankan dalam bentuk kolase
  • Pengumuman pemenang : 2 – 3 hari setelah batas masa submisi
  • Foto akan dipampang didalam post setiap harinya pukul 18.00 – 24.00 (maaf ya teman) dan berdasarkan queue Comment post ini.

TURNAMEN FOTO PERJALANAN UNTUK TRAVELLER INDONESIA

Mengapa mengikuti Turnamen Foto Perjalanan?

  • Ajang sharing foto. Bersama, para travel blogger Indonesia membuat album-album perjalanan yang indah. Yang tersebar dalam ronde-ronde turnamen ini. Untuk dinikmati para pencinta perjalanan lainnya.
  • Kesempatan jadi pemenang. Pemenang tiap ronde menjadi tuan rumah ronde berikutnya. Plus, blog dan temamu (dengan link ybs) akan tercantum dalam daftar turnamen yang dimuat di setiap ronde yang mendatang. Not a bad publication.

Siapa yang bisa ikut?

  • (Travelblogger – Tak terbatas pada travel blogger profesional, blogger random yang suka perjalanan juga boleh ikut.
  • Setiap blog hanya boleh mengirimkan 1 foto. Misal DuaRansel yang terdiri dari Ryan dan Dina (2 orang) hanya boleh mengirim 1 foto total.
  • Pemenang berkewajiban menyelenggarakan ronde berikutnya di (travel) blog pribadinya, dalam kurun 1 minggu. Dengan demikian, roda turnamen tetap berputar.
  • Panduan bagi tuan rumah baru akan diinformasikan pada pengumuman pemenang. Jika pemenang tidak sanggup menjadi tuan rumah baru, pemenang lain akan ditunjuk.

Nggak punya blog tapi ingin ikutan?

  • Oke deh, ga apa-apa, kirim sini fotomu. Tapi partisipasimu hanya sebatas penyumbang foto saja. Kamu nggak bisa menang karena kamu nggak bisa jadi tuan rumah ronde berikutnya.
  • Eh tapi, kenapa nggak bikin travel blog baru aja sekalian? WordPress, Tumblr, dan Blogspot gampang kok, pakainya. Jangan pake Multiply ya, karena Multiply akan segera gulung kasur.

Hak dan kewajiban tuan rumah:

  • Menyelenggarakan ronde Turnamen Foto Perjalanan di blog-nya
  • Memilih tema
  • Melalui social media, mengajak para blogger lain untuk berpartisipasi
  • Meng-upload foto-foto yang masuk
  • Memilih pemenang (boleh dengan alasan apapun)
  • Menginformasikan pemenang baru apa yang perlu mereka lakukan (panduan akan disediakan)

DAFTAR TURNAMEN FOTO PERJALANAN

  1. Laut – DuaRansel
  2. Kuliner – A Border that breaks!
  3. Potret – Wira Nurmansyah
  4. Senja – Giri Prasetyo
  5. Pasar – Dwi Putri Ratnasari
  6. Kota – Mainmakan
  7. Hello, Human! (Manusia) – Windy Ariestanty
  8. Colour Up Your Life – Jalan2liburan
  9. Anak-Anak – Farli Sukanto
  10. Dia dan Binatang – Made Tozan Mimba
  11. Culture & Heritage  Noni Khairani
  12. Fotografer – Danan Wahyu Sumirat
  13. Malam – Noerazhka
  14. Transportasi – Titik
  15. Pasangan – Dansapar
  16. Pelarian/Escapism – Febry Fawzi
  17. Ocean Creatures – Danar Tri Atmojo
  18. Bisa kamu, bisa dia, just give your best shot mate!

***

Pendiri dan koordinator Turnamen Foto Perjalanan:
Dina DuaRansel.com

email : dina@duaransel.com
Twitter : @duaransel
Facebook : duaransel

Pertanyaan seputar penyelenggaraan dsb? Hubungi Dina .

Untuk menilik status terbaru beserta FAQ Turnamen Foto Perjalanan, silahkan cek:

Turnamen Foto Perjalanan untuk Traveler Indonesia

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17

Ocean Creatures / Biota Lautan

1. Wira Nurmansyah (@wiranurmansyah)

Black Tip Shark

Seekor black tip shark melintas di perairan pantai yang sangat dangkal di Wayag, Raja Ampat. Daerah ini merupakan ‘rumah’ bagi para hiu-hiu raja ampat karena selalu dijaga oleh petugas konservasi sehingga hiu mudah ditemui disana.

2. Maya Indah (@chiemay_acc)

Replikasi Dunia Laut

Sebagai warga negara Indonesia, saya merasa malu bahwa saya belum pernah sekalipun mengunjungi dan melihat sendiri keindahan alam bawah laut Indonesia. Hal sekecil snorkeling apalagi diving belum pernah saya lakukan juga. Baru sekali saya melihat keindahan bawah laut dan itu pun hanya replikasinya, yaitu ketika saya berkunjung ke SeaWorld Indonesia. Melihat replikasinya saja, sudah membuat saya terkagum-kagum, apalagi melihat sendiri aslinya. Saya berharap suatu saat dapat melihat sendiri keindahan tersebut, mungkin Karimunjawa sebagai awalnya.:)

3. Citra Rahman (@citrarahman)

Ketemu ‘singa’ di pantai Pulau Balai.

Pulau Balai adalah salah satu pulau kecil yang menjadi pusat pemerintahan kecamatan Pulau Banyak di Aceh Singkil. Keindahan pulau ini memang tidak setenar pulau-pulau lain seperti Bengkaru dan Palambak, tapi di pulau ini pula aku menemukan seekor Lion Fish yang bergerak anggun bersama ombak laut, persis di tepi pantai. Warnanya yang coklat berkamuflase dengan karang, nyaris tak kukenali pada awalnya. Kalau saja aku tidak melihat-lihat sebelum snorkeling, mungkin aku akan melewatkan pemandangan langka bertemu ikan ini. https://hananan.wordpress.com/2012/11/06/pulau-banyak-trip-1-tiba-di-pulau-balai/

4. Helena (@helenamantra)

Bintang Laut di Langit

Bintang Laut di Langit

Ternyata pagi hari pun di langit ada bintang.
Inilah jasad bintang laut kecil yang saya temukan di Beras Basah, Bontang.
Semoga dia bahagia di kehidupan selanjutnya.

5. Hijrah Saputra (@hijrahheiji)

Karang Batik, begitu kami menyebutnya, bentuk yang tak beraturan tapi memiliki keindahan tersendiri. Banyak ditemukan di perairan di antara Pantai Teupin Sirui dan Pulau Rubiah, Iboih, Sabang. Karang ini menjadi tempat tinggal ikan-ikan kecil termasuk Clown Fish (Ikan Badut). Untuk menemukan Karang Batik ini gampang, berada di kedalaman tidak lebih dari 5 meter, kita bisa snorkeling atau yang tidak ingin berbasah-basahan bisa menyewa Glass Bottom Boat, perahu dengan kaca. http://piyoh.blogspot.com/2013/03/finding-karang-batik.html

6. Ramdhan (@mutssu)

SAM_7308

Penyu hijau adalah salah satu dari sekian banyak biota yang dapat hidup di laut yang menakjubkan, dia bisa mengeluarkan ratusan telur dalam sekali bertelur. Tapi melihat sang telur berubah menjadi anak penyu dan berusaha keluar ke dunia ini adalah pengalaman luar biasa yang jarang ditemui selama saya melakukan perjalanan. Mereka harus segera kita bawa ke pantai untuk dilepaskan yang kelak akan kembali lagi sebagai penyu dewasa untuk bertelur di tempat dimana dia dilahirkan.

7. Antho (@JustAntho)

Upclose & Personal

Sore hari biasanya penyu-penyu mendekat ke beberapa penginapan di Derawan yang dibangun di atas perairan karena di sekitarnya banyak padang lamun. Dan ketika melihatnya, sayapun langsung plung!, menceburkan diri untuk melihat tarian sang penyu di air. Bisa berenang bersama seekor penyu di lautan merupakan suatu sensasi tersendiri, tapi saat itu, sayapun bisa bermain-main dan sesekali mengusap-usap kepala si penyu 🙂

8. Rifqy (@rifqybroody)

img_4227

Berada di dasar laut Bunaken 2 tahun lalu.. membuat saya ingin menikmati keindahan dasar lautnya lagi suatu waktu.. bersyukur karena sempat menikmati salah satu keindahan bawah laut Indonesia..

9. Halim (@halim_san)

Karang mati yang tersebar di pesisir pantai Pok Tunggal membuat saya bergidik. Banyak ikan kecil warna-warni terjebak di sela karang, mereka berenang ketakutan saat mendengar langkah manusia yang sudah siap dengan jaring ikannya. Tidak bisa dibayangkan betapa indahnya karang di sini sebelum ratusan sampai ribuan manusia menjamahi tempat ini… #saveOurNature :)

10. Regy Kurniawan (@regycleva)

Blue Ringed Octopus

Laut berisi aneka ragam makhluk, dari kecil hingga raksasa, dari makhluk langka hingga makhluk gaib. Blue ringed octopus ini salah satunya. Ukurannya kecil, hampir sebesar bola pingpong. Jalannya juga selow walopun kakinya ada banyak. Tapi bisanya? Nomor 3 paling berbahaya di dunia. Hewan langka ini hidup di sepanjang garis pantai Asia Tenggara hingga Australia, dan hidup di daerah berpasir. Tidak seterkenal hiu yang ngetop di twitter, Blue Ringed Octopus hanyalah salah satu bagian kecil dari keseluruhan ekosistem laut dan kurang ngetop. Tapi keberadaannya tentu sangat penting, apa sih ciptaan Tuhan yang gak penting? Hehehe…

11. Isna Saragih (@isna_saragih)

Patrick

Sore itu aku dan kawan yang tampangnya mirip salah satu pemain OVJ ini 😀 pergi ke pantai Trikora di pulau Bintan. Rencana mau lihat sunset doang. Karena aku cenderung hidrofobia (trauma pernah tenggelam di air), kami keliling pantai aja nyarik bintang laut. Air laut sedang surut sehingga banyak “Patrick” yang kami dapat. Bukan buat dibawa pulang lho. Cuma buat dokumentasi aja 🙂 http://catatanavantgarde.wordpress.com/2012/04/12/halus-dan-putihnya-pasir-pantai-trikora/

12. Agus Hong (@agushong)

Berdansa dengan arus

Nama lengkan spesies ikan ini adalah Zebra turkeyfish atau Zebra Lionfish dengan nama ilmiahnya Dendrochirus Zebra
Tetapi kebanyakan orang mengenalnya dengan nama lionfish saja. :p Foto ini diambil saat sedang asyik freediving ria di pantai Amed – Bali dengan struktur pasir hitam serta batu-batu vulkanik, disini terdapat banyak spesies biota laut yang dapat Anda jumpai seperti Octopus, Nudibranch, dll tetapi butuh ketelitian dan kesabaran karena arus yang lumayan deras.

13. Agie Ginanjar (@agiezious)

Penyu Laut Hijau (Chleonia Mydas)

Penyu Laut Hijau (Chleonia Mydas)

Masih dari roadtrip Februari kemaren (hihi dengan adanya turnamen ini jadi nyicil upload fotonya :p ), ini diambil waktu kami berkunjung ke Batu Secret Zoo. Zoo yang satu ini tergolong sangat luas dan memiliki koleksi satwa yang cukup lengkap termasuk hewan-hewan laut. Cuman disayangkannya sih kebanyakan pengunjung lebih asyik berfoto narsis ketimbang membaca keterangan tentang hewan-hewan ini. Aquarium untuk hewan-hewan ini tidak terlalu besar, apalagi untuk hewan seukuran penyu laut hijau. Jadinya agak kasihan lihat hewan yang berukuran agak besar dengan besaran aquariumnya seperti itu. Tapi dari sisi kebersihan pengelola zoo ini tergolong baik, karena airnya terlihat jernih dan tidak terlihat penyakit jamur dsb pada hewan-hewan yang ditampilkan. Taken with iPhone 3GS, effect auto

14. Inggrid Hayasidarta (@inggridkoe)

Selamatkan Saya

Selamatkan Saya

Sebut aku tukik, ya, aku anak penyu yang tinggal di konservasi penyu, Pulau Sangalaki, Berau, Kalimantan Timur. Bersama ratusan saudara-saudaraku, aku berlomba-lomba menerjang ombak pantai dengan tungkai kecilku. Ironisnya, hanya belasan dari kami yang mampu bertahan dan menjadi penyu dewasa. Selamatkanlah aku, karena mengarungi lautan luas adalah mimpiku.

15. Meidi (@geretkoper)

Tembus Pandang

Aku memang lucu, bening, kecil dan bergerak kesana kemari seakan terbawa arus air. Tapi tau kah kamu aku bisa menyengatmu? Jangan buat aku marah yah, jika aku merasa terancam dengan mudahnya aku bisa menyakitimu dengan sengatanku. Tapi aku tetap lucu kan?

16. Cumi MzToro (@Cumi_MzToro)

Kutemukan Nemo

Kutemukan Nemo

Setiap nyebur kelaut untuk diving atau snorkling pasti seru kalo menemukan sesuatu yang lucu dan imut, salah satu nya ketemu nemo dalam perjalanan kami di Pulau Pahawang. Nemo di Pulau Pahawang dan Tanjung Putus Lampung ini tergolong banyak banget yang kami jumpai, hampir di setiap spot perhentian pasti ketemu dan lumayan agak besar2. Oh Indah nya Indonesia

17. Fetty (@fettyokli)

Terpesona dengan ikan-ikan cantik di Menjangan

WOW! ucap saya berkali-kali saat snorkeling di Pulau menjangan Bali. Berseliweran ikan-ikan warna-warni nan cantik, bintang laut, si imut nemo, lion fish dan msh banyak yg lainnya. ini adalah gambaran kumpulan ikan-ikan nan cantik, Terpesona saya dibuatnya!

18. TraveLafazr (@TraveLafazr)

Padang Rumput di Tepi Laut

Bukan rumput yang sama seperti di lapangan bola atau padang savana, tentu saja. Yang ini rumput laut, rumput yang tumbuh di tepi laut. Bukan rumput yang biasa dibikin manisan atau jadi campuran es campur, bukan. Tapi rumput laut yang ini juga bisa dimakan sebagai sayuran. Di Gunung Kidul, rumput laut jenis ini merupakan salah satu komoditas, objek mata pencaharian masyarakat lokal.

19. Gilang Rausin (@gilang8R)

Gurano Babintangan

Gurano Babintang adalah nama lain dari Hiu-Paus. “dua spesies dalam satu tubuh”, Itu kalimat pertama dari hubungan antara visual experience dan otak awam saya kepada biota laut yang satu ini setelah saya melihat salah satu sosok ikan raksasa di Kwatisore – Nabire, Papua.
Salah satu Spesies yang mudah ditemui di perairan Teluk Cendrawasih ini sebenarnya spesies ikan yang hanya memakan plankton.

20. Toliq Anshari

Terumbu Karang Pulau Maratua

Bawah laut di Kampung Payung-payung, Pulau Maratua selain terkenal dengan spot diving untuk menyaksikan penyu hijau, di sekitar dermaganya juga banyak terdapat terumbu karang yang cukup mempesona, apalagi di saat air surut, kita bisa berjalan kaki di sekitar dermaga untuk melihat gugusan terumbu karang yang cukup indah.

21. Nicky Siputro (@nicky_gitu)

Siput / Keong di Teluk Kiluan

Siput atau keong adalah nama umum yang diberikan untuk anggota kelas moluska Gastropoda. Dalam arti sempit, istilah ini diberikan bagi mereka yang memiliki cangkang bergelung pada tahap dewasa. Dalam arti luas, yang juga menjadi makna “Gastropoda”, mencakup siput dan siput bugil (siput tanpa cangkang, dalam bahasa Jawa dikenal sebagai resrespo). Siput dapat ditemukan pada berbagai lingkungan yang berbeda: dari parit hingga gurun, bahkan hingga laut yang sangat dalam. Sebagian besar spesies siput adalah hewan laut. Banyak juga yang hidup di darat, air tawar, bahkan air payau. Kebanyakan siput merupakan herbivora, walaupun beberapa spesies yang hidup di darat dan laut dapat merupakan omnivora atau karnivora predator

22. Rival (@rivalfact)

Coral Life

Coral Life

Seperti halnya rumah, Coral (Terumbu karang) merupakan rumah bagi para penghuni kehidupan laut, tidak hanya sebagai tempat tinggal saja namun terumbu karang merupakan tempat penghidupan bagi penghuninya, karena disana lah terjadi proses simbiosis mutualisme antara penduduknya yang membuat ekosistem laut terjadi dengan semestinya, jika tidak ada coral (terumbu karang) tidak hanya kehidupan laut yang terancam namun “kita” para penghuni daratan terancam tidak bisa makan enak “ikan bakar + sambel dabu-dabu” hehe #saveourcoral #saveourocean Salam satu nafas *blubb blubb blubb*

23. Danan Wahyu Sumirat (@dananwahyu)

Home

Tiada tempat seindah dan senyaman “rumah”. Setelah dua tahun lebih berkelana menyambangi dunia bawah di laut nusantara. Baru tahun kemarin mendapat kesempatan melongok dunia bawah laut di tanah kelahiran sendiri. Rasanya tak percaya jika di Pulau Tegal , Teluk Lampung dapat menyaksikan keindahan biota laut seperti: clown fish, mora, anemon dan coral indah.

24. Rizal Christian

Peace and Harmony…

Bahkan ikan pun hidup bersanding dalam kedamaian… Soldier fish lagi berduaan 🙂

25. Harry Purnama (@harrypurnama)

Dua Sejoli

Clown fish, atau yang lebih populer dikenal dengan Nemo, tak bisa dipisahkan dari rumahnya, yaitu anemone. Di mana ada anemone, di situ ada Nemo. Ada ketergantungan di antara keduanya. Sama seperti manusia dan ikan-ikan di lautan yang saling ketergantungan. Jika tidak ada ikan di laut, manusia pun kehabisan salah satu sumber makanan. Karena itu, manusia sebaiknya tidak mengotori lautan.

26. Ari Murdiyanto (@buzzerbeezz)

The Predators

Saya tidak tahu spesies hiu apa ini. Yang saya tahu, hiu adalah salah satu predator yang paling mematikan di lautan. Keseimbangan ekologi laut bergantung pada para predator ini. Namun faktanya, hewan ini banyak diburu karena siripnya yang berharga. Melihat langsung para penguasa lautan ini walaupun hanya lewat akuarium besar di Sea World Indonesia, menyadarkan saya bahwa hiu adalah hewan yang luar biasa. Buas namun penting.

 27. Yoesrianto Tahir (@yoesrianto)

Clown Fish

Kalau liat BGnya sih sebenarnya ini mr.clown sudah dalam gelas. bukan dilaut. difoto jaman 2006 kamera yang bisa nyemplung belum rame dan belum ada duit..hehehe..ketemu dengan mudahnya di pinggir pantai pulau samalona, makassar ndak perlu ke tengah-tengah atau pun naik perahu untuk bisa snorkeling dan ketemu mr. clown ini. kalau mau ya jalan-jalan ke makassar.

28. Niken (@andrianiken)

Anak pulau ini cuma butuh google buat nyemplung

29. Adam dan Susan (@pergidulu)

Going for Gold

Down in Ujung Genteng, Jawa Barat, there is a turtle conservation project underway which seeks to capture the eggs of wild turtles, hatch them and then release the small turtles back into the ocean to make sure as many of the eggs are successfully hatched as possible. This foto shows the release of hundreds of baby turtles back into the ocean.

30. Teuku Zamer (@zamerseven)

Akhir Kehidupan Sang Ksatria Laut

Akhir Kehidupan Sang Ksatria Laut

Saya yakin sosok asli bangkai ekor ikan ini dulunya besar. Skala foto ini 1 : 10. Tapi saya tidak tahu persis jenis ikan apa ini. Gambar tersebut saya ambil di dapur umum salah satu dayah di Banda Aceh: Dayah Modern Darul Ulum. Ya, ikan ini sudah dijadikan santapan bagi ratusan kepala santri dayah tersebut. Akhir kehidupan sang ksatria laut.

31. Febry Fawzi (@febryfawzi)

nyonya puff yang tertangkap!

iseng-iseng pas malem-malem di Jailolo, saya meminta teman saya untuk mencarikan udang. Kemarinnya teman baru pamer soal dapet udang dan lobster lalu dibakar bareng-bareng. Sial! malam itu saya malah dapet nyonya puff ini! begitu naik ke darat, dia langsung mengembang kayak adonan roti. Langsung deh dibalikin ke laut lagi. maaf ya nyonya puff


The End meet The Beginning : Taman Nasional Baluran – Africa Van Java

Tak melulu harus ke Taman Nasional Kruger di Afrika Selatan, atau Taman Nasional Nairobi di Kenya untuk menikmati savana gersang, panas, dan fauna liar lalu lalang di sekitarnya. Indonesia pun punya lanskap dengan keadaan seperti itu. Africa Van Java predikat yang disematkan untuk Taman Nasional Baluran di Situbondo Jawa Timur. Walaupun fauna yang ada tidak seperti taman nasional di Afrika pada umumnya yang menunjukkan rantai makanan dari yang paling rendah hingga puncak, TN Baluran menjadi surga dan rumah bagi banyak burung, Banteng, Rusa, dan kera seperti yang saya baca dari blog seorang aktivis birdie yang juga seorang aktivis TN Baluran mas Swiss Winasis (http://pratapapa81.wordpress.com). Beliau juga sukses mengkatalogkan burung burung yang ada di TN Baluran dan mempublikasikan dalam sebuah buku. Selamat mas Wis!

Saya sukses menikmati dua atmosfir saat mengunjungi TN Baluran. Saat pertama tiba kami memang terlalu malam sampai disana tetapi menjadi keuntungan sendiri karena kami bisa menikmati Safari Night TN Baluran dari pintu masuk sampai lokasi penginapan disekitar Pantai Bama. Ditemani dua petugas TN Baluran di perjalanan kami disuguhi pemandangan yang memang saya sendiri belum pernah merasakan. Dikelilingi hutan tropis kering dikanan kiri dan fauna dari burung, ular, landak, burung merak, kera yang memang lalu lalang disekitar perjalanan. Karena faktor itu pula kami meminta petugas TN Baluran yang sudah paham dengan keadaan sekitar untuk menemani karena kami pun tidak ingin mengganggu habitat mereka.

Kalau safari malam sudah kami cicipi, siangnya kami eksplore kembali TN Baluran. Keluar sedikit dari lokasi pantai Bama kami disambut kera hitam (seperti lutung saya tidak tau jenisnya :D) bergerombol dan sedikit takut dengan kehadiran dan suara mobil kami. Savana Bekol yang terkenal dari TN Baluran dengan background Gunung Baluran serta langit biru bergradasi dengan hijau hutan Baluran senyum kepada kami. Aahh ini indah… untuk melihat keseluruhan landskap TN Baluran lebih enak dilihat dari tower yang berada dekat kantor informasi sekitar savana Bekol. Dari atas kami bisa melihat keseluruhan Baluran dari sebelah timur yang dibatasi laut dan barat dengan Gunung Baluran nya. Dari atas pun kami bisa melihat schooling Rusa yang sedang berkubang dan juga banteng yang menjadi lambang TN Baluran.

Taman Nasional Baluran sukses membuat saya sejenak berimaji liarnya alam di Afrika.
Next time, bawah air TN Baluran harus saya cicipi..

to be continued..

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
http://nnkq.wordpress.coom / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

The End meet The Beginning : from Gajah Mada Sacred Place to the Land of God

Bersambung dari post sebelumnya, perjalanan 7 orang teman selama 7 hari ke 7 destinasi berbeda dimulai dari air terjun Madakaripura. Air terjun yang alkisah sebagai tempat pertapaan Jendral Besar Kerajaan Majapahit, Patih Gajah Mada. Tempat ini sakral bagi masyarakat sekitar mengingat sejarahnya silam. Madakaripura masuk kedalam kecamatan Lumbang administratif kabupaten Probolinggo dan ternyata juga masih masuk kedalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kenapa Madakaripura menjadi destinasi pertama? seorang kawan, AA saya menyebutnya; dia penasaran dengan landskap Madakaripura.Dia ingin singgah kesini sebelumnya saat berkunjung ke Bromo; hanya saja entah kenapa dia tersasar ke Air Terjun Coban Pelangi yang arahnya 180° terbalik dengan arah menuju Madakaripura. Pity you bro.. 😀

3 Jam perjalanan dari Surabaya sudah terlalu sore saat kami sampai di pintu masuk kawasan air terjun Madakaripura, dan hujan pun turun. Sudah menjadi prosedur pengelola air tejun jika hujan turun kawasan akan ditutup dari pengunjung mengantisipasi debit air yang meningkat di sekitar air terjun. Poor us!! untuk kedua kalinya AA gagal menyambangi Madakaripura.

lessons to be learned : Datanglah pagi jika ingin ke Madakaripura. Disamping waktu yang bagus untuk mengabadikan momen & landskap dan juga mengantisipasi seperti yang kami alami..

Narsiscus Landscapus

“Bromo yuk!” celetuk seorang teman. RR dan 2 orang teman kami memang belum pernah merasakan dinginnya kaldera purba Bromo; sore itu pun kemudi mobil dibelokan ke Bromo. Tujuan yang sebelumnya ingin menghabiskan sore dengan bermain air, berputar menjadi main dingin. Celana pendek, kaos tanpa jaket itu yang kami gunakan. Terbayang sore Bromo yang terkenal dinginnya kontras dengan apa yang kami kenakan.

” We really do fun! – dancing on sea sand – cold – friends – savanna – Bromo – freezing – narcistic – Jeep – horse ”

“A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving.” – Lao Tzu

 

to be continued..

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

The End meet The Beginning : Surabaya is where we start

Surabaya menjadi starting point kami memulai “akhir”. 6 Orang dibagi 2 memulai perjalanan dari Jakarta menggunakan “ular besi” . 1 lainnya standby di Surabaya. Mengapa Surabaya? Surabaya menjadi kota yang strategis bagi kami untuk memulai 7 days trip ini. Karena memang destinasi pertama kami terdekat melalui Surabaya. Selagi di sebuah tempat setiap pejalan pasti tidak lupa untuk mencicipi kuliner khas setempat, kami diajak teman yang berdomisili disana untuk mencoba soto Surabaya didepan Tunjungan Plaza. Sarapan Khas Surabaya cak!

Soto Surabaya (depan Tunjungan Plaza)

Soto Surabaya (depan Tunjungan Plaza)

Tidak terbayang buat saya kalau kami bertujuh akan membawa masing-masing rucksack yang kami sebut kulkas satu orang satu. Sebutan itu disematkan karena memang ukuran rucksack kami yang besar (entah apa saja isinya). Belum lagi ditambah “armor” (baca: Dive Gear) yang sengaja kami bawa. Pertanyaan yang muncul pertama kali adalah, bagaimana cara memuat kami semua kedalam satu mobil pabrikan Jepang? Dari kulkas, armor, penumpang.. Tapi siapa sangka 7 orang + 7 kulkas + 7 pasang armor muat dan pas masuk dalam satu mobil walaupun sedikit mengatur saf. For me, that is the art of travel. Setiap pejalan punya cara masing-masing, punya cerita masing-masing, dalam menikmati sebuah perjalanan. Mungkin berbeda dengan cara anda, mungkin sama dengan cara saya, atau mungkin mirip dengan cara dia. Tidak ada yang salah dan juga tidak ada yang benar, each traveller has their own unique way..

So, let’s the travel began..

This Is How we Packed

How packed all this stuff?

"saf" kami didalam mobil

“saf” kami didalam mobil

to be continued..

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Mount Bromo : Land of God

 

Look Love Learn Indonesia
License & Print photo Available 
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Madakaripura Waterfall : Sacred Place in 1st Suro

Berjarak 3 Jam perjalanan menggunakan mobil dari Surabaya, air terjun ini terkenal dengan legenda tempat bertapanya Patih Gajah Mada; Jendral besar pada masa Kerajaan Majapahit. Tepat 1 Suro (tahun 2012 penanggalan Masehi) kemarin saya kesana. Tanggal yang sebenarnya dengan tidak sengaja bertepatan tanggal 1 Suro penanggalan Jawa atau 1 Muharam penanggalan Islam. Bagi sebagian masyarakat Lumbang, Probolinggo atau masyarakat yang masih kental memegang teguh budaya Jawa, tanggal 1 Suro merupakan saat-saat dimana mereka akan mengkeramatkan tempat-tempat, benda, pusaka yang mereka anggap sakral. Untuk hal ini tidak terkecuali Air Terjun Madakaripura yang terkenal dengan Gajah Mada-nya. Tepat di depan patung Gajah Mada, masyarakat memberikan sesaji dan juga memanjatkan doa-doa agar mereka diberi keberkahan serta kemakmuran.

Prosesi persembahan dilangsungkan pada tepat tanggal 1 Suro, diikuti oleh beberapa tetua adat setempat serta masyarakat. Persembahan juga disertai nyanyian Gamelan asli Probolinggo beserta Sindennya, mereka bersuka cita dari tua sampai muda.

Salam,

Look Love Learn Indonesia

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

 


Pahawang – Kelagian – Tanjung Putus

Citra Satelit Pulau Pahawang (Courtesy Google.com)

Pahawang-Kelagian-Tanjung Putus, satu paket destinasi yang pasti & harus disambangi jika kamu sedang berada di Lampung. Berada di Lampung Selatan tiga tempat ini menawarkan gugusan pulau dan pantai yang belum banyak orang kunjungi. Dan juga menawarkan opsional destinasi di propinsi paling selatan pulau Sumatera. Seperti gambar diatas (ter-marker biru) adalah pulau Pahawang, yang konon lambang produsen komputer & gadget terkenal asal Palo Alto, Apple Inc. terinspirasi dari citra satelit pulau pahawang; tetapi belum ada kebenaran yang terdengar dari isu tersebut.

Posisi pulau yang berada menjorok ke daratan membuat perairan disini sangat tenang, terlebih saat menyebrang dari daratan Sumatera (Pelabuhan Ketapang, Lampung) ke Pulau Kelagian. Cocok buat kalian yang memang suka bermain air alias skindive/snorkeling. Belum banyak penginapan yang tersedia disini. Saat saya kesana, saya dan teman-teman menggunakan tenda dan beberapa tidur di pondokan yang tersedia di pulau Kelagian Besar. Di pulau Kelagian Besar tersedia MCK yang dibangun oleh penduduk setempat, jadi jangan takut tidak bisa mandi :D.

Salam,

Look Love Learn Indonesia

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Mahameru : I always be there for you friends

Ini menjadi kali kedua dalam satu tahun saya ke Gunung Semeru. Desember tahun lalu saya pergi ke Taman Nasional ini dalam rangka untuk mengantar seorang teman yang memang sudah memintanya lama sekali. Saya pun berangkat walaupun yang akhirnya hanya piknik ceria 3 hari di Ranu Kumbolo. Pada kesempatan kali ini saya dan teman-teman menargetkan untuk menginjak tanah tertinggi pulau Jawa, yaitu Puncak Mahameru.

Berangkat 3 hari setelah Hari raya Idul Fitri Agustus lalu saya dan 7 sahabat pergi menuju Malang. Saya tau pasti akan sangat ramai Gunung Semeru pada bulan bulan seperti ini. Dan jelas hampir 1500 pendaki dalam 2 hari yang terdaftar dalam database Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dan ini menjadi kali pertama saya melakukan pendakian di Gunung Semeru saat High Season seperti itu.

Ranu Kumbolo hari pertama terlihat warna warni dan riuh ramai. Warna tenda para pendaki yang beraneka ragam mewarnai Ranu Kumbolo pagi itu. “Kaya pasar, rame bangett” ucap salah seorang teman yang baru kali pertama menginjakkan kaki di Danau di ketinggian 2400mdpl itu. Raut lelah dan senang terpancar dari beberapa wajah teman teman. Kami sampai di Ranu Kumbolo sudah sangat telat sekitar jam 3 Pagi, dan butir es kecil sudah menyelimuti tenda, dan rerumputan Ranu Kumbolo malam itu. Memang bukan pemandangan biasa jika es muncul di Ranu Kumbolo.

Kemarau membuat Oro oro Ombo tampak pudar, kering; tidak ada bunga yang menghiasi hijaunya bukit teletubies siang itu. Jalur pendakian dihiasi pasir debu gunung yang entah datang dari mana. Masker pun terpasang disemua muka para pendaki. pemandangan tersebut terlihat sepanjang jalur oro-oro Ombo sampai Kalimati. Namun pepohonan sudah tampak hijau setelah September/11 – Januari/12 lalu terbakar karena kemarau.

Gunung Semeru terlihat jelas dan gagah sore itu dari Kalimati. Takjub menjadi raut yang pertama dipancarkan teman teman. Indah sekali lukisan Tuhan yang satu ini. Menikmati sore dengan landscape Gunung Semeru ditemani segelas kopi dan candaan sahabat, momen tidak akan bisa tergantikan. Perapian kecil di malam hari, membuat makanan, dan tidak lupa guyonan membuat suasana dingin malam itu menjadi hangat. Siluet Gunung Semeru serasa memanggil untuk mengundang kami menyicipi indahnya landskap Jawa dari atas sana.

Tepat jam 12, 4 dari 8 orang berangkat untuk memenuhi undangan Mahameru tadi malam. 4 orang teman kami yang lain memilih untuk di tenda karena memang ada yang sangat drop kondisi badannya, dan beberapa karena sudah pernah menyicipi indahnya Mahameru. Akan kali kedua untuk saya untuk merasakan indahnya Mahameru. Pasir vulkanik mewarnai jalur Kalimati-Arcopodo-Kelik. Debu menyesakan pernapasan, dingin menyelimuti. Seorang teman akhirnya tak bisa melanjutkan, karena lututnya yang terkilir. Dia memilih stay di Arcopodo dan numpang di tenda para pendaki yang bermalam di Arcopodo, “suatu saat nanti kita pasti kembali Sal, Semeru selalu membuka pintu untuk semua orang yang dengan rendah hati bertamu kerumahnya..”. “Pelan tapi pasti” seperti sebuah lagu kami pelan pelan menapaki jalur menuju Mahameru. Nampak sangat ramai jalur menuju puncak pagi itu, terlihat lampu senter para pendaki yang berbaris dari Cemoro Tunggal – Mahameru. Pasir Mahameru tidak tampak seperti biasanya, lebih lembut, kering dan melelahkan. kaki kami terendam hampir mendekati lutut , naik 3 turun 2. Harga yang mahal untuk melihat sebuah keindahan.

Jam 06.30 tepat saya sampai di Tanah tertinggi pulau Jawa untuk kedua kalinya. 2 teman saya masih jauh dibawah. Sampai 8.30 saya menunggu mereka tidak kunjung datang. Dingin angin dan terik matahari yang membuat kulit wajah memerah diatas Mahameru pelan pelan melemaskan badan. Cerah, biru, kering,  Terik menggambarkan Mahameru pagi itu, sangat indah. Saya sempat berbincang dengan salah satu ranger yang juga seorang guide yang sedang membawa tamu (pendaki) asal negri Singa, “Sejak erupsi tahun lalu, jalur puncak ini menjadi tergerus. Saya takut jika hujan datang, material pasir terbawa oleh air dan jalur ini akan hilang..” Ucapnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh beliau. Itulah sebabnya mengapa pasir Mahameru tidak tampak seperti biasanya. Nampak lebih melelahkan untuk di pijak. Akhirnya hanya saya dan seorang teman yang berhasil muncak. Satu orang lagi memilih stay di jalur Mahameru untuk menunggu, karena kelelahan. “Someday friends, Someday..”

“It is not the mountain we conquer, but ourselves” — Sir Edmund Hillary

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Pulau Semak Daun “Sunset View” in VR360°

Project ini sudah ada di dalam hardisk selama lebih dari 8 bulan lalu. Saya buat ini bulan Februari saat saya diminta menemani beberapa pasang teman yang ingin mencoba sensasi camp di pulau tak berpenghuni. “God bless us!“; Sunset sore itu sunggu indah, gradasi awan kuning kebiruan ditambah semburat sinar matahari membuat rona kemerahan di langit. Spot ini sebenarnya ada di sebelah barat Pulau Semak Daun, (pulaunya terdapat di belakang talent pada panorama). Berupa pasir berkarang yang timbul saat air laut surut. Pada panorama ada beberapa teman yang menjadi talent foto :). Enjoy!

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Click Image to see Pulau Semak Daun “Sunset View” in VR360°


Pulau Tidung Kepulauan Seribu in VR360°

Pulau Tidung, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta yang tidak sepi pengunjung tiap minggunya yang juga pulau destinasi paling di tuju oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Hampir 1500 orang tiap minggunya memadati pulau tersebut. Finally dari kali sekian saya mengunjungi gugusan kepulauan seribu, Pulau Tidung lah yang menjadi tujuan saya minggu kemarin. Dan seperti biasa saya pasti membuat Panorama Virtual Tour 360°, agar para visitor serasa berasa disana saat mengakses Virtual Tour ini. Di VR360° kali ini ada beberapa titik, diantaranya: 3 spot di Jembatan penghubung antara Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil dan satu lagi di Spot Gosong (Pulau Pasir Putih) di dekat dengan Pulau Payung (spot snorkeling). Enjoy!

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Click Image to see Pulau Tidung in VR360°


Complete Anak Krakatau in VR360°

Setelah beberapa kali mengunjungi Cagar Alam Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, pekerjaan rumah membuat virtual tour 360° terselesaikan. Walaupun pengambilan gambar dilakukan di hari dan waktu yang berbeda, paling tidak bisa membuat anda yang mengunjungi blog ini dan melihat virtual tour ini membayangkan serta berasa berada disana. didalam VR360° ini terdapat beberapa scene atau tempat, diantaranya, Pulau Sebuku, Pulau Umang umang, Pulau Sebesi, dan Anak Krakatau sendiri. Virtual tour ini juga masih banyak kekurangan, I’m still have much learn to create a perfect VR360°. I wish this VR360 could help you to gave a reference about wonderful places in Indonesia, Enjoy!

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Click Image to see Anak Krakatau Virtual Tour


Kalimati Camp Site, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru in VR360°

Akhir Agustus 2012 lalu saya untuk ketiga kalinya mendaki Gunung Semeru, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Lumajang Jawa Timur. Dengan tujuan mengantar beberapa teman yang memang ingin sekali menikmati keindahan Gunung Semeru yang terkenal sebagai tanah tertinggi Pulau Jawa dan juga Ranu Kumbolo yang tersohor itu. Dan dibawah adalah salah satu Pos atau Camp Site di Gunung Semeru yaitu Kalimati. Pos terakhir yang terbesar untuk Camp sebelum pendakian puncak Mahameru, saya sajikan dalam bentuk VR360° atau 360° Panorama Photography.

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

click Image to see Kalimati Camp Site in VR360°

intro Image


Gunung Prau : A Golden Sunrise

Gunung Prau merupakan salah satu dari beberapa gunung yang ada di kawasan dataran tinggi Dieng (Dieng Plateau). Gunung Prau memiliki ketinggian 2.565 mdpl tertinggi dari beberapa gunung yang ada dikawasan Dieng yaitu Gunung Pakuwaja (2.395 mdpl) dan Gunung Sikunir atau biasa disebut bukit Sikunir 2.263 mdpl. Masih banyak gunung gunung di Kawasan Dataran Tinggi Dieng seperti yang saya baca di salah satu blog teman saya yang merupakan masyarakat lokal Dieng, hanya saja kurang terekspos dan kurangnya tentang informasi tersebut jadi hanya sebagian masyarakat saja yang mengetahui secara detail mengenai gunung gunung tersebut. Gunung Prau menjadi bagian dari 3 Kabupaten (sesuai dengan beberapa patok/batas daerah sepanjang jalur Gunung Prau dari jalur Kejajar, Dieng Wetan) yaitu Wonosobo, Kendal, & Batang. Dan hanya ada 2 jalur umum yang biasa digunakan oleh pendaki atau wisatawan yang hendak berkunjung kesana yaitu melalui Kejajar (SMP 2) Dieng Wetan, atau dari Patakbanteng.

Gunung Prahu (Perahu [Indonesia], Boat [English]) adalah nama asli dari gunung Prau, mengapa demikian karena menurut masyarakat Dieng gunung tersebut berbentuk seperti perahu terbalik. Mungkin karena penyebutan masyarakat setempat atau masyarakat non Dieng terdengar seperti Prau (kata serapan) yang menjadikan Prau lebih familiar di dengar sebagai nama oleh masyarakat kebanyakan; dan ini hanya pendapat saya saja :).

Wisatawan kebanyakan hanya mengetahui Bukit Sikunir, Gardu Pandangtieng atau Kawasan Candi Pandawa Lima sebagai spot menikmati sunrise di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Di Puncak Gunung Prau juga salah satu tempat yang tidak kalah oke untuk menikmati sunrise. Golden sunrise yang tertoreh pada horizon di ufuk timur, ditambah siluet si-kembar Gunung Sindoro & Gunung Sumbing, serta Gunung Merapi & Gunung Merbabu di kejauhan membuat Gunung Prau sebagai salah satu spot sunrise terbaik di Kawasan Dataran Tinggi Dieng, atau mungkin di Indonesia 🙂

 

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.