Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

Posts tagged “jawa barat

Travel Well Spent: Kuningan

DTA-nnkq-Kuningan-0872189-

Selama ini hanya tau Kota Kuningan yang bertetangga dengan kota Cirebon adalah sebagai kota Kuda, Bus Luragung-nya, dan Gunung Ciremai. Sampai akhirnya ada teman yang lahir dan besar di kota tersebut mengajak untuk main kerumahnya. Nampaknya, Kuningan bukan salah satu destinasi yang jadi prioritas dikalangan pejalan, khususnya diluar kota tersebut tapi mungkin di kalangan pendaki, Iya. Gunung Ciremai yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai terletak di kota Kuningan dan merupakan magnet bagi pendaki, karena Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Provinsi Jawa Barat.

(more…)


Pulau Biawak : Surga yang Terlupakan

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia dan dunia, Indonesia adalah surga bawah laut. Hampir ¾ dari keseluruhan spesies ada di Indonesia. Indonesia juga dikenal sebagai negara 1000 pulau. Bagaimana tidak bagian negara ini terpisahkan oleh lautan dan terpecah menjadi 6 pulau besar dan hampir 17.000 pulau pulau kecil. Tidak dipungkiri Indonesia bagian timur memang surga dari surganya bawah laut. Hamparan Soft Coral & Hardcoral yang terjaga serta spesies yang beraneka ragam. Tapi bagi sebagian orang yang tinggal dipulau jawa untuk berkunjung kesana tidak memakan waktu & biaya yang sedikit, dari itulah bagi sebagian orang harus pintar pintar mencari spot alternatif untuk menikmati indahnya bawah laut Indonesia.

“Dimana kita bisa menemukan spot bawah air dan pulau yang tidak jauh [dari Jakarta] dan tidak memakan banyak waktu serta biaya?” pertanyaan yang mungkin sering mengisi kepala bagi sebagian traveller/backpacker/jejalan yang juga seorang pekerja [mungkin] yang tidak memiliki banyak waktu. Adalah Pulau Biawak [5.926142°LS 108.379898°BT] jawabannya, pulau yang berada di 40km Utara pesisir Jawa Barat ini merupakan salah satu dari sekian banyak pulau Indah yang ada di Indonesia. Masuk kedalam administratif Kabupaten Indramayu Jawa Barat, Pulau Biawak menawarkan keindahan bawah laut yang tidak kalah dengan tempat lainnya di Indonesia. Memang masih jarang orang mendengar atau mengetahui pulau ini. Nama Biawak diberikan oleh nelayan sekitar yang hendak istirahat atau singgah dipulau ini yang kemudia oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu diubah dan disahkan namanya menjadi Pulau Biawak. Nama awal pulau ini adalah Pulau Byompies yang diberikan oleh pemerintah Belanda saat itu pimpinan Z. M. Willem III. Pemerintah Belanda juga membangun mercusuar setinggi 65 meter pada tahun 1872, sampai saat ini mercusuar tersebut masih berfungsi sebagai tanda kapal kapal yang melintas disekitar pulau Biawak. Mungkin ada akan bertanya, jika mercusuar masih digunakan maka ada yang mengoperasikan dong? ya betul. Penghuni tetap disana adalah seorang pegawai Departemen Perhubungan Laut bagian Navigasi. Pak Sumanto namanya, sudah bekerja di Departemen Perhubungan sejak tahun 80 kemudian dikirim ke Pulau Biawak pada tahun 1988. Beliau berstatus pegawai negeri yang tinggal disana dalam kurun waktu tertentu untuk mengoperasikan, merawat mercusuar untuk kepentingan perjalanan laut. Terakhir saya kesana, beliau sudah di Pulau Biawak selama 4 bulan.

Kepulauan Biawak terdapat 3 pulau yaitu Pulau Biawak, Pulau Gosong, dan Pulau Candikian. Pulau Biawak pulau yang terdekat dari pesisir Jawa. untuk mencapai pulau Gosong ditempuh dalam 1jam dengan cuaca laut normal menggunakan kapal tradisional. dan -+ 2 jam untuk menuju ke pulau Candikian.

Pulau Gosong

Pulau ini lebih kecil dan tidak berpenghuni, tidak seperti pulau Biawak yang masih tertutup hutan, mangrove dan hewan lainnya. di Pulau Gosong hanya tersisa tanaman pantai. Pulau ini terlihat seperti pasir lautan yang terangkat saat laut surut. pulau ini menakjubkan bagi saya, karena hanya beda satu langkah dari bibir pasir pulau air lautan berisi hamparan coral yang luas [benar benar luas] dan dangkal. jadi kita harus hati hati jangan sampai merusak biota laut jika kita ingin melihat [snorkling] biota laut tersebut “Don’t Ever ever touch Them

Pulau Candikian

Pulau Candikian berada di paling utara dari gugusan 3 pulau ini. Saat saya berkunjung ke pulau biawak saya tidak sempat untuk berkunjung ke pulau Candikian karena cuaca yang tidak memungkinkan. namun dari cerita teman yang orang Indramayu ditambah informasi dari Bapak Darji [nelayan handal] yang membawa kapal kami, Pulau Candikian sekarang tidak lagi berbentuk pulau, dataran yang dulu ada sekarang sudah tenggelam oleh air laut. yang tersisa hanya hamparan karang dangkal seperti Pulau Gosong.

Biawak [Varanus salvator]

Biawak atau nama latinnya Varanus salvator berjumlah ratusan dalam berbagai ukuran ini hidup di hutan lembab Pulau Biawak. Predator yang masih bersaudara dengan komodo ini masih dipertanyakan tentang asal muasal keberadaannya. Banyak mitos yang berkembang mengenai hal ini. Banyak juga cerita cerita yang bisa anda dapatkan saat mengetik pulau Biawak pada teksboks pencarian search engine google. Saat saya bertanya kepada pak Sumanto, beliau pun belum benar benar mengerti kapan dan oleh siapa dan bagaimana biawak bisa ada dipulau tersebut.

Banyak juga para pendatang yang melakukan ritual ritual tertentu di pulau ini, atau aroma mistis dipulau ini juga masih sangant kental. Ditambah ada Makam Seorang syekh yang saya lupa namanya, kemudian sumur tua berwarna merah, makam seorang belanda yang tidak dikenal. tetapi, “Dimana Bumi berpijak disitu Langit diJunjung

Pulau Biawak in VR360°

Saya sempat membuat dokumentasi Pulau Biawak dan Pulau Gosong dalam bentuk Virtual Reality 360°. untuk mengaksesnya, cukup klik gambar dibawah 🙂

How To Get There

– Dari Jakarta menuju Indramayu

– Bila menggunakan Bus umum dari Jakarta, berhenti di Pertigaan Celeng [jalur lama pantura] lanjut menggunakan Elf [pagi – sore] atau ojek jika sampai disana malam hari.

– Pelabuhan Karangsong Indramayu adalah titik keberangkatan kapal menuju Pulau Biawak

Salam

DTA

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2012 All Rights Reserved. https://nnkq.wordpress.com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Curug Seribu : The Moment a Part of Sweet Memory

The Moment a Part of Sweet Memory

Kita membuang waktu bersama, kita ciptakan hangat sebuah cerita.
Seharusnya berikan pupuk terbaik untuk benih yg sudah ditanam..
(text By @Ekho Skupe Budiagung)

 

Look, Love, & Learn Indonesia

 

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Taman Nasional Ujung Kulon : Home For The Rhinoceros

Taman Nasional Ujung Kulon,  taman nasional yang berada di ujung barat pulau jawa merupakan taman nasional satu-satunya di Indonesia dan juga dunia yang merupakan habitat asli untuk Badak Jawa atau Badak Bercula Satu yang mempunyai nama latin Rhinoceros sondaicus yang saat ini hanya sekitar 40-50 ekor saja.

Awal bulan oktober ini saya diberikan kesempatan untuk menengok kediaman para badak ini. ya, ini merupakan salah satu tempat yang sudah lama ingin saya kunjungi, karena beberapa keterbatasan baru kali ini saya berangkat kesana. Perjalanan diikuti oleh rekan-rekan backpacker lain (kaskus, kaki gatel, & beberapa teman lainnya) yang berjumlah hampir 30 orang.

fyi, kalo hendak berkunjung ke Taman Nasional Ujung Kulon lebih baik dengan buddy perjalanan yang banyak agar share cost yang dikeluarkan tidak terlalu membengkak. tapi bagi anda yang tidak masalah dengan biaya ya that’s isn’t big deal ..

Berangkat dari terminal kalideres jam 9 malam bersama 5orang teman yang kesemuannya wanita :-* berangkat lah kami menuju Serang, meeting point kami dengan 25 orang buddy lainnya yang berangkat berbeda lewat terminal kampung rambutan. selama di perjalanan kamipun disuguhkan permainan pedal gas dan kopling si supir bus yang ugal-ugalan seperti hanya membawa kumpulan kambing dalam busnya. Bus antar kota Asli Prima namanya, saran saya lebih baik naik bus yang lebih mempunyai reputasi baik :p karena nyawa itu berharga.

sekitar jam 23.00 kami pun sampai di serang. menunggu itu memang membosankan, tetapi tidak kali ini untuk saya. ditemani 5 orang teman yang kece kece serasa pria paling oke diantara mereka (ngayal :p) .. selang beberapa jam teman yang lain pun tiba, kendaraan tiger (tiga perempat) yang sudah disewa untuk memboyong kami ke tujuan berikutnya pun sudah standby. 2 tiger cukup untuk membawa kami semua kesana. perjalanan ini terasa sangat lama, kenapa karena posisi saya duduk sangat amat tidak mengenakkan. disamping pintu tidak ada senderan dan jalan menuju sumur memang tidak begitu bagus. alhasil mata ini pun dipaksa untuk melihat kedepan dan menahan pegal nya punggung saat itu .. bersakit sakit dahulu teriak kemudian .. ya tapi nikmatin sajalah.

pukul 04.00 sampainya kami di sumur, pelabuhan atau paling pas disebut kampung nelayan tempat penyebrangan menuju taman nasional. disana kami disambut oleh bapak pemilik kapal yang kapalnya kami sewa untuk berangkat. baik sekali bapak itu, teh hangat 1 dispenser sudah dipersiapkannya untuk kami.. paginya, nasi uduk pun disuguhkannya untuk kami..

singkat cerita kami berangkat, wow the sun smile to us pagi itu ..

Sumur Sunrise

ABK Kapal

Destinasi pertama yaitu Handeuleum. yaitu spot yang berisi tempat tinggal para awak taman nasional. disana juga terdapat kantor dan balai taman nasional. jarak sumur – handeuleum sekitar 1 – 1 1/2 jam. dari handeuleum juga start untuk para wisatawan yang hendak berkano menuju sungai cigenter untuk observasi badak. Sungai cigenter sering kali didatangai oleh badak untuk mencari minum, dan jika beruntung kita bisa menjumpainya disana. tapi sayang sekali saya bukan orang beruntung itu. sudah bersusah susah untuk tidak berisik saat berada dikano “trik saat berkano jangan berisik, jangan suka mainkan air seperti mmasukin tangan dsb karena disana juga habitat buaya muara” jelaskan pak Mis bapak Penjaga taman nasional yang menemani kami selama perjalanan.

Sungai Cigenter

Handeuleum

Pak Mis

spot selanjutnya yaitu Tanjung layar. Tanjung layar merupakan titik terujung atau titik paling barat di Taman Nasional Ujung Kulon dan juga pulau Jawa. disini dijumpai beberapa bangunan sisa sisa jaman penjajahan. Menurut paparan pak Mis, itu dulu bekas penjara. sedikit mengerikan memang, tapi tidak terlalu mengerikan saat siang hari. untuk anda yang hendak nge-camp atau membuka tenda di TNUK, Tanjung Layar spot yang baik. mengapa karena disana vegetasinya rumput, nyaman untuk membuka tenda dan kontur tempatnya yang dikelilingi tebing tebing karang yang melindungi dari angin pantai yang kencang (apalagi adanya diujung :p). jika anda sudah pernah ke Pulau Sempu di Malang , Tanjung Layar mirip seperti disana. Dan untuk menuju ke Tanjung Layar, kita harus berjalan kaki atau trekking selama 45menit dari titik penurunan dari kapal.

Pohon Besar berlubang yang ditemui saat trekking menuju Tj Layar

Rumah Penjaga Taman Nasional di Tanjung Layar

Tanjung Layar dari titik tertinggi

Karang Tanjung Layar

Selesai di Tanjung Layar, setiap pengunjung yang datang pasti dibawa untuk menyaksikan sunset dari Cidaon, salah spot di TNUK yang menghadap ke barat. jadi sering dijadikan untuk menikmati sunset. berangkat dari Tj.Layar pukul 17.30 adalah waktu yang terlambat untuk menuju cidaon. alhasil kami menyaksikan sunset dari kapal. tetapi tidak mengurangi nikmatnya melihat sunset apalagi saat itu ditemani teman-teman yang menurut saya menambah indahnya saat itu (melankolis banget dah :p)

The Golden Hour

after the sunset kami menuju ke Pulau Peucang, yaitu pulau yang bisa disebut administratif balai taman nasional. karena dipulau ini semua pekerja balai taman nasional menetap. disana pula satu satunya tempat yang tersedia wisma untuk para penunjung menginap.

sedikit share tips :

  • Jika sudah booking untuk sewa wisma disana hendaknya sertakan DP dan yang paling penting konfirmasi secepatnya ke pihak balai taman nasional perihal itu. karena walopun kita sudah DP bahkan full payment tetapi tidak ada konfirm ke penjaga wisma maka wisma dianggap masih free to book. karena DP diserahkan kepada pihak balai taman nasional yang berada di labuan, dan sedangkan mereka harus menunggu penjaga yang hendak ke Peucang untuk melakukan konfirmasi. “kenapa ga lewat media komunikasi??” di peucang tidak ada sinyal, inilah kekurangannya.

Pulau Peucang

sunrise, adalah moment moment yang benar benar saya tunggu, dimana bisa mengaplikan teknik teknik foto yang sengaja sudah saya baca sebelum perjalanan dan juga memang itu inti dari sebuah perjalanan menurut saya. menikmati torehan dan lukisan Nya di Indonesia.

Golden or Blue Hour ?

Sendiri

Bergelora

Jump!

flyaway

Peucang Pano

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.