Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

Posts tagged “Panorama

100 Virtual Reality 360° of Indonesia

Teaser-100_VR360_Pesona-Indonesia_Danar-Tri-Atmojo

 

Update September 2019: All links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Sudah cukup lama setelah tidak memperbaharui blog post dengan Virtual Reality. Sampai ada beberapa pembaca yang kemudian komen disalah satu channel media sosial saya, yang menyuruh saya untuk kembali meng-update blog yg mulai tenggelam ini :D.

(more…)


#IndonesiainVR360Project : Kenawa in VR360°

KenawaIntroImageclick on image to view Kenawa in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

#IndonesiainVR360Project : Pulau Kelapa in VR360°

DTA-nnkq-Kiluan_#IndonesiainVR360Project

click on image to view Pulau Kelapa in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : Ijen Crater in VR360°

Ijen Crater in VR360°

click on image to view Ijen Crater in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : Taman Nasional Baluran in VR360°

Taman Nasional Baluran in VR360°

click on image to view Taman Nasional Baluran in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : Bromo in VR360° view

Bromo in VR360°

click on image to view Bromo in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : The Video

Video ini dibuat dari keseluruhan perjalanan di penghujung tahun 2012 dan awal 2013. Dari Bromo, Baluran, Ijen, Tulamben, Amed, Balian, Menjangan. Dibuat oleh seorang sahabat Acionk. Enjoy!


The End meet The Beginning : Pulau Menjangan – Wall Freedive and Drift Freedive

Tempat yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi mereka yang suka scuba diving. Salah satu dari sekian banyak spot scuba diving yang ada di pulau dewata. Dan karena alasan itu pula kami merencanakan jalan jalan di akhir tahun 2012, karena menjangan lah kami semua berangkat..

Menjangan sendiri punya beberapa titik penyelaman diantaranya, Pos 1, Cave Point, Pos 2, Bat Cave, Temple Point, Coral Gardens, Anchor Wreck, dan Eel Gardens. Hampir semua titik berupa wall atau tembok karang yang menjulur ke kedalaman. Tidak semua titik kami selami, Bat Cave, Coral Garden, dan Temple Point saja yang kami kunjungi. Itu saja membuat kami betah di dalam air.

Bat Cave menyajikan tembok karang luar biasa dengan banyak ragam biota di dalamnya. Bagi kamu yang kurang berani Wall Dive tanpa alat scuba bisa coba Coral Garden sampai Temple Point. Titik tersebut terdapat arus tenang yang bisa membawa kamu perlahan mengikuti arus atau bisa disebut Drift Dive. Kontur nya berupa hamparan karang yang kedalamannya hanya 5 – 10 meter. Jadi bisa untuk sekedar snorkeling atau recreational freedive. Kami banyak bertemu biota yang sebelumnya belum kami temui di laut dangkal, salah satunya Spanish Dancer. Spanish Dancer adalah keluarga Nudi Branch atau siput laut yang bisa mengambang di air, saat dia mengambang itu terlihat seperti penari spanyol dengan kibasan rok nya.

 

 

PS: Travel Note: Menikmati Keindahan Bawah Laut Pulau Menjangan @freemagz

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : Ijen – antara Pariwisata dan Ladang Nafkah

Siapa yang tidak tahu Kawah Ijen? Masyarakat Indonesia pasti tahu Kawah Ijen. Bahkan Kawah Ijen pernah masuk dalam film “War Photographer” kisah seorang fotografer dan sekaligus jurnalis terkenal James Nachtwey dalam mengabadikan perang-perang dan tragedi yang ada di dunia.

Kawah ijen adalah sebuah kaldera Gunung Ijen (2600mdpl) yang terdapat danau dipuncaknya dengan kedalaman -+200m berisi asam sulfat. Kaldera tersebut juga aktif dan menghembuskan gas belerang dimana sampai sekarang gas tersebut di manfaatkan oleh penampang lokal untuk mencari nafkah. Gas gas yang menguap dan kemudian mengembun dilarikan melalui pipa-pipa besi dan drum bekas, embun merah keemasan akan mengalir ke belerang disekitarnya menciptakan belerang keras murni yang siap di olah. Mereka bisa membawa 80-100kg belerang sekali jalan. Dan mereka biasanya bisa 2-3 kali jalan dalam sehari demi Rp. 400 – Rp. 600 per KG.  “Tidak siang atau malam asal target sudah terpenuhi kami sudahi” kata seorang penambang yang saya tanya diperjalanan. Saat malam jalur menuju kawah setelah pos penimbangan tidak terdapat penunjuk yang jelas; kanan dan kiri menganga jurang menuju kawah tidak ada pembatas. Belum lagi jika angin mengarah ke selatan yang membawa kepulan gas belerang, menambah tertutupnya jalur.

Disisi lain saat matahari nampak di ufuk timur, tidak sedikit wisatawan yang datang untuk mengabadikan lanskap Kawah Ijen terlebih di musim liburan. Memang indah “lukisan” Ijen saat pagi. Dan pasti banyak juga wisatawan yang mengabadikan para penambang dalam framenya, termasuk saya.

“The worst thing is to feel that as a photographer I’m benefiting from someone else’s tragedy. This Idea haunts me. It’s something I have to reckon every day, because I know that if I ever allow genuine compassion to be overtaken by personal ambition, I will have sold my soul. The only way I can justify my role is to have respect for the other person’s predicament. The extent to which I do that is the extent to which I become accepted by the other and to that extent I can accept myself.” James Nachtwey – 1991

to be continued..

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

The End meet The Beginning : Taman Nasional Baluran – Africa Van Java

Tak melulu harus ke Taman Nasional Kruger di Afrika Selatan, atau Taman Nasional Nairobi di Kenya untuk menikmati savana gersang, panas, dan fauna liar lalu lalang di sekitarnya. Indonesia pun punya lanskap dengan keadaan seperti itu. Africa Van Java predikat yang disematkan untuk Taman Nasional Baluran di Situbondo Jawa Timur. Walaupun fauna yang ada tidak seperti taman nasional di Afrika pada umumnya yang menunjukkan rantai makanan dari yang paling rendah hingga puncak, TN Baluran menjadi surga dan rumah bagi banyak burung, Banteng, Rusa, dan kera seperti yang saya baca dari blog seorang aktivis birdie yang juga seorang aktivis TN Baluran mas Swiss Winasis (http://pratapapa81.wordpress.com). Beliau juga sukses mengkatalogkan burung burung yang ada di TN Baluran dan mempublikasikan dalam sebuah buku. Selamat mas Wis!

Saya sukses menikmati dua atmosfir saat mengunjungi TN Baluran. Saat pertama tiba kami memang terlalu malam sampai disana tetapi menjadi keuntungan sendiri karena kami bisa menikmati Safari Night TN Baluran dari pintu masuk sampai lokasi penginapan disekitar Pantai Bama. Ditemani dua petugas TN Baluran di perjalanan kami disuguhi pemandangan yang memang saya sendiri belum pernah merasakan. Dikelilingi hutan tropis kering dikanan kiri dan fauna dari burung, ular, landak, burung merak, kera yang memang lalu lalang disekitar perjalanan. Karena faktor itu pula kami meminta petugas TN Baluran yang sudah paham dengan keadaan sekitar untuk menemani karena kami pun tidak ingin mengganggu habitat mereka.

Kalau safari malam sudah kami cicipi, siangnya kami eksplore kembali TN Baluran. Keluar sedikit dari lokasi pantai Bama kami disambut kera hitam (seperti lutung saya tidak tau jenisnya :D) bergerombol dan sedikit takut dengan kehadiran dan suara mobil kami. Savana Bekol yang terkenal dari TN Baluran dengan background Gunung Baluran serta langit biru bergradasi dengan hijau hutan Baluran senyum kepada kami. Aahh ini indah… untuk melihat keseluruhan landskap TN Baluran lebih enak dilihat dari tower yang berada dekat kantor informasi sekitar savana Bekol. Dari atas kami bisa melihat keseluruhan Baluran dari sebelah timur yang dibatasi laut dan barat dengan Gunung Baluran nya. Dari atas pun kami bisa melihat schooling Rusa yang sedang berkubang dan juga banteng yang menjadi lambang TN Baluran.

Taman Nasional Baluran sukses membuat saya sejenak berimaji liarnya alam di Afrika.
Next time, bawah air TN Baluran harus saya cicipi..

to be continued..

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
http://nnkq.wordpress.coom / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

The End meet The Beginning : from Gajah Mada Sacred Place to the Land of God

Bersambung dari post sebelumnya, perjalanan 7 orang teman selama 7 hari ke 7 destinasi berbeda dimulai dari air terjun Madakaripura. Air terjun yang alkisah sebagai tempat pertapaan Jendral Besar Kerajaan Majapahit, Patih Gajah Mada. Tempat ini sakral bagi masyarakat sekitar mengingat sejarahnya silam. Madakaripura masuk kedalam kecamatan Lumbang administratif kabupaten Probolinggo dan ternyata juga masih masuk kedalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kenapa Madakaripura menjadi destinasi pertama? seorang kawan, AA saya menyebutnya; dia penasaran dengan landskap Madakaripura.Dia ingin singgah kesini sebelumnya saat berkunjung ke Bromo; hanya saja entah kenapa dia tersasar ke Air Terjun Coban Pelangi yang arahnya 180° terbalik dengan arah menuju Madakaripura. Pity you bro.. 😀

3 Jam perjalanan dari Surabaya sudah terlalu sore saat kami sampai di pintu masuk kawasan air terjun Madakaripura, dan hujan pun turun. Sudah menjadi prosedur pengelola air tejun jika hujan turun kawasan akan ditutup dari pengunjung mengantisipasi debit air yang meningkat di sekitar air terjun. Poor us!! untuk kedua kalinya AA gagal menyambangi Madakaripura.

lessons to be learned : Datanglah pagi jika ingin ke Madakaripura. Disamping waktu yang bagus untuk mengabadikan momen & landskap dan juga mengantisipasi seperti yang kami alami..

Narsiscus Landscapus

“Bromo yuk!” celetuk seorang teman. RR dan 2 orang teman kami memang belum pernah merasakan dinginnya kaldera purba Bromo; sore itu pun kemudi mobil dibelokan ke Bromo. Tujuan yang sebelumnya ingin menghabiskan sore dengan bermain air, berputar menjadi main dingin. Celana pendek, kaos tanpa jaket itu yang kami gunakan. Terbayang sore Bromo yang terkenal dinginnya kontras dengan apa yang kami kenakan.

” We really do fun! – dancing on sea sand – cold – friends – savanna – Bromo – freezing – narcistic – Jeep – horse ”

“A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving.” – Lao Tzu

 

to be continued..

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Mount Bromo : Land of God

 

Look Love Learn Indonesia
License & Print photo Available 
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Madakaripura Waterfall : Sacred Place in 1st Suro

Berjarak 3 Jam perjalanan menggunakan mobil dari Surabaya, air terjun ini terkenal dengan legenda tempat bertapanya Patih Gajah Mada; Jendral besar pada masa Kerajaan Majapahit. Tepat 1 Suro (tahun 2012 penanggalan Masehi) kemarin saya kesana. Tanggal yang sebenarnya dengan tidak sengaja bertepatan tanggal 1 Suro penanggalan Jawa atau 1 Muharam penanggalan Islam. Bagi sebagian masyarakat Lumbang, Probolinggo atau masyarakat yang masih kental memegang teguh budaya Jawa, tanggal 1 Suro merupakan saat-saat dimana mereka akan mengkeramatkan tempat-tempat, benda, pusaka yang mereka anggap sakral. Untuk hal ini tidak terkecuali Air Terjun Madakaripura yang terkenal dengan Gajah Mada-nya. Tepat di depan patung Gajah Mada, masyarakat memberikan sesaji dan juga memanjatkan doa-doa agar mereka diberi keberkahan serta kemakmuran.

Prosesi persembahan dilangsungkan pada tepat tanggal 1 Suro, diikuti oleh beberapa tetua adat setempat serta masyarakat. Persembahan juga disertai nyanyian Gamelan asli Probolinggo beserta Sindennya, mereka bersuka cita dari tua sampai muda.

Salam,

Look Love Learn Indonesia

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

 


Pahawang – Kelagian – Tanjung Putus

Citra Satelit Pulau Pahawang (Courtesy Google.com)

Pahawang-Kelagian-Tanjung Putus, satu paket destinasi yang pasti & harus disambangi jika kamu sedang berada di Lampung. Berada di Lampung Selatan tiga tempat ini menawarkan gugusan pulau dan pantai yang belum banyak orang kunjungi. Dan juga menawarkan opsional destinasi di propinsi paling selatan pulau Sumatera. Seperti gambar diatas (ter-marker biru) adalah pulau Pahawang, yang konon lambang produsen komputer & gadget terkenal asal Palo Alto, Apple Inc. terinspirasi dari citra satelit pulau pahawang; tetapi belum ada kebenaran yang terdengar dari isu tersebut.

Posisi pulau yang berada menjorok ke daratan membuat perairan disini sangat tenang, terlebih saat menyebrang dari daratan Sumatera (Pelabuhan Ketapang, Lampung) ke Pulau Kelagian. Cocok buat kalian yang memang suka bermain air alias skindive/snorkeling. Belum banyak penginapan yang tersedia disini. Saat saya kesana, saya dan teman-teman menggunakan tenda dan beberapa tidur di pondokan yang tersedia di pulau Kelagian Besar. Di pulau Kelagian Besar tersedia MCK yang dibangun oleh penduduk setempat, jadi jangan takut tidak bisa mandi :D.

Salam,

Look Love Learn Indonesia

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Pulau Semak Daun “Sunset View” in VR360°

Project ini sudah ada di dalam hardisk selama lebih dari 8 bulan lalu. Saya buat ini bulan Februari saat saya diminta menemani beberapa pasang teman yang ingin mencoba sensasi camp di pulau tak berpenghuni. “God bless us!“; Sunset sore itu sunggu indah, gradasi awan kuning kebiruan ditambah semburat sinar matahari membuat rona kemerahan di langit. Spot ini sebenarnya ada di sebelah barat Pulau Semak Daun, (pulaunya terdapat di belakang talent pada panorama). Berupa pasir berkarang yang timbul saat air laut surut. Pada panorama ada beberapa teman yang menjadi talent foto :). Enjoy!

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Click Image to see Pulau Semak Daun “Sunset View” in VR360°


Pulau Tidung Kepulauan Seribu in VR360°

Pulau Tidung, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta yang tidak sepi pengunjung tiap minggunya yang juga pulau destinasi paling di tuju oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Hampir 1500 orang tiap minggunya memadati pulau tersebut. Finally dari kali sekian saya mengunjungi gugusan kepulauan seribu, Pulau Tidung lah yang menjadi tujuan saya minggu kemarin. Dan seperti biasa saya pasti membuat Panorama Virtual Tour 360°, agar para visitor serasa berasa disana saat mengakses Virtual Tour ini. Di VR360° kali ini ada beberapa titik, diantaranya: 3 spot di Jembatan penghubung antara Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil dan satu lagi di Spot Gosong (Pulau Pasir Putih) di dekat dengan Pulau Payung (spot snorkeling). Enjoy!

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Click Image to see Pulau Tidung in VR360°


Complete Anak Krakatau in VR360°

Setelah beberapa kali mengunjungi Cagar Alam Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, pekerjaan rumah membuat virtual tour 360° terselesaikan. Walaupun pengambilan gambar dilakukan di hari dan waktu yang berbeda, paling tidak bisa membuat anda yang mengunjungi blog ini dan melihat virtual tour ini membayangkan serta berasa berada disana. didalam VR360° ini terdapat beberapa scene atau tempat, diantaranya, Pulau Sebuku, Pulau Umang umang, Pulau Sebesi, dan Anak Krakatau sendiri. Virtual tour ini juga masih banyak kekurangan, I’m still have much learn to create a perfect VR360°. I wish this VR360 could help you to gave a reference about wonderful places in Indonesia, Enjoy!

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Click Image to see Anak Krakatau Virtual Tour


Kalimati Camp Site, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru in VR360°

Akhir Agustus 2012 lalu saya untuk ketiga kalinya mendaki Gunung Semeru, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Lumajang Jawa Timur. Dengan tujuan mengantar beberapa teman yang memang ingin sekali menikmati keindahan Gunung Semeru yang terkenal sebagai tanah tertinggi Pulau Jawa dan juga Ranu Kumbolo yang tersohor itu. Dan dibawah adalah salah satu Pos atau Camp Site di Gunung Semeru yaitu Kalimati. Pos terakhir yang terbesar untuk Camp sebelum pendakian puncak Mahameru, saya sajikan dalam bentuk VR360° atau 360° Panorama Photography.

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

click Image to see Kalimati Camp Site in VR360°

intro Image


Pulau Biawak : Surga yang Terlupakan

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia dan dunia, Indonesia adalah surga bawah laut. Hampir ¾ dari keseluruhan spesies ada di Indonesia. Indonesia juga dikenal sebagai negara 1000 pulau. Bagaimana tidak bagian negara ini terpisahkan oleh lautan dan terpecah menjadi 6 pulau besar dan hampir 17.000 pulau pulau kecil. Tidak dipungkiri Indonesia bagian timur memang surga dari surganya bawah laut. Hamparan Soft Coral & Hardcoral yang terjaga serta spesies yang beraneka ragam. Tapi bagi sebagian orang yang tinggal dipulau jawa untuk berkunjung kesana tidak memakan waktu & biaya yang sedikit, dari itulah bagi sebagian orang harus pintar pintar mencari spot alternatif untuk menikmati indahnya bawah laut Indonesia.

“Dimana kita bisa menemukan spot bawah air dan pulau yang tidak jauh [dari Jakarta] dan tidak memakan banyak waktu serta biaya?” pertanyaan yang mungkin sering mengisi kepala bagi sebagian traveller/backpacker/jejalan yang juga seorang pekerja [mungkin] yang tidak memiliki banyak waktu. Adalah Pulau Biawak [5.926142°LS 108.379898°BT] jawabannya, pulau yang berada di 40km Utara pesisir Jawa Barat ini merupakan salah satu dari sekian banyak pulau Indah yang ada di Indonesia. Masuk kedalam administratif Kabupaten Indramayu Jawa Barat, Pulau Biawak menawarkan keindahan bawah laut yang tidak kalah dengan tempat lainnya di Indonesia. Memang masih jarang orang mendengar atau mengetahui pulau ini. Nama Biawak diberikan oleh nelayan sekitar yang hendak istirahat atau singgah dipulau ini yang kemudia oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu diubah dan disahkan namanya menjadi Pulau Biawak. Nama awal pulau ini adalah Pulau Byompies yang diberikan oleh pemerintah Belanda saat itu pimpinan Z. M. Willem III. Pemerintah Belanda juga membangun mercusuar setinggi 65 meter pada tahun 1872, sampai saat ini mercusuar tersebut masih berfungsi sebagai tanda kapal kapal yang melintas disekitar pulau Biawak. Mungkin ada akan bertanya, jika mercusuar masih digunakan maka ada yang mengoperasikan dong? ya betul. Penghuni tetap disana adalah seorang pegawai Departemen Perhubungan Laut bagian Navigasi. Pak Sumanto namanya, sudah bekerja di Departemen Perhubungan sejak tahun 80 kemudian dikirim ke Pulau Biawak pada tahun 1988. Beliau berstatus pegawai negeri yang tinggal disana dalam kurun waktu tertentu untuk mengoperasikan, merawat mercusuar untuk kepentingan perjalanan laut. Terakhir saya kesana, beliau sudah di Pulau Biawak selama 4 bulan.

Kepulauan Biawak terdapat 3 pulau yaitu Pulau Biawak, Pulau Gosong, dan Pulau Candikian. Pulau Biawak pulau yang terdekat dari pesisir Jawa. untuk mencapai pulau Gosong ditempuh dalam 1jam dengan cuaca laut normal menggunakan kapal tradisional. dan -+ 2 jam untuk menuju ke pulau Candikian.

Pulau Gosong

Pulau ini lebih kecil dan tidak berpenghuni, tidak seperti pulau Biawak yang masih tertutup hutan, mangrove dan hewan lainnya. di Pulau Gosong hanya tersisa tanaman pantai. Pulau ini terlihat seperti pasir lautan yang terangkat saat laut surut. pulau ini menakjubkan bagi saya, karena hanya beda satu langkah dari bibir pasir pulau air lautan berisi hamparan coral yang luas [benar benar luas] dan dangkal. jadi kita harus hati hati jangan sampai merusak biota laut jika kita ingin melihat [snorkling] biota laut tersebut “Don’t Ever ever touch Them

Pulau Candikian

Pulau Candikian berada di paling utara dari gugusan 3 pulau ini. Saat saya berkunjung ke pulau biawak saya tidak sempat untuk berkunjung ke pulau Candikian karena cuaca yang tidak memungkinkan. namun dari cerita teman yang orang Indramayu ditambah informasi dari Bapak Darji [nelayan handal] yang membawa kapal kami, Pulau Candikian sekarang tidak lagi berbentuk pulau, dataran yang dulu ada sekarang sudah tenggelam oleh air laut. yang tersisa hanya hamparan karang dangkal seperti Pulau Gosong.

Biawak [Varanus salvator]

Biawak atau nama latinnya Varanus salvator berjumlah ratusan dalam berbagai ukuran ini hidup di hutan lembab Pulau Biawak. Predator yang masih bersaudara dengan komodo ini masih dipertanyakan tentang asal muasal keberadaannya. Banyak mitos yang berkembang mengenai hal ini. Banyak juga cerita cerita yang bisa anda dapatkan saat mengetik pulau Biawak pada teksboks pencarian search engine google. Saat saya bertanya kepada pak Sumanto, beliau pun belum benar benar mengerti kapan dan oleh siapa dan bagaimana biawak bisa ada dipulau tersebut.

Banyak juga para pendatang yang melakukan ritual ritual tertentu di pulau ini, atau aroma mistis dipulau ini juga masih sangant kental. Ditambah ada Makam Seorang syekh yang saya lupa namanya, kemudian sumur tua berwarna merah, makam seorang belanda yang tidak dikenal. tetapi, “Dimana Bumi berpijak disitu Langit diJunjung

Pulau Biawak in VR360°

Saya sempat membuat dokumentasi Pulau Biawak dan Pulau Gosong dalam bentuk Virtual Reality 360°. untuk mengaksesnya, cukup klik gambar dibawah 🙂

How To Get There

– Dari Jakarta menuju Indramayu

– Bila menggunakan Bus umum dari Jakarta, berhenti di Pertigaan Celeng [jalur lama pantura] lanjut menggunakan Elf [pagi – sore] atau ojek jika sampai disana malam hari.

– Pelabuhan Karangsong Indramayu adalah titik keberangkatan kapal menuju Pulau Biawak

Salam

DTA

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2012 All Rights Reserved. https://nnkq.wordpress.com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Anak Krakatau 360° Panorama

Anak Krakatau VR360°

click on image to view Anak Krakatau in VR360º

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Virtual Tour

Terakhir kali Desember kemarin saya kembali ke TNBTS. Sekedar berkemah di Ranukumbolo melepas kepenatan ibukota. Disana saya sempat membuat beberapa Virtual 360 untuk beberapa tempat atau pos di jalur pendakian Gunung Semeru. Dan baru hari ini saya selesaikan karena memang baru punya hosting untuk menyimpan filenya :D. Berikut Virtoual Tour dari Ranukumbolo sampai Pos Cemoro Kandang

Selamat Menikmati

Look, Love, & Learn Indonesia

All Photo & Material by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Ranukumbolo : Lying Underneath the Misty Sky

Dan kamipun akhirnya terlelap dibuai sejuknya angin, dibawah awan berkabut dan dinginnya tanah Ranukumbolo..

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Mungkin itulah kalimat yang bisa mengungkapkan bagaimana saya dan seorang teman saat berkunjung ke Ranukumbolo. Danau yang berada di ketinggian 2400 mdpl dan juga terletak dijalur pendakian menuju Gunung Semeru (3676mdpl) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Lumajang Jawa Timur, memang serasa rumah untuk saya. Kali kedua saya menapakkan langkah kecil ini disalah satu torehan kuasNya. Dan Ranukumbolo selalu sukses membuat memori yang tidak bisa hilang di benak saya. Dingin angin, panasnya matahari pagi, hijau rerumputan bukit teletubbies, jernihnya air selalu membuat ingin lagi lagi lagi lagi lagi dan lagi untuk kembali merebahkan kepala disana.

Pada kesempatan kedua ini memang kami sengaja hanya ingin sampai di Ranukumbolo untuk sekedar kemping ceria :D, walaupun buddie saya (untuk selanjutnya saya sebut Ade) belum pernah menapakkan langkah di tanah tertinggi Jawa yaitu puncak Mahameru, tak lari gunung dikejar kata pepatah. jika memang masih diberi kesempatan, kami pasti kembali lagi.

Kami berdua berangkat ditanggal yang berbeda menuju Malang. Ade berangkat tanggal 19/12/11 sementara saya tanggal 20/12/11 karena saya harus menyelesaikan pekerjaan. Dan Ade pun karena harus menyelesaikan urusan dulu di Yogyakarta. Singkat cerita Ade sampai di Malang Tanggal 20 sementara saya masih berada di ular besi (baca : kereta) menuju malang. menggembel merupakan kata yang tepat untuk mengungkapkan Ade saat itu :D. Seperti sebuah tulisan yang berada di kaos seorang sahabat saya, “Tuhan bersama orang-orang pemberani“; 2 orang yang tidak dikenal yang juga seorang pendaki (Supri & Uut) bertemu Ade saat itu di stasiun dan mereka menawarkan untuk berangkat bareng ke Ranupani (desa terakhir sebelum naik Semeru). terbukti Tuhan selalu membantu kita dimanapun kita berada.

21/12 saya sampai di Malang, mereka bertiga sudah menunggu saya di sebuah warung pojok dilingkungan stasiun. Tak lama bincang bincang kami langsung cari kendaraan menuju Tumpang, sebuah pasar yang menjadi pangkalan Jeep yang akan membawa kami ke Ranupani. Salah satu kendala untuk berkunjung ke Semeru adalah mahalnya biaya kendaraan yang bisa membawa para pendaki menuju Ranupani. Apalagi untuk kami yang hanya berempat. Kembali, GOD Save Us All! kami bertemu rombongan pendaki asal ITB Bandung yang jumlahnya 14 orang; “ga pake lama, lobi langsunggg” kami bernegosiasi kemereka untuk share jeep mereka dan kami agar share cost yang dikeluarkan lebih sedikit ketimbang hanya kami berempat.

awan hitam menghiasai perjalanan kami menuju ranupani siang itu, terbukti tak lama kami “umpel umpelan” dibelakang jeep titik titik air turun. Cukup deras hujan saat itu. Layaknya hewan ternak hanya beratapkan terpal bolong dibelakang jeep kami menuju ranupani. Itulah seni dan nikmatnya mendaki ke semeru. terombang ambing dibelakang kendaraan beroda gerigi. Mungkin kita para pendaki saat ini harus lebih bersyukur ada kendaraan yang bisa membawa kita menuju ke ranupani. Mungkin dulu Soe Hok Gie dan sahabat harus berjalan kaki menuju ranupani, sekali lagi itu mungkin lho 😀

Pukul 15.00 waktu setempat saat jeep memarkirkan roda tepat didepan kantor balai taman nasional di ranupani. waktu yang sudah cukup telat untuk melanjutkan perjalanan langsung trekking mengingat hujan juga belum reda. Sekedar menyarankan dan tidak bermaksud menggurui, jika teman teman berniat berkungjung ke Semeru ataupun kegiatan outdoor manapun jika memang memungkinkan dan ada kesempatan alangkah spend waktu yang lebih banyak. Tidak terburu buru itu adalah nikmat bagi saya pribadi. itulah yang melandasi saya, Ade, Supri, & Uut untuk stay semalam dulu di Ranupani dan tidak langsung lanjut trekking sekedar untuk menikmati suasana ranupani, aklimatisasi (kalau bahasa kerennya :p). mengingat badan juga lelah seharian berada di ular besi. oiya, salah satu peraturan TNBTS untuk para pendaki yaitu batas pendakian adalah jam 16.00 jika ada peristiwa yang terjadi karena ulah pendaki yang tidak mengindahkan peraturan TNBTS tidak bertanggung jawab.. Teman ITB yang bersamaan naik Jeep memutuskan untuk langsung start trekking saat itu, sementara kita leyeh leyeh ngopi ngopi bersama mae, mas Deden, dan warga sekitar.

Bercengkrama dengan warga sekitar itu indah. Melihat senyum dari wajah kesederhanaan mereka, candaan, tungku masak tradisional yang bisa menghangatkan kami dan mereka (pendapat pribadi :)).

Pagi itu cerah, waktu yang ditunggu untuk start trekking menuju ranukumbolo. Jam 5 sudah cukup terang disana, beda dengan ibukota yang lebih barat ketimbang ranupani. Singkat cerita kami sampai di Ranukumbolo pukul 11. takjub, kaget dan gembira bagi Ade, Supri, & Uut yang kali pertama mereka menapakkan langkah kecil di ranukumbolo. Panas terik dicampur sejuknya udara gunung menghiasi makan siang saat itu. ya, Hal yang pertama uut & supri lakukan saat itu makaaaaannn!! mereka langsung mengeluarkan nesting dan perlengkapannya. Sementara saya masih menikmati horizon ranukumbolo. Ade? Apalagi kalau bukan bengong dan sangat takjub. mengapa? karena salah satu racun yang mengilhami dia untuk datang ke ranukumbolo adalah karena sebuah buku kalau tidak salah berjudul “5 cm” karena itu dia meminta saya untuk menemaninya ke Ranukumbolo.

klik, untuk melihat Ranukumbolo dalam versi 360°

Uut & Supri yang awalnya mengira niat kami untuk sampai puncak ternyata kaget pas mengetahui kami akan stay di ranukumbolo semalam siang itu. Kulkas (baca : Carrier) yang beratnya mungkin sama dengan berat 1 sak semen yang saya bawa dari ranupani sukses membuat malas untuk melanjutkan menuju kalimati, itu juga karena ajakan Ade untuk stay semalam di ranukumbolo. Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan menuju kalimati, dan kami? dirikan tenda dan tidurr 😀 😀 :D. Hanya kami berdua pendaki yang mendiami ranukumbolo saat itu, sepi heningnya ranukumbolo baru kali itu saya rasakan. Ada beberapa pendaki yang lewat dan sekedar istirahat untuk turun ke ranupani dari kalimati. setelah itu sepi lagii. Its like a private lake.. Sepinya ranukumbolo juga terkadang membuat kami merasa “tidak sendirian” satu hal yang membuat kami selalu was was dan ear sensitive jika mendengar suara suara yang sedikit aneh. Tidak lama matahari rebah di ufuk barat ada sekelompok pendaki asal malang yang turun dari kalimati dan akan stay semalam di ranukumbolo. “Akhirnya ada temen juga” ujar Ade :D. Kopi, Indomie, & Singkong goreng perekat kebersamaan kami berlima. Ngobrol panjang lebar dengan salah satu dari mereka yang ternyata berasal dari Lampung yang sedang singgah di Semeru dalam perjalanannya mengelilingi Indonesia menggunakan Pit Kebo (baca : Sepeda Ontel jenis wanita), salut untuk dia yang akrab disapa Ronny.

Moment terindah saat berada di ranukumbolo adalah menikmati si bulat kuning panas (baca : sunrise) di cerukan tepat ditimur ranukumbolo. Keluar tenda dan ranu masih berselimut kabut, rerumputan masih berhias embun sampai matahari naik menghangati kami, tak lupa segelas kopi hangat wow.. Honestly, i can find the right words to describe the atmosphere moment at that time.. Percaya tidak percaya kami berdua menikmati saat itu sampai hampir jam 11, terbayang panasnya jika berada di kota besar. Tidak aneh kulit kami hitam dan mengelupas setibanya kami di ibukota. Tapi itu nikmat..

Kembali hanya berdua karena teman teman dari Malang sudah melanjutkan trekking kembali ke Ranupani. Makan sudah, minum sudah, sunbathing 😀 sudah, kami kehabisan ide mau apa lagi setelah ranukumbolo & sisa pegal karena kulkas kemarin sukses kembali membuat mood males untuk melanjutkan ke kalimati. akhirnya kami berniat untuk jalan jalan sampai cemoro kandang dengan posisi tenda dan barang barang lain ditinggal di ranukumbolo. gambling memang ngeri kenapa kenapa. karena kalau seisi tenda hilang, habislah kita. just positive, ya berfikir positif saja tidak kenapa kenapa. Tanjakan Cinta, Oro Oro Ombo, & Cemoro Kandang merupakan tempat yang kami tuju. Hanya “Happy Shutter” menikmati landscape hijau dan mendung awan disana..

klik, untuk melihat Tanjakan Cinta dalam versi 360°

klik, untuk melihat Oro Oro Ombo dalam versi 360°

 

klik, untuk melihat Oro Oro Ombo dalam versi 360°

Sebaliknya kami dari Cemoro Kandang, ranukumbolo masih milik kami berdua. tidak ada yang datang untuk naik ataupun turun. Kembali we’re lying underneath the misty sky (baca : tidur :D). Tak lama terdengar ramai ramai pendaki yang datang (naik). Private lake is no longer ours. ya rombongan pendaki dari malang sekitar 30 orang datang dari ranupani dengan tujuan sama, hanya camp di ranukumbolo. Riweh ramai sore itu. sementara kami masih meringkup didalam tas tidur..

Singkat cerita pagi datang kembali, kopi dan sunbathing lagi. hari ini hari terakhir di ranukumbolo. Ade mengajak saya untuk mengitari ranukumbolo, ide bagus karena saya pun belum pernah melakukannya. alhasil kami mengitarinya sambil “Happy Shutter”. PS: pake sendal atau sepatu gunung ya, jangan pake sendal jepit :p. Butuh +- 2jam kami untuk mengitarinya. Sampai kembali lagi ke tenda, 2 buddie kita turun dari kalimati. Uut & Supri berhasil kembali ke ranukumbolo setelah berhasil menapakkan langkah di puncak Para Dewa. Singkat cerita kami siap siap untuk kembali ke ranupani. Dalam perjalanan kami berpapasan dengan hampir 300 lebih pendaki yang menuju ranukumbolo; maklum weekend dan liburan natal saat itu.

Seperti post-post saya sebelumnya, saya bukan orang yang pintar mengolah kata. Jadi mungkin foto bisa bercerita lebih baik daripada saya. Hope you Enjoy it. Jika ada teman yang membutuhkan info tentang Gunung Semeru, feel free to contact me i can help you as far as i can.

 

Tetap jaga Bumi Indonesia.

Look, Like, & Learn Indonesia.

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Jakarta Old Town in 360°

Kota Tua Jakarta VR360°

Click on image to view Kota Tua Jakarta in VR360°

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


My Room in 360° Panorama Version

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.