Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

Posts tagged “Landscape

#IndonesiainVR360Project : Pulau Kelapa in VR360°

DTA-nnkq-Kiluan_#IndonesiainVR360Project

click on image to view Pulau Kelapa in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : Ijen Crater in VR360°

Ijen Crater in VR360°

click on image to view Ijen Crater in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : Taman Nasional Baluran in VR360°

Taman Nasional Baluran in VR360°

click on image to view Taman Nasional Baluran in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : Bromo in VR360° view

Bromo in VR360°

click on image to view Bromo in VR360°

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : The Video

Video ini dibuat dari keseluruhan perjalanan di penghujung tahun 2012 dan awal 2013. Dari Bromo, Baluran, Ijen, Tulamben, Amed, Balian, Menjangan. Dibuat oleh seorang sahabat Acionk. Enjoy!


The End meet The Beginning : Pulau Menjangan – Wall Freedive and Drift Freedive

Tempat yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi mereka yang suka scuba diving. Salah satu dari sekian banyak spot scuba diving yang ada di pulau dewata. Dan karena alasan itu pula kami merencanakan jalan jalan di akhir tahun 2012, karena menjangan lah kami semua berangkat..

Menjangan sendiri punya beberapa titik penyelaman diantaranya, Pos 1, Cave Point, Pos 2, Bat Cave, Temple Point, Coral Gardens, Anchor Wreck, dan Eel Gardens. Hampir semua titik berupa wall atau tembok karang yang menjulur ke kedalaman. Tidak semua titik kami selami, Bat Cave, Coral Garden, dan Temple Point saja yang kami kunjungi. Itu saja membuat kami betah di dalam air.

Bat Cave menyajikan tembok karang luar biasa dengan banyak ragam biota di dalamnya. Bagi kamu yang kurang berani Wall Dive tanpa alat scuba bisa coba Coral Garden sampai Temple Point. Titik tersebut terdapat arus tenang yang bisa membawa kamu perlahan mengikuti arus atau bisa disebut Drift Dive. Kontur nya berupa hamparan karang yang kedalamannya hanya 5 – 10 meter. Jadi bisa untuk sekedar snorkeling atau recreational freedive. Kami banyak bertemu biota yang sebelumnya belum kami temui di laut dangkal, salah satunya Spanish Dancer. Spanish Dancer adalah keluarga Nudi Branch atau siput laut yang bisa mengambang di air, saat dia mengambang itu terlihat seperti penari spanyol dengan kibasan rok nya.

 

 

PS: Travel Note: Menikmati Keindahan Bawah Laut Pulau Menjangan @freemagz

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission

The End meet The Beginning : Berawal dari iseng

Kadang dalam perjalanan jauh apalagi berkendara pasti ada jenuh, capek, mau istirahat benar? “Search nearby POI” kalau kata GPS ngasih saran ke kita. Berpegangan dengan prinsip “satu kali gas dua tiga tempat baru ditemui” diselipkan sedikit keisengan dan coba-coba pasti ada tempat baru yang bagus.

Pantai Balian, tempat bagus yang saya dan 6 teman saya kunjungi hasil dari cara diatas. Lihat plang/penanda kecil dipinggir jalan Raya Denpasar-Gilimanuk langsung coba untuk membelokkan steer. Ternyata memang tempat ini di sambangi oleh mayoritas wisatawan asing untuk surfing. Walaupun tidak setenar Dreamland atau Balangan, pantai yang berada dipesisir selatan pulau Bali ini cukup melepas lelah kami dengan lanskap pantai bertebingnya dan yang jelas menambah satu kosatempat buat kami.

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.

https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot].com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission


The End meet The Beginning : Ijen – antara Pariwisata dan Ladang Nafkah

Siapa yang tidak tahu Kawah Ijen? Masyarakat Indonesia pasti tahu Kawah Ijen. Bahkan Kawah Ijen pernah masuk dalam film “War Photographer” kisah seorang fotografer dan sekaligus jurnalis terkenal James Nachtwey dalam mengabadikan perang-perang dan tragedi yang ada di dunia.

Kawah ijen adalah sebuah kaldera Gunung Ijen (2600mdpl) yang terdapat danau dipuncaknya dengan kedalaman -+200m berisi asam sulfat. Kaldera tersebut juga aktif dan menghembuskan gas belerang dimana sampai sekarang gas tersebut di manfaatkan oleh penampang lokal untuk mencari nafkah. Gas gas yang menguap dan kemudian mengembun dilarikan melalui pipa-pipa besi dan drum bekas, embun merah keemasan akan mengalir ke belerang disekitarnya menciptakan belerang keras murni yang siap di olah. Mereka bisa membawa 80-100kg belerang sekali jalan. Dan mereka biasanya bisa 2-3 kali jalan dalam sehari demi Rp. 400 – Rp. 600 per KG.  “Tidak siang atau malam asal target sudah terpenuhi kami sudahi” kata seorang penambang yang saya tanya diperjalanan. Saat malam jalur menuju kawah setelah pos penimbangan tidak terdapat penunjuk yang jelas; kanan dan kiri menganga jurang menuju kawah tidak ada pembatas. Belum lagi jika angin mengarah ke selatan yang membawa kepulan gas belerang, menambah tertutupnya jalur.

Disisi lain saat matahari nampak di ufuk timur, tidak sedikit wisatawan yang datang untuk mengabadikan lanskap Kawah Ijen terlebih di musim liburan. Memang indah “lukisan” Ijen saat pagi. Dan pasti banyak juga wisatawan yang mengabadikan para penambang dalam framenya, termasuk saya.

“The worst thing is to feel that as a photographer I’m benefiting from someone else’s tragedy. This Idea haunts me. It’s something I have to reckon every day, because I know that if I ever allow genuine compassion to be overtaken by personal ambition, I will have sold my soul. The only way I can justify my role is to have respect for the other person’s predicament. The extent to which I do that is the extent to which I become accepted by the other and to that extent I can accept myself.” James Nachtwey – 1991

to be continued..

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

The End meet The Beginning : Taman Nasional Baluran – Africa Van Java

Tak melulu harus ke Taman Nasional Kruger di Afrika Selatan, atau Taman Nasional Nairobi di Kenya untuk menikmati savana gersang, panas, dan fauna liar lalu lalang di sekitarnya. Indonesia pun punya lanskap dengan keadaan seperti itu. Africa Van Java predikat yang disematkan untuk Taman Nasional Baluran di Situbondo Jawa Timur. Walaupun fauna yang ada tidak seperti taman nasional di Afrika pada umumnya yang menunjukkan rantai makanan dari yang paling rendah hingga puncak, TN Baluran menjadi surga dan rumah bagi banyak burung, Banteng, Rusa, dan kera seperti yang saya baca dari blog seorang aktivis birdie yang juga seorang aktivis TN Baluran mas Swiss Winasis (http://pratapapa81.wordpress.com). Beliau juga sukses mengkatalogkan burung burung yang ada di TN Baluran dan mempublikasikan dalam sebuah buku. Selamat mas Wis!

Saya sukses menikmati dua atmosfir saat mengunjungi TN Baluran. Saat pertama tiba kami memang terlalu malam sampai disana tetapi menjadi keuntungan sendiri karena kami bisa menikmati Safari Night TN Baluran dari pintu masuk sampai lokasi penginapan disekitar Pantai Bama. Ditemani dua petugas TN Baluran di perjalanan kami disuguhi pemandangan yang memang saya sendiri belum pernah merasakan. Dikelilingi hutan tropis kering dikanan kiri dan fauna dari burung, ular, landak, burung merak, kera yang memang lalu lalang disekitar perjalanan. Karena faktor itu pula kami meminta petugas TN Baluran yang sudah paham dengan keadaan sekitar untuk menemani karena kami pun tidak ingin mengganggu habitat mereka.

Kalau safari malam sudah kami cicipi, siangnya kami eksplore kembali TN Baluran. Keluar sedikit dari lokasi pantai Bama kami disambut kera hitam (seperti lutung saya tidak tau jenisnya :D) bergerombol dan sedikit takut dengan kehadiran dan suara mobil kami. Savana Bekol yang terkenal dari TN Baluran dengan background Gunung Baluran serta langit biru bergradasi dengan hijau hutan Baluran senyum kepada kami. Aahh ini indah… untuk melihat keseluruhan landskap TN Baluran lebih enak dilihat dari tower yang berada dekat kantor informasi sekitar savana Bekol. Dari atas kami bisa melihat keseluruhan Baluran dari sebelah timur yang dibatasi laut dan barat dengan Gunung Baluran nya. Dari atas pun kami bisa melihat schooling Rusa yang sedang berkubang dan juga banteng yang menjadi lambang TN Baluran.

Taman Nasional Baluran sukses membuat saya sejenak berimaji liarnya alam di Afrika.
Next time, bawah air TN Baluran harus saya cicipi..

to be continued..

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
http://nnkq.wordpress.coom / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

The End meet The Beginning : from Gajah Mada Sacred Place to the Land of God

Bersambung dari post sebelumnya, perjalanan 7 orang teman selama 7 hari ke 7 destinasi berbeda dimulai dari air terjun Madakaripura. Air terjun yang alkisah sebagai tempat pertapaan Jendral Besar Kerajaan Majapahit, Patih Gajah Mada. Tempat ini sakral bagi masyarakat sekitar mengingat sejarahnya silam. Madakaripura masuk kedalam kecamatan Lumbang administratif kabupaten Probolinggo dan ternyata juga masih masuk kedalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kenapa Madakaripura menjadi destinasi pertama? seorang kawan, AA saya menyebutnya; dia penasaran dengan landskap Madakaripura.Dia ingin singgah kesini sebelumnya saat berkunjung ke Bromo; hanya saja entah kenapa dia tersasar ke Air Terjun Coban Pelangi yang arahnya 180° terbalik dengan arah menuju Madakaripura. Pity you bro.. 😀

3 Jam perjalanan dari Surabaya sudah terlalu sore saat kami sampai di pintu masuk kawasan air terjun Madakaripura, dan hujan pun turun. Sudah menjadi prosedur pengelola air tejun jika hujan turun kawasan akan ditutup dari pengunjung mengantisipasi debit air yang meningkat di sekitar air terjun. Poor us!! untuk kedua kalinya AA gagal menyambangi Madakaripura.

lessons to be learned : Datanglah pagi jika ingin ke Madakaripura. Disamping waktu yang bagus untuk mengabadikan momen & landskap dan juga mengantisipasi seperti yang kami alami..

Narsiscus Landscapus

“Bromo yuk!” celetuk seorang teman. RR dan 2 orang teman kami memang belum pernah merasakan dinginnya kaldera purba Bromo; sore itu pun kemudi mobil dibelokan ke Bromo. Tujuan yang sebelumnya ingin menghabiskan sore dengan bermain air, berputar menjadi main dingin. Celana pendek, kaos tanpa jaket itu yang kami gunakan. Terbayang sore Bromo yang terkenal dinginnya kontras dengan apa yang kami kenakan.

” We really do fun! – dancing on sea sand – cold – friends – savanna – Bromo – freezing – narcistic – Jeep – horse ”

“A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving.” – Lao Tzu

 

to be continued..

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Mount Bromo : Land of God

 

Look Love Learn Indonesia
License & Print photo Available 
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Madakaripura Waterfall : Sacred Place in 1st Suro

Berjarak 3 Jam perjalanan menggunakan mobil dari Surabaya, air terjun ini terkenal dengan legenda tempat bertapanya Patih Gajah Mada; Jendral besar pada masa Kerajaan Majapahit. Tepat 1 Suro (tahun 2012 penanggalan Masehi) kemarin saya kesana. Tanggal yang sebenarnya dengan tidak sengaja bertepatan tanggal 1 Suro penanggalan Jawa atau 1 Muharam penanggalan Islam. Bagi sebagian masyarakat Lumbang, Probolinggo atau masyarakat yang masih kental memegang teguh budaya Jawa, tanggal 1 Suro merupakan saat-saat dimana mereka akan mengkeramatkan tempat-tempat, benda, pusaka yang mereka anggap sakral. Untuk hal ini tidak terkecuali Air Terjun Madakaripura yang terkenal dengan Gajah Mada-nya. Tepat di depan patung Gajah Mada, masyarakat memberikan sesaji dan juga memanjatkan doa-doa agar mereka diberi keberkahan serta kemakmuran.

Prosesi persembahan dilangsungkan pada tepat tanggal 1 Suro, diikuti oleh beberapa tetua adat setempat serta masyarakat. Persembahan juga disertai nyanyian Gamelan asli Probolinggo beserta Sindennya, mereka bersuka cita dari tua sampai muda.

Salam,

Look Love Learn Indonesia

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

 


Pahawang – Kelagian – Tanjung Putus

Citra Satelit Pulau Pahawang (Courtesy Google.com)

Pahawang-Kelagian-Tanjung Putus, satu paket destinasi yang pasti & harus disambangi jika kamu sedang berada di Lampung. Berada di Lampung Selatan tiga tempat ini menawarkan gugusan pulau dan pantai yang belum banyak orang kunjungi. Dan juga menawarkan opsional destinasi di propinsi paling selatan pulau Sumatera. Seperti gambar diatas (ter-marker biru) adalah pulau Pahawang, yang konon lambang produsen komputer & gadget terkenal asal Palo Alto, Apple Inc. terinspirasi dari citra satelit pulau pahawang; tetapi belum ada kebenaran yang terdengar dari isu tersebut.

Posisi pulau yang berada menjorok ke daratan membuat perairan disini sangat tenang, terlebih saat menyebrang dari daratan Sumatera (Pelabuhan Ketapang, Lampung) ke Pulau Kelagian. Cocok buat kalian yang memang suka bermain air alias skindive/snorkeling. Belum banyak penginapan yang tersedia disini. Saat saya kesana, saya dan teman-teman menggunakan tenda dan beberapa tidur di pondokan yang tersedia di pulau Kelagian Besar. Di pulau Kelagian Besar tersedia MCK yang dibangun oleh penduduk setempat, jadi jangan takut tidak bisa mandi :D.

Salam,

Look Love Learn Indonesia

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Mahameru : I always be there for you friends

Ini menjadi kali kedua dalam satu tahun saya ke Gunung Semeru. Desember tahun lalu saya pergi ke Taman Nasional ini dalam rangka untuk mengantar seorang teman yang memang sudah memintanya lama sekali. Saya pun berangkat walaupun yang akhirnya hanya piknik ceria 3 hari di Ranu Kumbolo. Pada kesempatan kali ini saya dan teman-teman menargetkan untuk menginjak tanah tertinggi pulau Jawa, yaitu Puncak Mahameru.

Berangkat 3 hari setelah Hari raya Idul Fitri Agustus lalu saya dan 7 sahabat pergi menuju Malang. Saya tau pasti akan sangat ramai Gunung Semeru pada bulan bulan seperti ini. Dan jelas hampir 1500 pendaki dalam 2 hari yang terdaftar dalam database Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dan ini menjadi kali pertama saya melakukan pendakian di Gunung Semeru saat High Season seperti itu.

Ranu Kumbolo hari pertama terlihat warna warni dan riuh ramai. Warna tenda para pendaki yang beraneka ragam mewarnai Ranu Kumbolo pagi itu. “Kaya pasar, rame bangett” ucap salah seorang teman yang baru kali pertama menginjakkan kaki di Danau di ketinggian 2400mdpl itu. Raut lelah dan senang terpancar dari beberapa wajah teman teman. Kami sampai di Ranu Kumbolo sudah sangat telat sekitar jam 3 Pagi, dan butir es kecil sudah menyelimuti tenda, dan rerumputan Ranu Kumbolo malam itu. Memang bukan pemandangan biasa jika es muncul di Ranu Kumbolo.

Kemarau membuat Oro oro Ombo tampak pudar, kering; tidak ada bunga yang menghiasi hijaunya bukit teletubies siang itu. Jalur pendakian dihiasi pasir debu gunung yang entah datang dari mana. Masker pun terpasang disemua muka para pendaki. pemandangan tersebut terlihat sepanjang jalur oro-oro Ombo sampai Kalimati. Namun pepohonan sudah tampak hijau setelah September/11 – Januari/12 lalu terbakar karena kemarau.

Gunung Semeru terlihat jelas dan gagah sore itu dari Kalimati. Takjub menjadi raut yang pertama dipancarkan teman teman. Indah sekali lukisan Tuhan yang satu ini. Menikmati sore dengan landscape Gunung Semeru ditemani segelas kopi dan candaan sahabat, momen tidak akan bisa tergantikan. Perapian kecil di malam hari, membuat makanan, dan tidak lupa guyonan membuat suasana dingin malam itu menjadi hangat. Siluet Gunung Semeru serasa memanggil untuk mengundang kami menyicipi indahnya landskap Jawa dari atas sana.

Tepat jam 12, 4 dari 8 orang berangkat untuk memenuhi undangan Mahameru tadi malam. 4 orang teman kami yang lain memilih untuk di tenda karena memang ada yang sangat drop kondisi badannya, dan beberapa karena sudah pernah menyicipi indahnya Mahameru. Akan kali kedua untuk saya untuk merasakan indahnya Mahameru. Pasir vulkanik mewarnai jalur Kalimati-Arcopodo-Kelik. Debu menyesakan pernapasan, dingin menyelimuti. Seorang teman akhirnya tak bisa melanjutkan, karena lututnya yang terkilir. Dia memilih stay di Arcopodo dan numpang di tenda para pendaki yang bermalam di Arcopodo, “suatu saat nanti kita pasti kembali Sal, Semeru selalu membuka pintu untuk semua orang yang dengan rendah hati bertamu kerumahnya..”. “Pelan tapi pasti” seperti sebuah lagu kami pelan pelan menapaki jalur menuju Mahameru. Nampak sangat ramai jalur menuju puncak pagi itu, terlihat lampu senter para pendaki yang berbaris dari Cemoro Tunggal – Mahameru. Pasir Mahameru tidak tampak seperti biasanya, lebih lembut, kering dan melelahkan. kaki kami terendam hampir mendekati lutut , naik 3 turun 2. Harga yang mahal untuk melihat sebuah keindahan.

Jam 06.30 tepat saya sampai di Tanah tertinggi pulau Jawa untuk kedua kalinya. 2 teman saya masih jauh dibawah. Sampai 8.30 saya menunggu mereka tidak kunjung datang. Dingin angin dan terik matahari yang membuat kulit wajah memerah diatas Mahameru pelan pelan melemaskan badan. Cerah, biru, kering,  Terik menggambarkan Mahameru pagi itu, sangat indah. Saya sempat berbincang dengan salah satu ranger yang juga seorang guide yang sedang membawa tamu (pendaki) asal negri Singa, “Sejak erupsi tahun lalu, jalur puncak ini menjadi tergerus. Saya takut jika hujan datang, material pasir terbawa oleh air dan jalur ini akan hilang..” Ucapnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh beliau. Itulah sebabnya mengapa pasir Mahameru tidak tampak seperti biasanya. Nampak lebih melelahkan untuk di pijak. Akhirnya hanya saya dan seorang teman yang berhasil muncak. Satu orang lagi memilih stay di jalur Mahameru untuk menunggu, karena kelelahan. “Someday friends, Someday..”

“It is not the mountain we conquer, but ourselves” — Sir Edmund Hillary

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Pulau Semak Daun “Sunset View” in VR360°

Project ini sudah ada di dalam hardisk selama lebih dari 8 bulan lalu. Saya buat ini bulan Februari saat saya diminta menemani beberapa pasang teman yang ingin mencoba sensasi camp di pulau tak berpenghuni. “God bless us!“; Sunset sore itu sunggu indah, gradasi awan kuning kebiruan ditambah semburat sinar matahari membuat rona kemerahan di langit. Spot ini sebenarnya ada di sebelah barat Pulau Semak Daun, (pulaunya terdapat di belakang talent pada panorama). Berupa pasir berkarang yang timbul saat air laut surut. Pada panorama ada beberapa teman yang menjadi talent foto :). Enjoy!

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Click Image to see Pulau Semak Daun “Sunset View” in VR360°


Complete Anak Krakatau in VR360°

Setelah beberapa kali mengunjungi Cagar Alam Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, pekerjaan rumah membuat virtual tour 360° terselesaikan. Walaupun pengambilan gambar dilakukan di hari dan waktu yang berbeda, paling tidak bisa membuat anda yang mengunjungi blog ini dan melihat virtual tour ini membayangkan serta berasa berada disana. didalam VR360° ini terdapat beberapa scene atau tempat, diantaranya, Pulau Sebuku, Pulau Umang umang, Pulau Sebesi, dan Anak Krakatau sendiri. Virtual tour ini juga masih banyak kekurangan, I’m still have much learn to create a perfect VR360°. I wish this VR360 could help you to gave a reference about wonderful places in Indonesia, Enjoy!

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Click Image to see Anak Krakatau Virtual Tour


Kalimati Camp Site, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru in VR360°

Akhir Agustus 2012 lalu saya untuk ketiga kalinya mendaki Gunung Semeru, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Lumajang Jawa Timur. Dengan tujuan mengantar beberapa teman yang memang ingin sekali menikmati keindahan Gunung Semeru yang terkenal sebagai tanah tertinggi Pulau Jawa dan juga Ranu Kumbolo yang tersohor itu. Dan dibawah adalah salah satu Pos atau Camp Site di Gunung Semeru yaitu Kalimati. Pos terakhir yang terbesar untuk Camp sebelum pendakian puncak Mahameru, saya sajikan dalam bentuk VR360° atau 360° Panorama Photography.

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

click Image to see Kalimati Camp Site in VR360°

intro Image


Gunung Prau : A Golden Sunrise

Gunung Prau merupakan salah satu dari beberapa gunung yang ada di kawasan dataran tinggi Dieng (Dieng Plateau). Gunung Prau memiliki ketinggian 2.565 mdpl tertinggi dari beberapa gunung yang ada dikawasan Dieng yaitu Gunung Pakuwaja (2.395 mdpl) dan Gunung Sikunir atau biasa disebut bukit Sikunir 2.263 mdpl. Masih banyak gunung gunung di Kawasan Dataran Tinggi Dieng seperti yang saya baca di salah satu blog teman saya yang merupakan masyarakat lokal Dieng, hanya saja kurang terekspos dan kurangnya tentang informasi tersebut jadi hanya sebagian masyarakat saja yang mengetahui secara detail mengenai gunung gunung tersebut. Gunung Prau menjadi bagian dari 3 Kabupaten (sesuai dengan beberapa patok/batas daerah sepanjang jalur Gunung Prau dari jalur Kejajar, Dieng Wetan) yaitu Wonosobo, Kendal, & Batang. Dan hanya ada 2 jalur umum yang biasa digunakan oleh pendaki atau wisatawan yang hendak berkunjung kesana yaitu melalui Kejajar (SMP 2) Dieng Wetan, atau dari Patakbanteng.

Gunung Prahu (Perahu [Indonesia], Boat [English]) adalah nama asli dari gunung Prau, mengapa demikian karena menurut masyarakat Dieng gunung tersebut berbentuk seperti perahu terbalik. Mungkin karena penyebutan masyarakat setempat atau masyarakat non Dieng terdengar seperti Prau (kata serapan) yang menjadikan Prau lebih familiar di dengar sebagai nama oleh masyarakat kebanyakan; dan ini hanya pendapat saya saja :).

Wisatawan kebanyakan hanya mengetahui Bukit Sikunir, Gardu Pandangtieng atau Kawasan Candi Pandawa Lima sebagai spot menikmati sunrise di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Di Puncak Gunung Prau juga salah satu tempat yang tidak kalah oke untuk menikmati sunrise. Golden sunrise yang tertoreh pada horizon di ufuk timur, ditambah siluet si-kembar Gunung Sindoro & Gunung Sumbing, serta Gunung Merapi & Gunung Merbabu di kejauhan membuat Gunung Prau sebagai salah satu spot sunrise terbaik di Kawasan Dataran Tinggi Dieng, atau mungkin di Indonesia 🙂

 

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Pulau Biawak : Surga yang Terlupakan

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia dan dunia, Indonesia adalah surga bawah laut. Hampir ¾ dari keseluruhan spesies ada di Indonesia. Indonesia juga dikenal sebagai negara 1000 pulau. Bagaimana tidak bagian negara ini terpisahkan oleh lautan dan terpecah menjadi 6 pulau besar dan hampir 17.000 pulau pulau kecil. Tidak dipungkiri Indonesia bagian timur memang surga dari surganya bawah laut. Hamparan Soft Coral & Hardcoral yang terjaga serta spesies yang beraneka ragam. Tapi bagi sebagian orang yang tinggal dipulau jawa untuk berkunjung kesana tidak memakan waktu & biaya yang sedikit, dari itulah bagi sebagian orang harus pintar pintar mencari spot alternatif untuk menikmati indahnya bawah laut Indonesia.

“Dimana kita bisa menemukan spot bawah air dan pulau yang tidak jauh [dari Jakarta] dan tidak memakan banyak waktu serta biaya?” pertanyaan yang mungkin sering mengisi kepala bagi sebagian traveller/backpacker/jejalan yang juga seorang pekerja [mungkin] yang tidak memiliki banyak waktu. Adalah Pulau Biawak [5.926142°LS 108.379898°BT] jawabannya, pulau yang berada di 40km Utara pesisir Jawa Barat ini merupakan salah satu dari sekian banyak pulau Indah yang ada di Indonesia. Masuk kedalam administratif Kabupaten Indramayu Jawa Barat, Pulau Biawak menawarkan keindahan bawah laut yang tidak kalah dengan tempat lainnya di Indonesia. Memang masih jarang orang mendengar atau mengetahui pulau ini. Nama Biawak diberikan oleh nelayan sekitar yang hendak istirahat atau singgah dipulau ini yang kemudia oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu diubah dan disahkan namanya menjadi Pulau Biawak. Nama awal pulau ini adalah Pulau Byompies yang diberikan oleh pemerintah Belanda saat itu pimpinan Z. M. Willem III. Pemerintah Belanda juga membangun mercusuar setinggi 65 meter pada tahun 1872, sampai saat ini mercusuar tersebut masih berfungsi sebagai tanda kapal kapal yang melintas disekitar pulau Biawak. Mungkin ada akan bertanya, jika mercusuar masih digunakan maka ada yang mengoperasikan dong? ya betul. Penghuni tetap disana adalah seorang pegawai Departemen Perhubungan Laut bagian Navigasi. Pak Sumanto namanya, sudah bekerja di Departemen Perhubungan sejak tahun 80 kemudian dikirim ke Pulau Biawak pada tahun 1988. Beliau berstatus pegawai negeri yang tinggal disana dalam kurun waktu tertentu untuk mengoperasikan, merawat mercusuar untuk kepentingan perjalanan laut. Terakhir saya kesana, beliau sudah di Pulau Biawak selama 4 bulan.

Kepulauan Biawak terdapat 3 pulau yaitu Pulau Biawak, Pulau Gosong, dan Pulau Candikian. Pulau Biawak pulau yang terdekat dari pesisir Jawa. untuk mencapai pulau Gosong ditempuh dalam 1jam dengan cuaca laut normal menggunakan kapal tradisional. dan -+ 2 jam untuk menuju ke pulau Candikian.

Pulau Gosong

Pulau ini lebih kecil dan tidak berpenghuni, tidak seperti pulau Biawak yang masih tertutup hutan, mangrove dan hewan lainnya. di Pulau Gosong hanya tersisa tanaman pantai. Pulau ini terlihat seperti pasir lautan yang terangkat saat laut surut. pulau ini menakjubkan bagi saya, karena hanya beda satu langkah dari bibir pasir pulau air lautan berisi hamparan coral yang luas [benar benar luas] dan dangkal. jadi kita harus hati hati jangan sampai merusak biota laut jika kita ingin melihat [snorkling] biota laut tersebut “Don’t Ever ever touch Them

Pulau Candikian

Pulau Candikian berada di paling utara dari gugusan 3 pulau ini. Saat saya berkunjung ke pulau biawak saya tidak sempat untuk berkunjung ke pulau Candikian karena cuaca yang tidak memungkinkan. namun dari cerita teman yang orang Indramayu ditambah informasi dari Bapak Darji [nelayan handal] yang membawa kapal kami, Pulau Candikian sekarang tidak lagi berbentuk pulau, dataran yang dulu ada sekarang sudah tenggelam oleh air laut. yang tersisa hanya hamparan karang dangkal seperti Pulau Gosong.

Biawak [Varanus salvator]

Biawak atau nama latinnya Varanus salvator berjumlah ratusan dalam berbagai ukuran ini hidup di hutan lembab Pulau Biawak. Predator yang masih bersaudara dengan komodo ini masih dipertanyakan tentang asal muasal keberadaannya. Banyak mitos yang berkembang mengenai hal ini. Banyak juga cerita cerita yang bisa anda dapatkan saat mengetik pulau Biawak pada teksboks pencarian search engine google. Saat saya bertanya kepada pak Sumanto, beliau pun belum benar benar mengerti kapan dan oleh siapa dan bagaimana biawak bisa ada dipulau tersebut.

Banyak juga para pendatang yang melakukan ritual ritual tertentu di pulau ini, atau aroma mistis dipulau ini juga masih sangant kental. Ditambah ada Makam Seorang syekh yang saya lupa namanya, kemudian sumur tua berwarna merah, makam seorang belanda yang tidak dikenal. tetapi, “Dimana Bumi berpijak disitu Langit diJunjung

Pulau Biawak in VR360°

Saya sempat membuat dokumentasi Pulau Biawak dan Pulau Gosong dalam bentuk Virtual Reality 360°. untuk mengaksesnya, cukup klik gambar dibawah 🙂

How To Get There

– Dari Jakarta menuju Indramayu

– Bila menggunakan Bus umum dari Jakarta, berhenti di Pertigaan Celeng [jalur lama pantura] lanjut menggunakan Elf [pagi – sore] atau ojek jika sampai disana malam hari.

– Pelabuhan Karangsong Indramayu adalah titik keberangkatan kapal menuju Pulau Biawak

Salam

DTA

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2012 All Rights Reserved. https://nnkq.wordpress.com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Milky Way over Sebesi Island

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2012 All Rights Reserved. https://nnkq.wordpress.com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Curug Seribu : The Moment a Part of Sweet Memory

The Moment a Part of Sweet Memory

Kita membuang waktu bersama, kita ciptakan hangat sebuah cerita.
Seharusnya berikan pupuk terbaik untuk benih yg sudah ditanam..
(text By @Ekho Skupe Budiagung)

 

Look, Love, & Learn Indonesia

 

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Anak Krakatau : Dangerously Beautiful

Anak Krakatau, itulah nama gunung yang lahir selepas meletusnya orangtuanya dulu (Krakatau). 1883 Krakatau memuntahkan semua isi perutnya yang efeknya luar biasa dahsyat digaris pesisir barat pulau jawa dan juga Tsunami yang konon gelombanya mencapai Jakarta pada saat itu. Abu vulkanik yang juga dikabarkan mencapai Asia Tengah dan juga Australia itu merupakan ledakan gunung api terbesar di Indonesia setelah Gunung Toba di Sumatra Utara yang sekarang kalderanya membentuk Danau Toba; dan tidak lupa The Great Great Vulcanic Explosion Ever yaitu Gunung Tambora.

Setiap orang yang mendengar pendakian menuju ke gunung anak Krakatau pasti mereka bilang (dengan ekspresi kaget) “hah? yakin lo? ga meledak apa?” ya memang bisa dibilang berbahaya melakukan pendakian ke gunung anak krakatau yang tingginya -+ 230mdpl itu; bagaimana tidak menurut balai Taman Nasional & penduduk sekitar hampir -+ 1000 gempa kecil disertai “batuk” (memuntahkan material vulkanik) ke udara menghiasi kegiatan sehari hari masyarakat sekitar dan juga terdengar sampai pesisir pantai anyer dan sekitarnya. Sampai saya dan teman-teman mempunyai sebutan untuk anak krakatau yaitu “Si Cantik yang Berbahaya”. ya sangat cantik memang anak krakatau itu, berada di tengah lautan samudra hindia dan dikelilingi oleh 3 pulau kolega orang tuanya silam (Rakata, Sertung, & Panjang).

Mungkin sudah banyak blog, website, forum dari dalam dan luar negri yang membahas pulau anak krakatau (sampai ada film mengenai krakatau), disini saya hanya ingin share pengalaman saya menjumpai “si Cantik”.
2, 3, 4 Desember 2011 sebenarnya saya sudah mempunyai rencana untuk menghadiri gathering nasional di Dieng Jawa Tengah sebuah forum travelling dari komunitas besar di Indonesia, seorang sahabat (Doddy) mengabarkan kepada saya jika ada sahabat lain (Jhejhe) mengajak untuk melakukan pendakian ke anak krakatau. Tidak pakai pikir panjang saya membatalkan rencana awal saya ke Dieng. Sudah merupakan impian untuk bisa menjumpai anak krakatau langsung dari dekat yang sebelumnya hanya bisa saya lihat dari iklan sebuah produk rokok di TV. Tak lama saya sounding kabar ini ke teman teman dekat. mereka pun antusias, 7 orang teman ikut gabung bersama saya dan 20 orang lainnya yang belum saya kenal. Sangat senang rasanya bisa jalan bersama orang orang baru yang belum pernah bertemu sebelumnya yang tujuan utamanya mencari teman baru (teman 1000 itu kurang, tetapi musuh 1 itu sangat banyak).

Jam 5 adalah rencana awal kami berangkat dari Jatibening. karena satu dan beberapa hal lainnya kita baru berangkat dari jatibening jam 20:30 WIB. yah sudah biasa jadwal berangkat selalu delay “this is us! tidak telat bukan kami!” hahahaha. berangkat menuju pelabuhan merak yaitu meeting point dengan rombongan Bu Lurah, mba Nung (nurjanah) sang ketua rombongan. Pikir saya kami yang telat sampai sana karena kita dijadwalkan harus sampai merak pukul 22:30. tetapi malah kami yang datang lebih awal dari rombongan bu lurah, God still Bless Us. Masih sempat kami menyantap nasi goreng `sedikit gosong` ala Pelabuhan Merak untuk mengganjal perut enek di kapal nanti. selang beberapa jam rombongan tiba, sempat kaget karena memang banyak banget rombongannya. yang salah satunya teman dari luar Indonesia yaitu Roman (dari Canada) dan Wendy de Jong (dari Belanda). tak lama bincang bincang kita digiring oleh bu Lurah menuju kapal karena memang sudah mau berangkat menuju Lampung.

Diatas kapal kita berkenalan (walau tidak semua) bercanda ria ditemani secangkir kopi penuh kebersamaan. Saya mengenalkan teman teman kepada rombongan lain begitupun mereka memperkenalkan teman temannya kepada kami.
entah kenapa keadaan badan sedang tidak enak, belum lama naik kapal ferry kepala & perut sudah berkomunikasi untuk menggerakan syaraf motorik mulut untuk mengeluarkan isi perut. Tidur merupakan solusi tepat untuk itu; karena kami hidup dengan canda ya tidur pun tidak bisa karena canda itu pula yang membuat mata tidak mau diajak untuk tidur. Seorang teman wanita dari rombongan kami terlihat sangat senang atau bisa dibilang Girang sesaat sebelum kapal ferry karta bersandar di bibir Pelabuhan Bakauheni. entah kenapa, saya melihat itu dari dia (mungkin kali pertama dia naik gunung :p).

Dari Bakauheni disambung dengan kendaraan angkot kota berwarna kuning yang sebelumnya sudah disewa dan dikoordinasikan oleh Bu Lurah untuk membawa kami ke Dermaga Canti di Kalianda, Lampung Selatan; Dermaga tempat kami akan diberangkatkan menggunakan kapal ojek menuju anak krakatau. Subuh kami sampai di Dermaga Canti prepare dan Sunrise bercampur awan mendung menyambut perjalanan kami dari dermaga Canti. 2 Jam perkiraan lama perjalanan dari Canti menuju Pulau Sebesi. masih disekitaran perut & kepala yang terus berkoordinasi untuk mengeluarkan isi perut membuat saya tidak bisa menikmati horizon dan landskap sekitar. tergeletak diburitan kapal terayun ayun oleh ombak yang menerjang; yang memang berhasil membuat saya mengeluarkan isi perut kedalam kantong plastik. hahahah lucu menurut saya kali pertama saya muntah di kapal kecil yang biasanya tidak pernah. pelajarannya, makanlah dan kenyangkan perut anda sebelum bepergian menggunakan kapal.

Sekitar pukul 08:00 pagi itu kita bersandar di pulau Sebesi untuk repacking dan siap siap menuju anak krakatau. hanya berganti celana saja saya langsung berkeliling pantai sekitar untuk melihat lihat. yang memang juga tidak punya waktu lama juga kami di pulau sebesi karena ingin dilanjutkan menuju anak krakatau. selama perjalanan itu saya pun mengistirahatkan badan dan mata sejenak karena dari semalam memang belum diistirahatkan. di nina bobokan oleh ombak saya pun terbawa ke alam mimpi (bahasa gw gaya banget deh :p :D).
Matahari tepat diatas kepala kami saat tiba di garis pantai hitam si Anak Krakatau. ombak memang sedang besar saat itu, yang efeknya kesulitannya kami untuk turun dari kapal dan memang tidak ada dermaga juga disana. dibantu oleh bapak ABK menggunakan kapal kecil kami dibantu untuk turun.
Takjub dan terkagum kagum seraya senyam senyum sendiri saya sejak pertama kali menginjakan kaki di pantai Anak krakatau. Anak Krakatau yang mempunyai masa orang tua dengan masa kelam pada zamannya itu kini saya bisa bertamu ketempatnya untuk merasakan keindahan lukisanNya. dan yang membuat saya beserta teman teman lain merasa sangat beruntung karena pada hari itu si Cantik sangat tenang, hommy, dan menyambut kami dengan senyumnya. Tidak sesekali ia marah dengan mengeluarkan getaran ataupun luapan materialnya, Once Again God Bless Us.

Hanya butuh kurang dari 1 jam untuk mencapai patok 9, titik aman atau batas terakhir yang diizinkan balai taman nasional kepada para pengunjung yang hendak mendaki Anak krakatau dari pesisir pantai. Tidak semua dari kami adalah seorang pendaki atau kata lain pernah mendaki sebelumnya, jadi banyak juga dari teman teman yang lelah saat mendaki anak krakatau, 3 orang dari kamipun memutuskan untuk tidak melanjutkan karena memang suhu siang itu cukup panas, disamping itu Anak Krakatau mengeluarkan suhu sendiri dari perutnya.

Hanya satu kalimat yang terucap, “terima kasih Allah Kau beri aku kesempatan lagi untuk melihat salah satu dari sekian banyak lukisanMu” dan Teman merupakan hal terindah yang saya (mungkin anda dan kalian juga) miliki saat diberi kesempatan menikmati LukisanNya; *kenapa jadi melankolis gini..
saat saat yang ditunggu adalah “narsis di depan Lensa”. ya Picture Time. foto sana foto sini, kamera ini kamera itu, gaya ini gaya itu sudah kami jajal. sampai beberapa saat saya melihat salah satu teman mencoba untuk melihat lebih dekat puncak si Cantik. ada beberapa teman (saya tidak termasuk :D) yang berhasil sampai puncak Anak Krakatau saat itu. Belerang pekat + panas yang mereka bilang pertama kali saat cerita kepada teman teman lainnya yang tidak sampai kesana.
Sekali lagi, terima kasih kepada Si Cantik yang mengizinkan kami untuk melihat dia lebih jelas.

Kurang lebih 1 jam setelah mendokumentasikan landskap dari atas sana saya dan teman teman turun kembali ke pantai. Makan siang merupakan ide paling bagus saat itu. yeah laparr!!
Setelah semua selesai bertamu ke anak Krakatau dilanjutkan dengan main air. yah, snorkling time. snorkling dilakukan disisi belakang pulau Rakata. Kesan pertama saya melihat bawah airnya terlihat sudah mati terumbu karang disana, hanya terdapat patahan patahan hard coral dan beberapa soft coral kecil yang berusaha untuk survive. ya mungkin ini disebabkan oleh laut sekitar krakatau yang memang masuk dalam zona laut vulkanik gunung api. Tidak bisa beralama lama saya didalam air, karena gelombang cukup besar yang membuat sedikit malas untuk berlama lama. singkat cerita kami pun kembali ke sebesi untuk istirahat dan bersiap untuk esok.

Hari Kedua : kegiatannya hanya bermain air. cuaca Saat itu sangat bersahabat, Blue Sky Clear. cuaca yang tepat untuk main air dan menghitamkan kulit. spot pertama yaitu disisi Timur Laut pulau sebesi (kalo ga salah arahnya :D) hanya beberapa menit dari dermaga pulau sebesi. dan dilanjutkan ke pulau umang umang. Pulau yang masih tetangga dekat dengan pulau sebesi. Pulau ini tidak besar, tetapi disana wow! spot air yang paling bagus yang saya kunjungi menurut saya selama saya disana. Disana saya hanya melihat lihat dan mendokumentasikan landskap disana dan juga narsis time buat teman teman. Saking narsisnya sampai saat seorang teman dari Belanda, Wendy bilang kepada seorang teman “you guys so love making picture” hahaha the best quotation about Indonesian People :D.

saya merupakan orang yang tidak pintar dan tidak bisa banyak berkata kata. jadi saya sudahi cerita saya sampai disini. Mungkin dengan foto foto dibawah bisa bercerita lebih dari yang saya utarakan diatas.

Krakatau in VR360°

click on image to view Krakatau in VR360°

Thanks
my Best Regards

Look, Like, & Learn Indonesia

more about Krakatau :
http://id.wikipedia.org/wiki/Krakatau

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.