Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

Posts tagged “DTA

Mahameru : I always be there for you friends

Ini menjadi kali kedua dalam satu tahun saya ke Gunung Semeru. Desember tahun lalu saya pergi ke Taman Nasional ini dalam rangka untuk mengantar seorang teman yang memang sudah memintanya lama sekali. Saya pun berangkat walaupun yang akhirnya hanya piknik ceria 3 hari di Ranu Kumbolo. Pada kesempatan kali ini saya dan teman-teman menargetkan untuk menginjak tanah tertinggi pulau Jawa, yaitu Puncak Mahameru.

Berangkat 3 hari setelah Hari raya Idul Fitri Agustus lalu saya dan 7 sahabat pergi menuju Malang. Saya tau pasti akan sangat ramai Gunung Semeru pada bulan bulan seperti ini. Dan jelas hampir 1500 pendaki dalam 2 hari yang terdaftar dalam database Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dan ini menjadi kali pertama saya melakukan pendakian di Gunung Semeru saat High Season seperti itu.

Ranu Kumbolo hari pertama terlihat warna warni dan riuh ramai. Warna tenda para pendaki yang beraneka ragam mewarnai Ranu Kumbolo pagi itu. “Kaya pasar, rame bangett” ucap salah seorang teman yang baru kali pertama menginjakkan kaki di Danau di ketinggian 2400mdpl itu. Raut lelah dan senang terpancar dari beberapa wajah teman teman. Kami sampai di Ranu Kumbolo sudah sangat telat sekitar jam 3 Pagi, dan butir es kecil sudah menyelimuti tenda, dan rerumputan Ranu Kumbolo malam itu. Memang bukan pemandangan biasa jika es muncul di Ranu Kumbolo.

Kemarau membuat Oro oro Ombo tampak pudar, kering; tidak ada bunga yang menghiasi hijaunya bukit teletubies siang itu. Jalur pendakian dihiasi pasir debu gunung yang entah datang dari mana. Masker pun terpasang disemua muka para pendaki. pemandangan tersebut terlihat sepanjang jalur oro-oro Ombo sampai Kalimati. Namun pepohonan sudah tampak hijau setelah September/11 – Januari/12 lalu terbakar karena kemarau.

Gunung Semeru terlihat jelas dan gagah sore itu dari Kalimati. Takjub menjadi raut yang pertama dipancarkan teman teman. Indah sekali lukisan Tuhan yang satu ini. Menikmati sore dengan landscape Gunung Semeru ditemani segelas kopi dan candaan sahabat, momen tidak akan bisa tergantikan. Perapian kecil di malam hari, membuat makanan, dan tidak lupa guyonan membuat suasana dingin malam itu menjadi hangat. Siluet Gunung Semeru serasa memanggil untuk mengundang kami menyicipi indahnya landskap Jawa dari atas sana.

Tepat jam 12, 4 dari 8 orang berangkat untuk memenuhi undangan Mahameru tadi malam. 4 orang teman kami yang lain memilih untuk di tenda karena memang ada yang sangat drop kondisi badannya, dan beberapa karena sudah pernah menyicipi indahnya Mahameru. Akan kali kedua untuk saya untuk merasakan indahnya Mahameru. Pasir vulkanik mewarnai jalur Kalimati-Arcopodo-Kelik. Debu menyesakan pernapasan, dingin menyelimuti. Seorang teman akhirnya tak bisa melanjutkan, karena lututnya yang terkilir. Dia memilih stay di Arcopodo dan numpang di tenda para pendaki yang bermalam di Arcopodo, “suatu saat nanti kita pasti kembali Sal, Semeru selalu membuka pintu untuk semua orang yang dengan rendah hati bertamu kerumahnya..”. “Pelan tapi pasti” seperti sebuah lagu kami pelan pelan menapaki jalur menuju Mahameru. Nampak sangat ramai jalur menuju puncak pagi itu, terlihat lampu senter para pendaki yang berbaris dari Cemoro Tunggal – Mahameru. Pasir Mahameru tidak tampak seperti biasanya, lebih lembut, kering dan melelahkan. kaki kami terendam hampir mendekati lutut , naik 3 turun 2. Harga yang mahal untuk melihat sebuah keindahan.

Jam 06.30 tepat saya sampai di Tanah tertinggi pulau Jawa untuk kedua kalinya. 2 teman saya masih jauh dibawah. Sampai 8.30 saya menunggu mereka tidak kunjung datang. Dingin angin dan terik matahari yang membuat kulit wajah memerah diatas Mahameru pelan pelan melemaskan badan. Cerah, biru, kering,  Terik menggambarkan Mahameru pagi itu, sangat indah. Saya sempat berbincang dengan salah satu ranger yang juga seorang guide yang sedang membawa tamu (pendaki) asal negri Singa, “Sejak erupsi tahun lalu, jalur puncak ini menjadi tergerus. Saya takut jika hujan datang, material pasir terbawa oleh air dan jalur ini akan hilang..” Ucapnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh beliau. Itulah sebabnya mengapa pasir Mahameru tidak tampak seperti biasanya. Nampak lebih melelahkan untuk di pijak. Akhirnya hanya saya dan seorang teman yang berhasil muncak. Satu orang lagi memilih stay di jalur Mahameru untuk menunggu, karena kelelahan. “Someday friends, Someday..”

“It is not the mountain we conquer, but ourselves” — Sir Edmund Hillary

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Pulau Semak Daun “Sunset View” in VR360°

Project ini sudah ada di dalam hardisk selama lebih dari 8 bulan lalu. Saya buat ini bulan Februari saat saya diminta menemani beberapa pasang teman yang ingin mencoba sensasi camp di pulau tak berpenghuni. “God bless us!“; Sunset sore itu sunggu indah, gradasi awan kuning kebiruan ditambah semburat sinar matahari membuat rona kemerahan di langit. Spot ini sebenarnya ada di sebelah barat Pulau Semak Daun, (pulaunya terdapat di belakang talent pada panorama). Berupa pasir berkarang yang timbul saat air laut surut. Pada panorama ada beberapa teman yang menjadi talent foto :). Enjoy!

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Click Image to see Pulau Semak Daun “Sunset View” in VR360°


Pulau Tidung Kepulauan Seribu in VR360°

Pulau Tidung, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta yang tidak sepi pengunjung tiap minggunya yang juga pulau destinasi paling di tuju oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Hampir 1500 orang tiap minggunya memadati pulau tersebut. Finally dari kali sekian saya mengunjungi gugusan kepulauan seribu, Pulau Tidung lah yang menjadi tujuan saya minggu kemarin. Dan seperti biasa saya pasti membuat Panorama Virtual Tour 360°, agar para visitor serasa berasa disana saat mengakses Virtual Tour ini. Di VR360° kali ini ada beberapa titik, diantaranya: 3 spot di Jembatan penghubung antara Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil dan satu lagi di Spot Gosong (Pulau Pasir Putih) di dekat dengan Pulau Payung (spot snorkeling). Enjoy!

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Click Image to see Pulau Tidung in VR360°


Kalimati Camp Site, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru in VR360°

Akhir Agustus 2012 lalu saya untuk ketiga kalinya mendaki Gunung Semeru, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Lumajang Jawa Timur. Dengan tujuan mengantar beberapa teman yang memang ingin sekali menikmati keindahan Gunung Semeru yang terkenal sebagai tanah tertinggi Pulau Jawa dan juga Ranu Kumbolo yang tersohor itu. Dan dibawah adalah salah satu Pos atau Camp Site di Gunung Semeru yaitu Kalimati. Pos terakhir yang terbesar untuk Camp sebelum pendakian puncak Mahameru, saya sajikan dalam bentuk VR360° atau 360° Panorama Photography.

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

click Image to see Kalimati Camp Site in VR360°

intro Image


Gunung Prau : A Golden Sunrise

Gunung Prau merupakan salah satu dari beberapa gunung yang ada di kawasan dataran tinggi Dieng (Dieng Plateau). Gunung Prau memiliki ketinggian 2.565 mdpl tertinggi dari beberapa gunung yang ada dikawasan Dieng yaitu Gunung Pakuwaja (2.395 mdpl) dan Gunung Sikunir atau biasa disebut bukit Sikunir 2.263 mdpl. Masih banyak gunung gunung di Kawasan Dataran Tinggi Dieng seperti yang saya baca di salah satu blog teman saya yang merupakan masyarakat lokal Dieng, hanya saja kurang terekspos dan kurangnya tentang informasi tersebut jadi hanya sebagian masyarakat saja yang mengetahui secara detail mengenai gunung gunung tersebut. Gunung Prau menjadi bagian dari 3 Kabupaten (sesuai dengan beberapa patok/batas daerah sepanjang jalur Gunung Prau dari jalur Kejajar, Dieng Wetan) yaitu Wonosobo, Kendal, & Batang. Dan hanya ada 2 jalur umum yang biasa digunakan oleh pendaki atau wisatawan yang hendak berkunjung kesana yaitu melalui Kejajar (SMP 2) Dieng Wetan, atau dari Patakbanteng.

Gunung Prahu (Perahu [Indonesia], Boat [English]) adalah nama asli dari gunung Prau, mengapa demikian karena menurut masyarakat Dieng gunung tersebut berbentuk seperti perahu terbalik. Mungkin karena penyebutan masyarakat setempat atau masyarakat non Dieng terdengar seperti Prau (kata serapan) yang menjadikan Prau lebih familiar di dengar sebagai nama oleh masyarakat kebanyakan; dan ini hanya pendapat saya saja :).

Wisatawan kebanyakan hanya mengetahui Bukit Sikunir, Gardu Pandangtieng atau Kawasan Candi Pandawa Lima sebagai spot menikmati sunrise di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Di Puncak Gunung Prau juga salah satu tempat yang tidak kalah oke untuk menikmati sunrise. Golden sunrise yang tertoreh pada horizon di ufuk timur, ditambah siluet si-kembar Gunung Sindoro & Gunung Sumbing, serta Gunung Merapi & Gunung Merbabu di kejauhan membuat Gunung Prau sebagai salah satu spot sunrise terbaik di Kawasan Dataran Tinggi Dieng, atau mungkin di Indonesia 🙂

 

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Solo Batik Carnival 5 : Metamorphosis

Batik merupakan salah satu dari sekian banyak budaya dan ciri bangsa Indonesia, yang sah di mata dunia sejak ditetapkannya oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009. Dan pada tanggal itu pula ditetapkan sebagai hari Batik Nasional oleh pemerintah Indonesia. Banyak daerah di Indonesia yang memproduksi batik, sehingga memunculkan banyak varian corak, warna, dan bentuk yang mencirikan daerah masing masing. Salah satunya Solo; Solo merupakan kota di Jawa Tengah yang merupakan salah satu sentra produsen batik terkenal di Indonesia. Banyak seniman dan hasil batik dari Solo sudah me-Mancanegara.

“Solo Kota Budaya”, “Batik is live, Solo is batik”, “Solo The Spirit of Java”; itulah beberapa semboyan atau sebutan untuk Solo dengan kaitannya dengan Batik & Budaya di Indonesia. Dengan semangat itu pula Pemerintah Kota Solo membuat ajang unjuk ketrampilan masyarakat dalam memadukan batik, tari, dan karnaval modern, yang bertajuk Solo Batik Carnival. Solo Batik Carnival (SBC) pada tahun ini sudah menginjak gelaran ke 5 dengan tema Metamorphosis sejak gelaran pertama pada tahun 2008. SBC 5 disenggalarakan pada tanggal 30 Juni 2012 bertempat di Lapangan Sriwedari Solo. Yang dilanjutkan dengan arak arakan peserta karnaval dari Lapangan Sriwedari sampai Balai Kota Solo (sepanjang jalan Slamet Riyadi).

Arti Metamorphosis pada gelaran SBC ke 5 ini adalah bagaimana proses pembuatan atau lahirnya batik yang berawal hanya dari kain putih sampai menjadi kain yang memiliki nilai yang tinggi, mampu memodernisasi, sampai mendunia. Maka dari itu gelaran ke 5 ini di kelompokan menjadi 5 group penampilan yaitu Meta 1 sampai Meta 5 (dibedakan dari warna kostum peserta Karnaval).

 

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com / https://nnkq.wordpress.com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Full Moon

Full Moon

“Full Moon”
2 Agustus 2012 01:49:49 WIB (GMT+7)
at S 6.26139° E 106.93149°


Pulau Biawak : Surga yang Terlupakan

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia dan dunia, Indonesia adalah surga bawah laut. Hampir ¾ dari keseluruhan spesies ada di Indonesia. Indonesia juga dikenal sebagai negara 1000 pulau. Bagaimana tidak bagian negara ini terpisahkan oleh lautan dan terpecah menjadi 6 pulau besar dan hampir 17.000 pulau pulau kecil. Tidak dipungkiri Indonesia bagian timur memang surga dari surganya bawah laut. Hamparan Soft Coral & Hardcoral yang terjaga serta spesies yang beraneka ragam. Tapi bagi sebagian orang yang tinggal dipulau jawa untuk berkunjung kesana tidak memakan waktu & biaya yang sedikit, dari itulah bagi sebagian orang harus pintar pintar mencari spot alternatif untuk menikmati indahnya bawah laut Indonesia.

“Dimana kita bisa menemukan spot bawah air dan pulau yang tidak jauh [dari Jakarta] dan tidak memakan banyak waktu serta biaya?” pertanyaan yang mungkin sering mengisi kepala bagi sebagian traveller/backpacker/jejalan yang juga seorang pekerja [mungkin] yang tidak memiliki banyak waktu. Adalah Pulau Biawak [5.926142°LS 108.379898°BT] jawabannya, pulau yang berada di 40km Utara pesisir Jawa Barat ini merupakan salah satu dari sekian banyak pulau Indah yang ada di Indonesia. Masuk kedalam administratif Kabupaten Indramayu Jawa Barat, Pulau Biawak menawarkan keindahan bawah laut yang tidak kalah dengan tempat lainnya di Indonesia. Memang masih jarang orang mendengar atau mengetahui pulau ini. Nama Biawak diberikan oleh nelayan sekitar yang hendak istirahat atau singgah dipulau ini yang kemudia oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu diubah dan disahkan namanya menjadi Pulau Biawak. Nama awal pulau ini adalah Pulau Byompies yang diberikan oleh pemerintah Belanda saat itu pimpinan Z. M. Willem III. Pemerintah Belanda juga membangun mercusuar setinggi 65 meter pada tahun 1872, sampai saat ini mercusuar tersebut masih berfungsi sebagai tanda kapal kapal yang melintas disekitar pulau Biawak. Mungkin ada akan bertanya, jika mercusuar masih digunakan maka ada yang mengoperasikan dong? ya betul. Penghuni tetap disana adalah seorang pegawai Departemen Perhubungan Laut bagian Navigasi. Pak Sumanto namanya, sudah bekerja di Departemen Perhubungan sejak tahun 80 kemudian dikirim ke Pulau Biawak pada tahun 1988. Beliau berstatus pegawai negeri yang tinggal disana dalam kurun waktu tertentu untuk mengoperasikan, merawat mercusuar untuk kepentingan perjalanan laut. Terakhir saya kesana, beliau sudah di Pulau Biawak selama 4 bulan.

Kepulauan Biawak terdapat 3 pulau yaitu Pulau Biawak, Pulau Gosong, dan Pulau Candikian. Pulau Biawak pulau yang terdekat dari pesisir Jawa. untuk mencapai pulau Gosong ditempuh dalam 1jam dengan cuaca laut normal menggunakan kapal tradisional. dan -+ 2 jam untuk menuju ke pulau Candikian.

Pulau Gosong

Pulau ini lebih kecil dan tidak berpenghuni, tidak seperti pulau Biawak yang masih tertutup hutan, mangrove dan hewan lainnya. di Pulau Gosong hanya tersisa tanaman pantai. Pulau ini terlihat seperti pasir lautan yang terangkat saat laut surut. pulau ini menakjubkan bagi saya, karena hanya beda satu langkah dari bibir pasir pulau air lautan berisi hamparan coral yang luas [benar benar luas] dan dangkal. jadi kita harus hati hati jangan sampai merusak biota laut jika kita ingin melihat [snorkling] biota laut tersebut “Don’t Ever ever touch Them

Pulau Candikian

Pulau Candikian berada di paling utara dari gugusan 3 pulau ini. Saat saya berkunjung ke pulau biawak saya tidak sempat untuk berkunjung ke pulau Candikian karena cuaca yang tidak memungkinkan. namun dari cerita teman yang orang Indramayu ditambah informasi dari Bapak Darji [nelayan handal] yang membawa kapal kami, Pulau Candikian sekarang tidak lagi berbentuk pulau, dataran yang dulu ada sekarang sudah tenggelam oleh air laut. yang tersisa hanya hamparan karang dangkal seperti Pulau Gosong.

Biawak [Varanus salvator]

Biawak atau nama latinnya Varanus salvator berjumlah ratusan dalam berbagai ukuran ini hidup di hutan lembab Pulau Biawak. Predator yang masih bersaudara dengan komodo ini masih dipertanyakan tentang asal muasal keberadaannya. Banyak mitos yang berkembang mengenai hal ini. Banyak juga cerita cerita yang bisa anda dapatkan saat mengetik pulau Biawak pada teksboks pencarian search engine google. Saat saya bertanya kepada pak Sumanto, beliau pun belum benar benar mengerti kapan dan oleh siapa dan bagaimana biawak bisa ada dipulau tersebut.

Banyak juga para pendatang yang melakukan ritual ritual tertentu di pulau ini, atau aroma mistis dipulau ini juga masih sangant kental. Ditambah ada Makam Seorang syekh yang saya lupa namanya, kemudian sumur tua berwarna merah, makam seorang belanda yang tidak dikenal. tetapi, “Dimana Bumi berpijak disitu Langit diJunjung

Pulau Biawak in VR360°

Saya sempat membuat dokumentasi Pulau Biawak dan Pulau Gosong dalam bentuk Virtual Reality 360°. untuk mengaksesnya, cukup klik gambar dibawah 🙂

How To Get There

– Dari Jakarta menuju Indramayu

– Bila menggunakan Bus umum dari Jakarta, berhenti di Pertigaan Celeng [jalur lama pantura] lanjut menggunakan Elf [pagi – sore] atau ojek jika sampai disana malam hari.

– Pelabuhan Karangsong Indramayu adalah titik keberangkatan kapal menuju Pulau Biawak

Salam

DTA

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2012 All Rights Reserved. https://nnkq.wordpress.com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Milky Way over Sebesi Island

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2012 All Rights Reserved. https://nnkq.wordpress.com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Inspiration

“Every day must give birth to inspiration, every day must produce concepts, every day must give birth to ideas, that are better than yesterday’s as a continuation of the result of yesterday’s work”.

– Ir. Soekarno.


Scratch Color

 


My Brand New “Eye”

Sudah lama saya tidak membuka halaman demi halaman, dashboard, site stats, komentar dari blog saya ini. Karena keterbatasan untuk mengakses ya jadi terbengkalai blog ini.

Kali ini bukan untuk meracuni melalui foto-foto 😀 tetapi lebih ke memperkenalkan “mata” baru saya. Seperti judul “My Brand New Eye” bukan album Paramore lho ya, saya akan memperkenalkan mata baru saya untuk mengabadikan momen momen, “lukisan Tuhan” jika saya sedang bercumbu dengan alam. Lensa nama asli jenisnya. saya sebut mata karena dengan lensa lah kita bisa membidik objek melalui viewfinder kamera. Atau kata lain kita tidak bisa melihat jika tidak ada mata di kamera kita.

Tujuan awal saya adalah meng-upgrade focal length (jangkauan/zooming) dari lensa saya terdahulu yaitu Canon EF 17-40mm F4 L saya sekarang beralih ke nama lain yang juga tidak kalah dari lensa dengan merk bawaan kamera saya yaitu Sigma. Pilihan saya jatuh ke Sigma 10-20mm f3.5 EX DC HSM. Sempat bimbang karena dua mata ini. Si 17-40 yang sudah membawa saya kemana-mana, mengabadikan momen momen di luar sana dan merupakan mata pertama saya, mata yang juga merupakan salah satu mata yang masuk jajaran lensa Istimewa atau biasa di sebut Luxury atau L Series atau Gelang Merah ini. Yang juga sempat di bingungkan dengan saudara lama lensa 17-40 yaitu Canon EF-S 10-22mm f3.5 karena di lensa itulah focal yang saya cari. tetapi karena satu dan lain hal 😀 tambatan hati jatuh ke Siggy.

Sudah banyak review yang saya baca untuk mematapkan hati untuk meminang si Siggy, salah satunya review dari Photographer asal Italia yaitu Juza (http://www.juzaphoto.com/) yang banyak menggunakan lensa Sigma untuk memotret. Yang  juga saya jadikan panutan dalam mengabadikan landscape-landscape diluar sana.

Belum saya coba mata ini untuk terjun langsung diluar sana. Semoga pilihan saya tidak salah dan menghasilkan karya yang sejuk dilihat mata.

Regard


Anak Krakatau 360° Panorama

Anak Krakatau VR360°

click on image to view Anak Krakatau in VR360º

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Virtual Tour

Terakhir kali Desember kemarin saya kembali ke TNBTS. Sekedar berkemah di Ranukumbolo melepas kepenatan ibukota. Disana saya sempat membuat beberapa Virtual 360 untuk beberapa tempat atau pos di jalur pendakian Gunung Semeru. Dan baru hari ini saya selesaikan karena memang baru punya hosting untuk menyimpan filenya :D. Berikut Virtoual Tour dari Ranukumbolo sampai Pos Cemoro Kandang

Selamat Menikmati

Look, Love, & Learn Indonesia

All Photo & Material by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Curug Seribu : The Moment a Part of Sweet Memory

The Moment a Part of Sweet Memory

Kita membuang waktu bersama, kita ciptakan hangat sebuah cerita.
Seharusnya berikan pupuk terbaik untuk benih yg sudah ditanam..
(text By @Ekho Skupe Budiagung)

 

Look, Love, & Learn Indonesia

 

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Ranukumbolo : Lying Underneath the Misty Sky

Dan kamipun akhirnya terlelap dibuai sejuknya angin, dibawah awan berkabut dan dinginnya tanah Ranukumbolo..

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Mungkin itulah kalimat yang bisa mengungkapkan bagaimana saya dan seorang teman saat berkunjung ke Ranukumbolo. Danau yang berada di ketinggian 2400 mdpl dan juga terletak dijalur pendakian menuju Gunung Semeru (3676mdpl) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Lumajang Jawa Timur, memang serasa rumah untuk saya. Kali kedua saya menapakkan langkah kecil ini disalah satu torehan kuasNya. Dan Ranukumbolo selalu sukses membuat memori yang tidak bisa hilang di benak saya. Dingin angin, panasnya matahari pagi, hijau rerumputan bukit teletubbies, jernihnya air selalu membuat ingin lagi lagi lagi lagi lagi dan lagi untuk kembali merebahkan kepala disana.

Pada kesempatan kedua ini memang kami sengaja hanya ingin sampai di Ranukumbolo untuk sekedar kemping ceria :D, walaupun buddie saya (untuk selanjutnya saya sebut Ade) belum pernah menapakkan langkah di tanah tertinggi Jawa yaitu puncak Mahameru, tak lari gunung dikejar kata pepatah. jika memang masih diberi kesempatan, kami pasti kembali lagi.

Kami berdua berangkat ditanggal yang berbeda menuju Malang. Ade berangkat tanggal 19/12/11 sementara saya tanggal 20/12/11 karena saya harus menyelesaikan pekerjaan. Dan Ade pun karena harus menyelesaikan urusan dulu di Yogyakarta. Singkat cerita Ade sampai di Malang Tanggal 20 sementara saya masih berada di ular besi (baca : kereta) menuju malang. menggembel merupakan kata yang tepat untuk mengungkapkan Ade saat itu :D. Seperti sebuah tulisan yang berada di kaos seorang sahabat saya, “Tuhan bersama orang-orang pemberani“; 2 orang yang tidak dikenal yang juga seorang pendaki (Supri & Uut) bertemu Ade saat itu di stasiun dan mereka menawarkan untuk berangkat bareng ke Ranupani (desa terakhir sebelum naik Semeru). terbukti Tuhan selalu membantu kita dimanapun kita berada.

21/12 saya sampai di Malang, mereka bertiga sudah menunggu saya di sebuah warung pojok dilingkungan stasiun. Tak lama bincang bincang kami langsung cari kendaraan menuju Tumpang, sebuah pasar yang menjadi pangkalan Jeep yang akan membawa kami ke Ranupani. Salah satu kendala untuk berkunjung ke Semeru adalah mahalnya biaya kendaraan yang bisa membawa para pendaki menuju Ranupani. Apalagi untuk kami yang hanya berempat. Kembali, GOD Save Us All! kami bertemu rombongan pendaki asal ITB Bandung yang jumlahnya 14 orang; “ga pake lama, lobi langsunggg” kami bernegosiasi kemereka untuk share jeep mereka dan kami agar share cost yang dikeluarkan lebih sedikit ketimbang hanya kami berempat.

awan hitam menghiasai perjalanan kami menuju ranupani siang itu, terbukti tak lama kami “umpel umpelan” dibelakang jeep titik titik air turun. Cukup deras hujan saat itu. Layaknya hewan ternak hanya beratapkan terpal bolong dibelakang jeep kami menuju ranupani. Itulah seni dan nikmatnya mendaki ke semeru. terombang ambing dibelakang kendaraan beroda gerigi. Mungkin kita para pendaki saat ini harus lebih bersyukur ada kendaraan yang bisa membawa kita menuju ke ranupani. Mungkin dulu Soe Hok Gie dan sahabat harus berjalan kaki menuju ranupani, sekali lagi itu mungkin lho 😀

Pukul 15.00 waktu setempat saat jeep memarkirkan roda tepat didepan kantor balai taman nasional di ranupani. waktu yang sudah cukup telat untuk melanjutkan perjalanan langsung trekking mengingat hujan juga belum reda. Sekedar menyarankan dan tidak bermaksud menggurui, jika teman teman berniat berkungjung ke Semeru ataupun kegiatan outdoor manapun jika memang memungkinkan dan ada kesempatan alangkah spend waktu yang lebih banyak. Tidak terburu buru itu adalah nikmat bagi saya pribadi. itulah yang melandasi saya, Ade, Supri, & Uut untuk stay semalam dulu di Ranupani dan tidak langsung lanjut trekking sekedar untuk menikmati suasana ranupani, aklimatisasi (kalau bahasa kerennya :p). mengingat badan juga lelah seharian berada di ular besi. oiya, salah satu peraturan TNBTS untuk para pendaki yaitu batas pendakian adalah jam 16.00 jika ada peristiwa yang terjadi karena ulah pendaki yang tidak mengindahkan peraturan TNBTS tidak bertanggung jawab.. Teman ITB yang bersamaan naik Jeep memutuskan untuk langsung start trekking saat itu, sementara kita leyeh leyeh ngopi ngopi bersama mae, mas Deden, dan warga sekitar.

Bercengkrama dengan warga sekitar itu indah. Melihat senyum dari wajah kesederhanaan mereka, candaan, tungku masak tradisional yang bisa menghangatkan kami dan mereka (pendapat pribadi :)).

Pagi itu cerah, waktu yang ditunggu untuk start trekking menuju ranukumbolo. Jam 5 sudah cukup terang disana, beda dengan ibukota yang lebih barat ketimbang ranupani. Singkat cerita kami sampai di Ranukumbolo pukul 11. takjub, kaget dan gembira bagi Ade, Supri, & Uut yang kali pertama mereka menapakkan langkah kecil di ranukumbolo. Panas terik dicampur sejuknya udara gunung menghiasi makan siang saat itu. ya, Hal yang pertama uut & supri lakukan saat itu makaaaaannn!! mereka langsung mengeluarkan nesting dan perlengkapannya. Sementara saya masih menikmati horizon ranukumbolo. Ade? Apalagi kalau bukan bengong dan sangat takjub. mengapa? karena salah satu racun yang mengilhami dia untuk datang ke ranukumbolo adalah karena sebuah buku kalau tidak salah berjudul “5 cm” karena itu dia meminta saya untuk menemaninya ke Ranukumbolo.

klik, untuk melihat Ranukumbolo dalam versi 360°

Uut & Supri yang awalnya mengira niat kami untuk sampai puncak ternyata kaget pas mengetahui kami akan stay di ranukumbolo semalam siang itu. Kulkas (baca : Carrier) yang beratnya mungkin sama dengan berat 1 sak semen yang saya bawa dari ranupani sukses membuat malas untuk melanjutkan menuju kalimati, itu juga karena ajakan Ade untuk stay semalam di ranukumbolo. Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan menuju kalimati, dan kami? dirikan tenda dan tidurr 😀 😀 :D. Hanya kami berdua pendaki yang mendiami ranukumbolo saat itu, sepi heningnya ranukumbolo baru kali itu saya rasakan. Ada beberapa pendaki yang lewat dan sekedar istirahat untuk turun ke ranupani dari kalimati. setelah itu sepi lagii. Its like a private lake.. Sepinya ranukumbolo juga terkadang membuat kami merasa “tidak sendirian” satu hal yang membuat kami selalu was was dan ear sensitive jika mendengar suara suara yang sedikit aneh. Tidak lama matahari rebah di ufuk barat ada sekelompok pendaki asal malang yang turun dari kalimati dan akan stay semalam di ranukumbolo. “Akhirnya ada temen juga” ujar Ade :D. Kopi, Indomie, & Singkong goreng perekat kebersamaan kami berlima. Ngobrol panjang lebar dengan salah satu dari mereka yang ternyata berasal dari Lampung yang sedang singgah di Semeru dalam perjalanannya mengelilingi Indonesia menggunakan Pit Kebo (baca : Sepeda Ontel jenis wanita), salut untuk dia yang akrab disapa Ronny.

Moment terindah saat berada di ranukumbolo adalah menikmati si bulat kuning panas (baca : sunrise) di cerukan tepat ditimur ranukumbolo. Keluar tenda dan ranu masih berselimut kabut, rerumputan masih berhias embun sampai matahari naik menghangati kami, tak lupa segelas kopi hangat wow.. Honestly, i can find the right words to describe the atmosphere moment at that time.. Percaya tidak percaya kami berdua menikmati saat itu sampai hampir jam 11, terbayang panasnya jika berada di kota besar. Tidak aneh kulit kami hitam dan mengelupas setibanya kami di ibukota. Tapi itu nikmat..

Kembali hanya berdua karena teman teman dari Malang sudah melanjutkan trekking kembali ke Ranupani. Makan sudah, minum sudah, sunbathing 😀 sudah, kami kehabisan ide mau apa lagi setelah ranukumbolo & sisa pegal karena kulkas kemarin sukses kembali membuat mood males untuk melanjutkan ke kalimati. akhirnya kami berniat untuk jalan jalan sampai cemoro kandang dengan posisi tenda dan barang barang lain ditinggal di ranukumbolo. gambling memang ngeri kenapa kenapa. karena kalau seisi tenda hilang, habislah kita. just positive, ya berfikir positif saja tidak kenapa kenapa. Tanjakan Cinta, Oro Oro Ombo, & Cemoro Kandang merupakan tempat yang kami tuju. Hanya “Happy Shutter” menikmati landscape hijau dan mendung awan disana..

klik, untuk melihat Tanjakan Cinta dalam versi 360°

klik, untuk melihat Oro Oro Ombo dalam versi 360°

 

klik, untuk melihat Oro Oro Ombo dalam versi 360°

Sebaliknya kami dari Cemoro Kandang, ranukumbolo masih milik kami berdua. tidak ada yang datang untuk naik ataupun turun. Kembali we’re lying underneath the misty sky (baca : tidur :D). Tak lama terdengar ramai ramai pendaki yang datang (naik). Private lake is no longer ours. ya rombongan pendaki dari malang sekitar 30 orang datang dari ranupani dengan tujuan sama, hanya camp di ranukumbolo. Riweh ramai sore itu. sementara kami masih meringkup didalam tas tidur..

Singkat cerita pagi datang kembali, kopi dan sunbathing lagi. hari ini hari terakhir di ranukumbolo. Ade mengajak saya untuk mengitari ranukumbolo, ide bagus karena saya pun belum pernah melakukannya. alhasil kami mengitarinya sambil “Happy Shutter”. PS: pake sendal atau sepatu gunung ya, jangan pake sendal jepit :p. Butuh +- 2jam kami untuk mengitarinya. Sampai kembali lagi ke tenda, 2 buddie kita turun dari kalimati. Uut & Supri berhasil kembali ke ranukumbolo setelah berhasil menapakkan langkah di puncak Para Dewa. Singkat cerita kami siap siap untuk kembali ke ranupani. Dalam perjalanan kami berpapasan dengan hampir 300 lebih pendaki yang menuju ranukumbolo; maklum weekend dan liburan natal saat itu.

Seperti post-post saya sebelumnya, saya bukan orang yang pintar mengolah kata. Jadi mungkin foto bisa bercerita lebih baik daripada saya. Hope you Enjoy it. Jika ada teman yang membutuhkan info tentang Gunung Semeru, feel free to contact me i can help you as far as i can.

 

Tetap jaga Bumi Indonesia.

Look, Like, & Learn Indonesia.

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


The Day : Positive Jakarta Flashmob

Sebanyak lebih dari 3000 orang mengeksekusi flashmob hari ini di lapangan Ikada Monumen Nasional. Di iringi musik dari LMFAO – Party Rock Anthem yang mempunyai famous quote “Everyday I’m Shuffling”; tua, muda, wanita, pria, mahasiswa, pelajar, bos, eksekutif turun langsung ber-shufflin ria.

Gw sendiri datang hanya untuk mendokumentasikan kegiatan ini, datang sudah sangat siang hari ini. Dance sudah berlangsung setengah dari keseluruhan gerakan. Tapi tetap masih ada kesempatan buat dokumentasikan walaupun sedikit.

Ajang ini juga ditetapkan sebagai rekor dance dengan orang terbanyak, sebanyak 3.340 orang oleh asosiasi pencatatan rekor Indonesia dibawah asuhan Jaya Suprana, Muri. Itu memang yang menjadi tujuan utama kegiatan ini ingin memecahkan rekor Muri. Kegiatan ini menarik perhatian masyarakat yang memang sedang berkunjung minggu pagi di sekitar Monumen Nasional.

Para peserta juga membawa tulisan tulisan disebuah karton yang sengaja dibawanya dari rumah bertuliskan pesan pesan positif tentang Jakarta; *semoga yang “punya” Jakarta liat* :D. Hari ini gw juga melihat beberapa jurnalis yang mendokumentasikan kegiatan ini. Arta pentolan Kakigatel komunitas yang empunya hajat ini tampak sibuk selesai acara, ditarik sana sini oleh beberapa jurnalis yang hendak meminta keterangannya. Bakal tambah tenar aja nih bung Bartasan Wauran yang biasa dipanggil Arta.

This slideshow requires JavaScript.

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Anak Krakatau : Dangerously Beautiful

Anak Krakatau, itulah nama gunung yang lahir selepas meletusnya orangtuanya dulu (Krakatau). 1883 Krakatau memuntahkan semua isi perutnya yang efeknya luar biasa dahsyat digaris pesisir barat pulau jawa dan juga Tsunami yang konon gelombanya mencapai Jakarta pada saat itu. Abu vulkanik yang juga dikabarkan mencapai Asia Tengah dan juga Australia itu merupakan ledakan gunung api terbesar di Indonesia setelah Gunung Toba di Sumatra Utara yang sekarang kalderanya membentuk Danau Toba; dan tidak lupa The Great Great Vulcanic Explosion Ever yaitu Gunung Tambora.

Setiap orang yang mendengar pendakian menuju ke gunung anak Krakatau pasti mereka bilang (dengan ekspresi kaget) “hah? yakin lo? ga meledak apa?” ya memang bisa dibilang berbahaya melakukan pendakian ke gunung anak krakatau yang tingginya -+ 230mdpl itu; bagaimana tidak menurut balai Taman Nasional & penduduk sekitar hampir -+ 1000 gempa kecil disertai “batuk” (memuntahkan material vulkanik) ke udara menghiasi kegiatan sehari hari masyarakat sekitar dan juga terdengar sampai pesisir pantai anyer dan sekitarnya. Sampai saya dan teman-teman mempunyai sebutan untuk anak krakatau yaitu “Si Cantik yang Berbahaya”. ya sangat cantik memang anak krakatau itu, berada di tengah lautan samudra hindia dan dikelilingi oleh 3 pulau kolega orang tuanya silam (Rakata, Sertung, & Panjang).

Mungkin sudah banyak blog, website, forum dari dalam dan luar negri yang membahas pulau anak krakatau (sampai ada film mengenai krakatau), disini saya hanya ingin share pengalaman saya menjumpai “si Cantik”.
2, 3, 4 Desember 2011 sebenarnya saya sudah mempunyai rencana untuk menghadiri gathering nasional di Dieng Jawa Tengah sebuah forum travelling dari komunitas besar di Indonesia, seorang sahabat (Doddy) mengabarkan kepada saya jika ada sahabat lain (Jhejhe) mengajak untuk melakukan pendakian ke anak krakatau. Tidak pakai pikir panjang saya membatalkan rencana awal saya ke Dieng. Sudah merupakan impian untuk bisa menjumpai anak krakatau langsung dari dekat yang sebelumnya hanya bisa saya lihat dari iklan sebuah produk rokok di TV. Tak lama saya sounding kabar ini ke teman teman dekat. mereka pun antusias, 7 orang teman ikut gabung bersama saya dan 20 orang lainnya yang belum saya kenal. Sangat senang rasanya bisa jalan bersama orang orang baru yang belum pernah bertemu sebelumnya yang tujuan utamanya mencari teman baru (teman 1000 itu kurang, tetapi musuh 1 itu sangat banyak).

Jam 5 adalah rencana awal kami berangkat dari Jatibening. karena satu dan beberapa hal lainnya kita baru berangkat dari jatibening jam 20:30 WIB. yah sudah biasa jadwal berangkat selalu delay “this is us! tidak telat bukan kami!” hahahaha. berangkat menuju pelabuhan merak yaitu meeting point dengan rombongan Bu Lurah, mba Nung (nurjanah) sang ketua rombongan. Pikir saya kami yang telat sampai sana karena kita dijadwalkan harus sampai merak pukul 22:30. tetapi malah kami yang datang lebih awal dari rombongan bu lurah, God still Bless Us. Masih sempat kami menyantap nasi goreng `sedikit gosong` ala Pelabuhan Merak untuk mengganjal perut enek di kapal nanti. selang beberapa jam rombongan tiba, sempat kaget karena memang banyak banget rombongannya. yang salah satunya teman dari luar Indonesia yaitu Roman (dari Canada) dan Wendy de Jong (dari Belanda). tak lama bincang bincang kita digiring oleh bu Lurah menuju kapal karena memang sudah mau berangkat menuju Lampung.

Diatas kapal kita berkenalan (walau tidak semua) bercanda ria ditemani secangkir kopi penuh kebersamaan. Saya mengenalkan teman teman kepada rombongan lain begitupun mereka memperkenalkan teman temannya kepada kami.
entah kenapa keadaan badan sedang tidak enak, belum lama naik kapal ferry kepala & perut sudah berkomunikasi untuk menggerakan syaraf motorik mulut untuk mengeluarkan isi perut. Tidur merupakan solusi tepat untuk itu; karena kami hidup dengan canda ya tidur pun tidak bisa karena canda itu pula yang membuat mata tidak mau diajak untuk tidur. Seorang teman wanita dari rombongan kami terlihat sangat senang atau bisa dibilang Girang sesaat sebelum kapal ferry karta bersandar di bibir Pelabuhan Bakauheni. entah kenapa, saya melihat itu dari dia (mungkin kali pertama dia naik gunung :p).

Dari Bakauheni disambung dengan kendaraan angkot kota berwarna kuning yang sebelumnya sudah disewa dan dikoordinasikan oleh Bu Lurah untuk membawa kami ke Dermaga Canti di Kalianda, Lampung Selatan; Dermaga tempat kami akan diberangkatkan menggunakan kapal ojek menuju anak krakatau. Subuh kami sampai di Dermaga Canti prepare dan Sunrise bercampur awan mendung menyambut perjalanan kami dari dermaga Canti. 2 Jam perkiraan lama perjalanan dari Canti menuju Pulau Sebesi. masih disekitaran perut & kepala yang terus berkoordinasi untuk mengeluarkan isi perut membuat saya tidak bisa menikmati horizon dan landskap sekitar. tergeletak diburitan kapal terayun ayun oleh ombak yang menerjang; yang memang berhasil membuat saya mengeluarkan isi perut kedalam kantong plastik. hahahah lucu menurut saya kali pertama saya muntah di kapal kecil yang biasanya tidak pernah. pelajarannya, makanlah dan kenyangkan perut anda sebelum bepergian menggunakan kapal.

Sekitar pukul 08:00 pagi itu kita bersandar di pulau Sebesi untuk repacking dan siap siap menuju anak krakatau. hanya berganti celana saja saya langsung berkeliling pantai sekitar untuk melihat lihat. yang memang juga tidak punya waktu lama juga kami di pulau sebesi karena ingin dilanjutkan menuju anak krakatau. selama perjalanan itu saya pun mengistirahatkan badan dan mata sejenak karena dari semalam memang belum diistirahatkan. di nina bobokan oleh ombak saya pun terbawa ke alam mimpi (bahasa gw gaya banget deh :p :D).
Matahari tepat diatas kepala kami saat tiba di garis pantai hitam si Anak Krakatau. ombak memang sedang besar saat itu, yang efeknya kesulitannya kami untuk turun dari kapal dan memang tidak ada dermaga juga disana. dibantu oleh bapak ABK menggunakan kapal kecil kami dibantu untuk turun.
Takjub dan terkagum kagum seraya senyam senyum sendiri saya sejak pertama kali menginjakan kaki di pantai Anak krakatau. Anak Krakatau yang mempunyai masa orang tua dengan masa kelam pada zamannya itu kini saya bisa bertamu ketempatnya untuk merasakan keindahan lukisanNya. dan yang membuat saya beserta teman teman lain merasa sangat beruntung karena pada hari itu si Cantik sangat tenang, hommy, dan menyambut kami dengan senyumnya. Tidak sesekali ia marah dengan mengeluarkan getaran ataupun luapan materialnya, Once Again God Bless Us.

Hanya butuh kurang dari 1 jam untuk mencapai patok 9, titik aman atau batas terakhir yang diizinkan balai taman nasional kepada para pengunjung yang hendak mendaki Anak krakatau dari pesisir pantai. Tidak semua dari kami adalah seorang pendaki atau kata lain pernah mendaki sebelumnya, jadi banyak juga dari teman teman yang lelah saat mendaki anak krakatau, 3 orang dari kamipun memutuskan untuk tidak melanjutkan karena memang suhu siang itu cukup panas, disamping itu Anak Krakatau mengeluarkan suhu sendiri dari perutnya.

Hanya satu kalimat yang terucap, “terima kasih Allah Kau beri aku kesempatan lagi untuk melihat salah satu dari sekian banyak lukisanMu” dan Teman merupakan hal terindah yang saya (mungkin anda dan kalian juga) miliki saat diberi kesempatan menikmati LukisanNya; *kenapa jadi melankolis gini..
saat saat yang ditunggu adalah “narsis di depan Lensa”. ya Picture Time. foto sana foto sini, kamera ini kamera itu, gaya ini gaya itu sudah kami jajal. sampai beberapa saat saya melihat salah satu teman mencoba untuk melihat lebih dekat puncak si Cantik. ada beberapa teman (saya tidak termasuk :D) yang berhasil sampai puncak Anak Krakatau saat itu. Belerang pekat + panas yang mereka bilang pertama kali saat cerita kepada teman teman lainnya yang tidak sampai kesana.
Sekali lagi, terima kasih kepada Si Cantik yang mengizinkan kami untuk melihat dia lebih jelas.

Kurang lebih 1 jam setelah mendokumentasikan landskap dari atas sana saya dan teman teman turun kembali ke pantai. Makan siang merupakan ide paling bagus saat itu. yeah laparr!!
Setelah semua selesai bertamu ke anak Krakatau dilanjutkan dengan main air. yah, snorkling time. snorkling dilakukan disisi belakang pulau Rakata. Kesan pertama saya melihat bawah airnya terlihat sudah mati terumbu karang disana, hanya terdapat patahan patahan hard coral dan beberapa soft coral kecil yang berusaha untuk survive. ya mungkin ini disebabkan oleh laut sekitar krakatau yang memang masuk dalam zona laut vulkanik gunung api. Tidak bisa beralama lama saya didalam air, karena gelombang cukup besar yang membuat sedikit malas untuk berlama lama. singkat cerita kami pun kembali ke sebesi untuk istirahat dan bersiap untuk esok.

Hari Kedua : kegiatannya hanya bermain air. cuaca Saat itu sangat bersahabat, Blue Sky Clear. cuaca yang tepat untuk main air dan menghitamkan kulit. spot pertama yaitu disisi Timur Laut pulau sebesi (kalo ga salah arahnya :D) hanya beberapa menit dari dermaga pulau sebesi. dan dilanjutkan ke pulau umang umang. Pulau yang masih tetangga dekat dengan pulau sebesi. Pulau ini tidak besar, tetapi disana wow! spot air yang paling bagus yang saya kunjungi menurut saya selama saya disana. Disana saya hanya melihat lihat dan mendokumentasikan landskap disana dan juga narsis time buat teman teman. Saking narsisnya sampai saat seorang teman dari Belanda, Wendy bilang kepada seorang teman “you guys so love making picture” hahaha the best quotation about Indonesian People :D.

saya merupakan orang yang tidak pintar dan tidak bisa banyak berkata kata. jadi saya sudahi cerita saya sampai disini. Mungkin dengan foto foto dibawah bisa bercerita lebih dari yang saya utarakan diatas.

Krakatau in VR360°

click on image to view Krakatau in VR360°

Thanks
my Best Regards

Look, Like, & Learn Indonesia

more about Krakatau :
http://id.wikipedia.org/wiki/Krakatau

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Positive Jakarta – Biggest Flashmob In Indonesia

Beberapa bulan lalu seorang teman jalan-jalan mengabarkan kalo dia dan komunitas kakigatel ingin membuat suatu kegiatan yang bakalan memecahkan rekor MURI. Dalam kepala bertanya-tanya seperti apa kegiatannya yang bisa dibilang ingin memecahkan rekor MURI. kakigatel yang beberapa bulan lalu juga sukses mengajak ribuan orang untuk ikut dalam kegiatan mereka yang diberi judul Mulung Tidung untuk kali keduanya. Ribuan orang tertarik dan tumpah ruah dalam acara tersebut, dan acara itu juga melibatkan pemerintah administratif Kepulauan seribu yang ikut turun langsung membuka acara tersebut di Marina Bay Ancol.

Ternyata setelah diberi bocoran oleh teman ternyata kegiatannya flashmob. flashmob kalo menurut wikipedia adalah “sebagai sekelompok orang yang berkumpul pada waktu dan tempat yang telah ditetapkan untuk melakukan suatu hal seperti lelucon konyol yaitu berteriak selama 30 detik dan cepat menyebar sebelum polisi tiba. Menggunakan ponsel, flash mob dapat mengubah tempat apabila yang pertama telah diganggu” itu kalo menurut wikipedia, bagaimana kalian mengartikannya aja; kurang jelas? tanya mbah Google dia bisa memberikan petuah bijak pasti :p. Mungkin bakalan seru kalo terlibat kegiatan seperti itu, ramai orang melakukan kegiatan unik seru dan mungkin sedikit gila & memalukan bagi sebagian orang yang belum pernah seperti saya :D. Target kegiatan ini adalah 4000 orang, jumlah yang tidak sedikit untuk melakukan kegiatan ini dan akan dieksekusi dihari minggu saat car free day di daerah Thamrin (Bundaran HI) Jakarta Pusat.

dibawah kutipan undangan yang ditujukan ke saya melalui Facebook Group Kakigatel.

Positive Jakarta - Biggest Flashmob

DEAR FRIENDS,

Pernah denger, liat atau ikutan event heboh macam Flashmob? Nge dance asyik dadakan di depan publik? Kali ini KAKIGATEL.COM dan PIERO SHOES akan mengadakan kegiatan sejenis tapi yang pastinya berbeda dan lebih seru dan sarat dengan Pesan POSITIVE. YEP, setiap peserta akan nge-dance sambil mengusung poster-poster antik dengan pesan-pesan POSITIVE buat kota Jakarta dan Indonesia. Cuma beberapa menit doang, tapi dengan target volunteer 4000an orang, kamu pasti gak kebayang hebohnya akan di MUSEUM-in di REKOR MURI INDONESIA. Makin seruu lagi ketika ada SEPATU GRATIS dari PIERO SHOES buat kamu-kamu yang ikutan.

MAKSUD & TUJUAN:

BUKAN AJANG NGETREND IKUTAN NGETREND !!
Event ini diadakan sebagai wadah ajang kreatifitas generasi muda Indonesia dalam mengekspresikan apresiasi mereka terhadap kepedulian sosial untuk kota metropolitan Jakarta dan Indonesia. Selain itu, Flash Mob POSITIVE JAKARTA bertujuan untuk menanamkan pemahaman semangat kesatuan untuk melakukan hal-hal yang positif dalam kehidupan sehari-hari. Menyampaikan pesan-pesan sosial yang baik dan menggugah kepada seluruh masyarakat melalui gerakan ataupun poster-poster yang diusung oleh peserta. Lebih dari itu Flash Mob kali ini memiliki TARGET untuk MEMECAHKAN REKOR MURI sebagai FLASHMOB TERBESAR di INDONESIA.

Udah Gatel kepengen mutusin urat malu ampe abis di depan publik kayak gini? Pengen mencoba melakukan hal-hal aneh, gila tapi unik dan berkesan, sambil dapet Sepatu keren dan Gratisan? Ayoo sob, SEGERA gabung dan AJAK TEMEN2 KAMU disini, di pesta FLASHMOB – POSITIVE JAKARTA.

ACARA INI TERBUKA UNTUK UMUM, BUAT SIAPA AJA, DI/DARI MANA AJA,TUA-MUDA, ANAK SEKOLAH, MAHASISWA, EXECUTIVE MUDA, BOS-BOS, KOMUNITAS, DLL.

Syarat & Ketentuan untuk menjadi PESERTA FLASHMOB POSITIVE JAKARTA:
1. BUKAN KARENA SEPATU KEREN, TAPI KARENA RASA NASIONALISME POSITIVE KAMU YANG KEREN
2. Mengisi FORMULIR PENDAFTARAN FLASHMOB POSITIVE JAKARTA di link ini: http://www.kakigatel.com/flashmob/registration.htm
3. Untuk mengakses FLASHMOB POSITIVE JAKARTA, WAJIB ikuti langkah2 sbb:
4. nge-LIKE fanpage Piero Shoes http://www.facebook.com/piero.indonesia?ref=ts
5. nge-LIKE fanpage KakiGateL http://www.facebook.com/kakigatel
6. nge-FOLLOW Twitter Piero Shoes @pierofootwear
7. nge-FOLLOW Twitter KakiGateL @kakigatel

PESERTA DIHARAPKAN BISA MENGHADIRI LATIHAN GERAKAN FLASHMOB At least 1 x Pertemuan. Caranya : UPDATE TERUS POSTINGAN di Group KakiGateL di FB / Twitter. Dan Latihan sendiri atau bareng temen2 GENG KAMU, dengan bantuan Video ini:

KALO LO ADA PESAN POSITIVE SENDIRI YG MAU LO SAMPE-IN, silahkan buat “POSTER ANTIK” bertuliskan PESAN2 POSITIVE UNTUK JAKARTA, DENGAN SUARA/ KREATIFITAS KALIAN SENDIRI. POSTER terbuat dari Karton biasa dengan tulisan spidol yang besar. PESANNYA BISA APA SAJA, ASAL TIDAK BERKAITAN DENGAN POLITIK DAN SARA. Contoh : I Love Jakarta, Say No to Macet, dll.

POSTER DIBAWA DAN DIUSUNG SAAT ACARA. Tekhniknya akan dijelaskan oleh Team Leader masing-masing baik melalui email atau briefing.

SEPATU GRATISNYA ???
DIBERIKAN ON THE SPOT. TEKHNIK DAN WAKTU PEMBERIAN AKAN DIUMUMKAN DIPOSTINGAN KEMUDIAN.

JADWAL LATIHAN:
– Diharapkan bisa latihan sendiri setelah VIDEO-CLIP nya di publishkan
– Setiap Hari Minggu jam 15:00PM di Gedung SMESCO (Jln. Jendral Gatot Subroto Kav. 94, JAKSEL) – Phone: 021.27535400
– Latihan Akbar pada tgl 10 Desember di Lapangan WISMA ALDIRON (Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 72, JAKSEL)

KETERANGAN LEBIH LANJUT, silahkan hubungi Contact Person dibawah ini :

DJ – 085695606011
HELENA – 087873142615
CHYNTIA – 085715401536
ICAL – 087770560453
ARTA – 087878808465


Jakarta Old Town in 360°

Kota Tua Jakarta VR360°

Click on image to view Kota Tua Jakarta in VR360°

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


My Room in 360° Panorama Version

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Handeuleum in 360° Panorama Version

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Cokin Z-Pro Filter Holder & Cokin Z-Pro 77mm Ring Adapter

Karena saya sangat tertarik pada fotografi landscape saya mencari referensi sebanyak banyak tentang hal hal dasar fotografi landscape serta gear apa saja yang dibutuhkan. Dari beberapa refernsi yang saya temukan disitu ditulis penggunaan filter GND (untuk mengatur perbedaan exposure) dan juga ND (jika anda ingin bermain dengan slow speed pada siang hari) saya pun langsung berfikir untuk menggunakan sistem filter menggunakan square filter atau filter kotak. Karena akan lebih mudah mengaturnya jika kita menggunakan filter Gradient.

pertama saya membeli Cokin Z-Pro holder dan Cokin Z-Pro 77mm Adapter Ring untuk 17-40mm saya. saya pikir bahan yang digunakan semacam mika atau semacamnya tapi ternyata plastik bahan dari holder ini. dan alumunium untuk ringnya.

Perbedaan antara Cokin Z-Pro Holder (kiri) (Standard Filters 100x100mm or 4 x 4” and Graduated Filters 100 x 150mm or 4 x 6”) & Cokin P Series Holder (kanan). Courtesy of http://darwinwiggett.wordpress.com

Bagian-bagian Cokin Z-Pro Holder

Z-Pro Holder ini terbagi dari beberapa bagian:

  1. holder utama
  2. beberapa penjepit slot yang dapat dipindah pindah sesuai keinginan
  3. Baut untuk memasang bagian slot tadi ke holder utama.

Holder ini terdiri dari 3 slot filter dan 1 slot untuk adapter ring yang terdapat dibagian belakang holder. Menurut penuturan penjual di toko tempat saya membeli holder ini, Z-Pro hanya tersedia 2 slot untuk filter karena pada slot pertama tidak bisa karena akan menggores badan filter ke badan holder. Sepertinya slot pertama ini digunakan untuk filter polarizer untuk square sistem filter seperti milik LEE.

Filter & Adapter Ring Slot

Z-Pro Holder filter slot

Gambar diatas memperlihatkan slot yang terdapat di Z-Pro holder. bagian bawah merupakan slot untuk adapter ring yang menempel pada lensa, dan 3 slot diatas slot untuk filternya. bagian-bagian tersebut ditempel menggunakan baut (dari kuningan) pada bagian holder utama. Anda dapat merubah dan memodifikasikan penggunaan slot dengan mengurangi atau menambah bagian slot tersebut.

Pasak Adaptor pada Holder

Holder ini juga mempunyai pasak (semacam tonjolan pada badan holder) yang memungkinkan mengunci adaptor ring pada holder agar holder tetap presisi pada adaptor ring. pasak ini juga dapat mengunci filter dalam hal ini filter polarizer yang bentuk pinggirnya seperti gerigi (contoh gambar). untuk vendor yang memproduksi filter polarizer untuk sistem holder hanya ada beberapa (setau saya) salah satunya cokin & Lee. tapi untuk meminang filter polarizer tersebut mahar yang harus disiapkan juga tidak sedikit :p

Cokin Z-Pro Holder on Canon 17-40mm F4 L

Canon 7D, Canon 17-40mm, UV HMC filter, CPL non slim fliter, & Cokin Adapter Ring + Holder

Foto disamping menunjukkan Cokin Z-Pro Holder terpasang pada lensa Canon 17-40mm. Pada lensa tersebut terpasang 2 filter screw in (bulat) yaitu UV & CPL, satu adaptor ring. Saya tidak tau berapa maksimum filter bulat yang bisa dipasang sebelum adaptor ring tanpa menghasilkan vignette (untuk APS-C sensor). memang masalah terbesar vignette adalah penggunaan screw in filter (filter bulat) yang terlalu banyak sebelum filter holder.

With Hitech GND 1.2 4″ x 6″ Soft

pada thumbnail foto disamping terpasang filter Hitech Gradient ND 1.2 4″ x 6″ (100 x 150) soft pada slot kedua holder tanpa perubahan slot. telihat baut logam hanya tersisa sedikit jika holder tidak ada modifikasi pada slot. lihat juga 2 pasak yang berada pada bawah holder terlihat sedikit keluar. Pasak tersebut selain bisa mengunci holder pada adaptor ring bisa juga menahan filter dengan badan holder agar filter tidak bengkok pada saat dipasangkan dengan holder.

Kesimpulan

Saya akan merekomendasikan holder ini untuk anda apabila anda mempunyai lensa wide angle. Holder ini masuk dalam kategori paling murah dibandingkan dengan holder 4″ x 4″ merek lain seperti hitech atau LEE. Seperti yang saya katakan sebelumnya jika anda memang ingin menggunakan sistem filter kotak dengan paduan lensa wide angle saya merekomendasikan holder ini. jika anda memiliki lensa non wide angle lebih baik anda memilih Cokin P-Series Holder ataupun Cokin A-Series Holder.

Jika anda penasaran dimana bisa mendapatkan holder ini, saya mendapatkan di Bhinneka.com toko nya berada di bilangan jakarta pusat (dekat senen) dengan bandrol Rp. 575.000 untuk holdernya dan +- Rp. 250.000 untuk 77mm adaptor ring nya (untuk adapter ring ini kebetulan saya order dari toko online).

salam

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Glazypop @Tryst’s Kemang 22/10

This slideshow requires JavaScript.

for more info :

http://www.facebook.com/profile.php?id=100000288749559

@glazypop

 

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.