Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

Photography

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17 – Ocean Creatures

Sugeng Rawuh, selamat datang di Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17. Terima kasih saya haturkan sebelumnya kepada pencetus ajang Turnamen Foto Perjalanan yaitu Dina & Ryan (duaransel.com) yang idenya brilian sekali ini dan juga tidak lupa bang Febry Fawzi host & juri Turnamen Foto Perjalanan Ronde 16 yang telah mempercayakan saya menjadi host Ronde 17 matursuwun-terima kasih-thank youdanke!!

Masih tidak percaya foto saya yang terpilih di Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17 dengan tema Pelarian. Tidak terpikirkan akan jadi host selanjutnya karena niat awal saya hanya ingin share dan berkenalan dengan teman pejalan & blogger sekalian, Voila! thanks for your all apreciation..

Setelah kita merenung, kabur dari rutinitas, lari dari kenyataan walau hanya sabtu minggu atau “tanggal merah” kita kembali ke dunia tempat kita tinggal yuk. 2/3 bagian bumi tertutupi lautan, bahkan negara kita tercinta Indonesia 2/3 nya pun tertutupi oleh lautan dan masuk kedalam salah satu dari negara kawasan “Coral Triangle” atau “Segitiga Karang” dunia yang kembali 2/3 spesies lautan yang ada di seluruh bumi bisa dijumpai di Indonesia. can you imagine? Saya sendiri pecinta laut baik di permukaan atau dikedalaman :D. Siapa yang tidak suka laut? pencetus turnamen ini pun mengambil tema Laut sebagai temanya dan saya yakin 90% teman-teman pernah dan suka pergi ke laut.

Ocean Creatures (Biota Lautan) menjadi tema yang saya angkat kali ini. Pasti teman-teman pernah menjumpai makhluk laut apapun bentuknya itu, Soft coral, hard coral, ikan, mamalia, dll. Dengan tema ini juga saya berharap kita sebagai jejalan selain menikmati tetapi juga bisa menjaga kehidupan mereka paling tidak dengan mengenal “apa sih itu?“, “bahayakah buat kita?“, “bagaimana atitude yang benar?“, “boleh ga kalo di pegang?“, atau “kalo keinjak gimana?“.  Karena tidak dipungkiri sedikit atau banyak, pariwisata juga ikut andil dalam kerusakan habitat laut. Tidak ingin kan pejalan dianggap sebagai perusak tempat/habitat/makhluk laut?

Jadi, yuk share foto teman-teman yang ada di hardisk, flashdisk, floopy (mungkin), atau masih fresh dari jalan weekend kemarin yang masih ada di MMC kamera tentang keanekaragaman biota laut

Some Photo Credit to Agus Hong

Some Photo Credit to Agus Hong

Save Corals

Save Corals

ATURAN MAIN:

  1. Masa submisi : 18-24 Maret 2013 23.59 WIB
  2. Foto HARUS merupakan hasil jepretan alias karya kamu sendiri
  3. Host foto ‘Ocean Creatures/Biota Lautan’ – mu di situsmu sendiri. Web, blog, Flickr, Picasa, Photobucket, dsb terserah.
  4. Submit foto pada kolom comment artikel ini dengan format berikut :
  • Nama/nama blog (nama Twitter bila ada)
  • Link blog
  • Judul/keterangan foto (maksimal 1 paragraf)
  • Link foto (ukuran foto sekitar 550 px, jangan terlalu besar)
  • Ada kemungkinan foto yang kamu kirim akan di-rehost di web tuan rumah. Terutama kalau terlalu besar atau bermasalah
  • Submisi lebih cepat lebih baik, sehingga fotomu bisa tertampil seatas mungkin, hehe
  • Foto yang tidak patut, tidak akan di-upload disini, kebijaksanaan tuan rumah (misal : mengandung kebencian SARA, nyeleneh, menghina pihak lain)
  • Foto tidak diperkenankan dalam bentuk kolase
  • Pengumuman pemenang : 2 – 3 hari setelah batas masa submisi
  • Foto akan dipampang didalam post setiap harinya pukul 18.00 – 24.00 (maaf ya teman) dan berdasarkan queue Comment post ini.

TURNAMEN FOTO PERJALANAN UNTUK TRAVELLER INDONESIA

Mengapa mengikuti Turnamen Foto Perjalanan?

  • Ajang sharing foto. Bersama, para travel blogger Indonesia membuat album-album perjalanan yang indah. Yang tersebar dalam ronde-ronde turnamen ini. Untuk dinikmati para pencinta perjalanan lainnya.
  • Kesempatan jadi pemenang. Pemenang tiap ronde menjadi tuan rumah ronde berikutnya. Plus, blog dan temamu (dengan link ybs) akan tercantum dalam daftar turnamen yang dimuat di setiap ronde yang mendatang. Not a bad publication.

Siapa yang bisa ikut?

  • (Travelblogger – Tak terbatas pada travel blogger profesional, blogger random yang suka perjalanan juga boleh ikut.
  • Setiap blog hanya boleh mengirimkan 1 foto. Misal DuaRansel yang terdiri dari Ryan dan Dina (2 orang) hanya boleh mengirim 1 foto total.
  • Pemenang berkewajiban menyelenggarakan ronde berikutnya di (travel) blog pribadinya, dalam kurun 1 minggu. Dengan demikian, roda turnamen tetap berputar.
  • Panduan bagi tuan rumah baru akan diinformasikan pada pengumuman pemenang. Jika pemenang tidak sanggup menjadi tuan rumah baru, pemenang lain akan ditunjuk.

Nggak punya blog tapi ingin ikutan?

  • Oke deh, ga apa-apa, kirim sini fotomu. Tapi partisipasimu hanya sebatas penyumbang foto saja. Kamu nggak bisa menang karena kamu nggak bisa jadi tuan rumah ronde berikutnya.
  • Eh tapi, kenapa nggak bikin travel blog baru aja sekalian? WordPress, Tumblr, dan Blogspot gampang kok, pakainya. Jangan pake Multiply ya, karena Multiply akan segera gulung kasur.

Hak dan kewajiban tuan rumah:

  • Menyelenggarakan ronde Turnamen Foto Perjalanan di blog-nya
  • Memilih tema
  • Melalui social media, mengajak para blogger lain untuk berpartisipasi
  • Meng-upload foto-foto yang masuk
  • Memilih pemenang (boleh dengan alasan apapun)
  • Menginformasikan pemenang baru apa yang perlu mereka lakukan (panduan akan disediakan)

DAFTAR TURNAMEN FOTO PERJALANAN

  1. Laut – DuaRansel
  2. Kuliner – A Border that breaks!
  3. Potret – Wira Nurmansyah
  4. Senja – Giri Prasetyo
  5. Pasar – Dwi Putri Ratnasari
  6. Kota – Mainmakan
  7. Hello, Human! (Manusia) – Windy Ariestanty
  8. Colour Up Your Life – Jalan2liburan
  9. Anak-Anak – Farli Sukanto
  10. Dia dan Binatang – Made Tozan Mimba
  11. Culture & Heritage  Noni Khairani
  12. Fotografer – Danan Wahyu Sumirat
  13. Malam – Noerazhka
  14. Transportasi – Titik
  15. Pasangan – Dansapar
  16. Pelarian/Escapism – Febry Fawzi
  17. Ocean Creatures – Danar Tri Atmojo
  18. Bisa kamu, bisa dia, just give your best shot mate!

***

Pendiri dan koordinator Turnamen Foto Perjalanan:
Dina DuaRansel.com

email : dina@duaransel.com
Twitter : @duaransel
Facebook : duaransel

Pertanyaan seputar penyelenggaraan dsb? Hubungi Dina .

Untuk menilik status terbaru beserta FAQ Turnamen Foto Perjalanan, silahkan cek:

Turnamen Foto Perjalanan untuk Traveler Indonesia

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17

Ocean Creatures / Biota Lautan

1. Wira Nurmansyah (@wiranurmansyah)

Black Tip Shark

Seekor black tip shark melintas di perairan pantai yang sangat dangkal di Wayag, Raja Ampat. Daerah ini merupakan ‘rumah’ bagi para hiu-hiu raja ampat karena selalu dijaga oleh petugas konservasi sehingga hiu mudah ditemui disana.

2. Maya Indah (@chiemay_acc)

Replikasi Dunia Laut

Sebagai warga negara Indonesia, saya merasa malu bahwa saya belum pernah sekalipun mengunjungi dan melihat sendiri keindahan alam bawah laut Indonesia. Hal sekecil snorkeling apalagi diving belum pernah saya lakukan juga. Baru sekali saya melihat keindahan bawah laut dan itu pun hanya replikasinya, yaitu ketika saya berkunjung ke SeaWorld Indonesia. Melihat replikasinya saja, sudah membuat saya terkagum-kagum, apalagi melihat sendiri aslinya. Saya berharap suatu saat dapat melihat sendiri keindahan tersebut, mungkin Karimunjawa sebagai awalnya.:)

3. Citra Rahman (@citrarahman)

Ketemu ‘singa’ di pantai Pulau Balai.

Pulau Balai adalah salah satu pulau kecil yang menjadi pusat pemerintahan kecamatan Pulau Banyak di Aceh Singkil. Keindahan pulau ini memang tidak setenar pulau-pulau lain seperti Bengkaru dan Palambak, tapi di pulau ini pula aku menemukan seekor Lion Fish yang bergerak anggun bersama ombak laut, persis di tepi pantai. Warnanya yang coklat berkamuflase dengan karang, nyaris tak kukenali pada awalnya. Kalau saja aku tidak melihat-lihat sebelum snorkeling, mungkin aku akan melewatkan pemandangan langka bertemu ikan ini. https://hananan.wordpress.com/2012/11/06/pulau-banyak-trip-1-tiba-di-pulau-balai/

4. Helena (@helenamantra)

Bintang Laut di Langit

Bintang Laut di Langit

Ternyata pagi hari pun di langit ada bintang.
Inilah jasad bintang laut kecil yang saya temukan di Beras Basah, Bontang.
Semoga dia bahagia di kehidupan selanjutnya.

5. Hijrah Saputra (@hijrahheiji)

Karang Batik, begitu kami menyebutnya, bentuk yang tak beraturan tapi memiliki keindahan tersendiri. Banyak ditemukan di perairan di antara Pantai Teupin Sirui dan Pulau Rubiah, Iboih, Sabang. Karang ini menjadi tempat tinggal ikan-ikan kecil termasuk Clown Fish (Ikan Badut). Untuk menemukan Karang Batik ini gampang, berada di kedalaman tidak lebih dari 5 meter, kita bisa snorkeling atau yang tidak ingin berbasah-basahan bisa menyewa Glass Bottom Boat, perahu dengan kaca. http://piyoh.blogspot.com/2013/03/finding-karang-batik.html

6. Ramdhan (@mutssu)

SAM_7308

Penyu hijau adalah salah satu dari sekian banyak biota yang dapat hidup di laut yang menakjubkan, dia bisa mengeluarkan ratusan telur dalam sekali bertelur. Tapi melihat sang telur berubah menjadi anak penyu dan berusaha keluar ke dunia ini adalah pengalaman luar biasa yang jarang ditemui selama saya melakukan perjalanan. Mereka harus segera kita bawa ke pantai untuk dilepaskan yang kelak akan kembali lagi sebagai penyu dewasa untuk bertelur di tempat dimana dia dilahirkan.

7. Antho (@JustAntho)

Upclose & Personal

Sore hari biasanya penyu-penyu mendekat ke beberapa penginapan di Derawan yang dibangun di atas perairan karena di sekitarnya banyak padang lamun. Dan ketika melihatnya, sayapun langsung plung!, menceburkan diri untuk melihat tarian sang penyu di air. Bisa berenang bersama seekor penyu di lautan merupakan suatu sensasi tersendiri, tapi saat itu, sayapun bisa bermain-main dan sesekali mengusap-usap kepala si penyu 🙂

8. Rifqy (@rifqybroody)

img_4227

Berada di dasar laut Bunaken 2 tahun lalu.. membuat saya ingin menikmati keindahan dasar lautnya lagi suatu waktu.. bersyukur karena sempat menikmati salah satu keindahan bawah laut Indonesia..

9. Halim (@halim_san)

Karang mati yang tersebar di pesisir pantai Pok Tunggal membuat saya bergidik. Banyak ikan kecil warna-warni terjebak di sela karang, mereka berenang ketakutan saat mendengar langkah manusia yang sudah siap dengan jaring ikannya. Tidak bisa dibayangkan betapa indahnya karang di sini sebelum ratusan sampai ribuan manusia menjamahi tempat ini… #saveOurNature :)

10. Regy Kurniawan (@regycleva)

Blue Ringed Octopus

Laut berisi aneka ragam makhluk, dari kecil hingga raksasa, dari makhluk langka hingga makhluk gaib. Blue ringed octopus ini salah satunya. Ukurannya kecil, hampir sebesar bola pingpong. Jalannya juga selow walopun kakinya ada banyak. Tapi bisanya? Nomor 3 paling berbahaya di dunia. Hewan langka ini hidup di sepanjang garis pantai Asia Tenggara hingga Australia, dan hidup di daerah berpasir. Tidak seterkenal hiu yang ngetop di twitter, Blue Ringed Octopus hanyalah salah satu bagian kecil dari keseluruhan ekosistem laut dan kurang ngetop. Tapi keberadaannya tentu sangat penting, apa sih ciptaan Tuhan yang gak penting? Hehehe…

11. Isna Saragih (@isna_saragih)

Patrick

Sore itu aku dan kawan yang tampangnya mirip salah satu pemain OVJ ini 😀 pergi ke pantai Trikora di pulau Bintan. Rencana mau lihat sunset doang. Karena aku cenderung hidrofobia (trauma pernah tenggelam di air), kami keliling pantai aja nyarik bintang laut. Air laut sedang surut sehingga banyak “Patrick” yang kami dapat. Bukan buat dibawa pulang lho. Cuma buat dokumentasi aja 🙂 http://catatanavantgarde.wordpress.com/2012/04/12/halus-dan-putihnya-pasir-pantai-trikora/

12. Agus Hong (@agushong)

Berdansa dengan arus

Nama lengkan spesies ikan ini adalah Zebra turkeyfish atau Zebra Lionfish dengan nama ilmiahnya Dendrochirus Zebra
Tetapi kebanyakan orang mengenalnya dengan nama lionfish saja. :p Foto ini diambil saat sedang asyik freediving ria di pantai Amed – Bali dengan struktur pasir hitam serta batu-batu vulkanik, disini terdapat banyak spesies biota laut yang dapat Anda jumpai seperti Octopus, Nudibranch, dll tetapi butuh ketelitian dan kesabaran karena arus yang lumayan deras.

13. Agie Ginanjar (@agiezious)

Penyu Laut Hijau (Chleonia Mydas)

Penyu Laut Hijau (Chleonia Mydas)

Masih dari roadtrip Februari kemaren (hihi dengan adanya turnamen ini jadi nyicil upload fotonya :p ), ini diambil waktu kami berkunjung ke Batu Secret Zoo. Zoo yang satu ini tergolong sangat luas dan memiliki koleksi satwa yang cukup lengkap termasuk hewan-hewan laut. Cuman disayangkannya sih kebanyakan pengunjung lebih asyik berfoto narsis ketimbang membaca keterangan tentang hewan-hewan ini. Aquarium untuk hewan-hewan ini tidak terlalu besar, apalagi untuk hewan seukuran penyu laut hijau. Jadinya agak kasihan lihat hewan yang berukuran agak besar dengan besaran aquariumnya seperti itu. Tapi dari sisi kebersihan pengelola zoo ini tergolong baik, karena airnya terlihat jernih dan tidak terlihat penyakit jamur dsb pada hewan-hewan yang ditampilkan. Taken with iPhone 3GS, effect auto

14. Inggrid Hayasidarta (@inggridkoe)

Selamatkan Saya

Selamatkan Saya

Sebut aku tukik, ya, aku anak penyu yang tinggal di konservasi penyu, Pulau Sangalaki, Berau, Kalimantan Timur. Bersama ratusan saudara-saudaraku, aku berlomba-lomba menerjang ombak pantai dengan tungkai kecilku. Ironisnya, hanya belasan dari kami yang mampu bertahan dan menjadi penyu dewasa. Selamatkanlah aku, karena mengarungi lautan luas adalah mimpiku.

15. Meidi (@geretkoper)

Tembus Pandang

Aku memang lucu, bening, kecil dan bergerak kesana kemari seakan terbawa arus air. Tapi tau kah kamu aku bisa menyengatmu? Jangan buat aku marah yah, jika aku merasa terancam dengan mudahnya aku bisa menyakitimu dengan sengatanku. Tapi aku tetap lucu kan?

16. Cumi MzToro (@Cumi_MzToro)

Kutemukan Nemo

Kutemukan Nemo

Setiap nyebur kelaut untuk diving atau snorkling pasti seru kalo menemukan sesuatu yang lucu dan imut, salah satu nya ketemu nemo dalam perjalanan kami di Pulau Pahawang. Nemo di Pulau Pahawang dan Tanjung Putus Lampung ini tergolong banyak banget yang kami jumpai, hampir di setiap spot perhentian pasti ketemu dan lumayan agak besar2. Oh Indah nya Indonesia

17. Fetty (@fettyokli)

Terpesona dengan ikan-ikan cantik di Menjangan

WOW! ucap saya berkali-kali saat snorkeling di Pulau menjangan Bali. Berseliweran ikan-ikan warna-warni nan cantik, bintang laut, si imut nemo, lion fish dan msh banyak yg lainnya. ini adalah gambaran kumpulan ikan-ikan nan cantik, Terpesona saya dibuatnya!

18. TraveLafazr (@TraveLafazr)

Padang Rumput di Tepi Laut

Bukan rumput yang sama seperti di lapangan bola atau padang savana, tentu saja. Yang ini rumput laut, rumput yang tumbuh di tepi laut. Bukan rumput yang biasa dibikin manisan atau jadi campuran es campur, bukan. Tapi rumput laut yang ini juga bisa dimakan sebagai sayuran. Di Gunung Kidul, rumput laut jenis ini merupakan salah satu komoditas, objek mata pencaharian masyarakat lokal.

19. Gilang Rausin (@gilang8R)

Gurano Babintangan

Gurano Babintang adalah nama lain dari Hiu-Paus. “dua spesies dalam satu tubuh”, Itu kalimat pertama dari hubungan antara visual experience dan otak awam saya kepada biota laut yang satu ini setelah saya melihat salah satu sosok ikan raksasa di Kwatisore – Nabire, Papua.
Salah satu Spesies yang mudah ditemui di perairan Teluk Cendrawasih ini sebenarnya spesies ikan yang hanya memakan plankton.

20. Toliq Anshari

Terumbu Karang Pulau Maratua

Bawah laut di Kampung Payung-payung, Pulau Maratua selain terkenal dengan spot diving untuk menyaksikan penyu hijau, di sekitar dermaganya juga banyak terdapat terumbu karang yang cukup mempesona, apalagi di saat air surut, kita bisa berjalan kaki di sekitar dermaga untuk melihat gugusan terumbu karang yang cukup indah.

21. Nicky Siputro (@nicky_gitu)

Siput / Keong di Teluk Kiluan

Siput atau keong adalah nama umum yang diberikan untuk anggota kelas moluska Gastropoda. Dalam arti sempit, istilah ini diberikan bagi mereka yang memiliki cangkang bergelung pada tahap dewasa. Dalam arti luas, yang juga menjadi makna “Gastropoda”, mencakup siput dan siput bugil (siput tanpa cangkang, dalam bahasa Jawa dikenal sebagai resrespo). Siput dapat ditemukan pada berbagai lingkungan yang berbeda: dari parit hingga gurun, bahkan hingga laut yang sangat dalam. Sebagian besar spesies siput adalah hewan laut. Banyak juga yang hidup di darat, air tawar, bahkan air payau. Kebanyakan siput merupakan herbivora, walaupun beberapa spesies yang hidup di darat dan laut dapat merupakan omnivora atau karnivora predator

22. Rival (@rivalfact)

Coral Life

Coral Life

Seperti halnya rumah, Coral (Terumbu karang) merupakan rumah bagi para penghuni kehidupan laut, tidak hanya sebagai tempat tinggal saja namun terumbu karang merupakan tempat penghidupan bagi penghuninya, karena disana lah terjadi proses simbiosis mutualisme antara penduduknya yang membuat ekosistem laut terjadi dengan semestinya, jika tidak ada coral (terumbu karang) tidak hanya kehidupan laut yang terancam namun “kita” para penghuni daratan terancam tidak bisa makan enak “ikan bakar + sambel dabu-dabu” hehe #saveourcoral #saveourocean Salam satu nafas *blubb blubb blubb*

23. Danan Wahyu Sumirat (@dananwahyu)

Home

Tiada tempat seindah dan senyaman “rumah”. Setelah dua tahun lebih berkelana menyambangi dunia bawah di laut nusantara. Baru tahun kemarin mendapat kesempatan melongok dunia bawah laut di tanah kelahiran sendiri. Rasanya tak percaya jika di Pulau Tegal , Teluk Lampung dapat menyaksikan keindahan biota laut seperti: clown fish, mora, anemon dan coral indah.

24. Rizal Christian

Peace and Harmony…

Bahkan ikan pun hidup bersanding dalam kedamaian… Soldier fish lagi berduaan 🙂

25. Harry Purnama (@harrypurnama)

Dua Sejoli

Clown fish, atau yang lebih populer dikenal dengan Nemo, tak bisa dipisahkan dari rumahnya, yaitu anemone. Di mana ada anemone, di situ ada Nemo. Ada ketergantungan di antara keduanya. Sama seperti manusia dan ikan-ikan di lautan yang saling ketergantungan. Jika tidak ada ikan di laut, manusia pun kehabisan salah satu sumber makanan. Karena itu, manusia sebaiknya tidak mengotori lautan.

26. Ari Murdiyanto (@buzzerbeezz)

The Predators

Saya tidak tahu spesies hiu apa ini. Yang saya tahu, hiu adalah salah satu predator yang paling mematikan di lautan. Keseimbangan ekologi laut bergantung pada para predator ini. Namun faktanya, hewan ini banyak diburu karena siripnya yang berharga. Melihat langsung para penguasa lautan ini walaupun hanya lewat akuarium besar di Sea World Indonesia, menyadarkan saya bahwa hiu adalah hewan yang luar biasa. Buas namun penting.

 27. Yoesrianto Tahir (@yoesrianto)

Clown Fish

Kalau liat BGnya sih sebenarnya ini mr.clown sudah dalam gelas. bukan dilaut. difoto jaman 2006 kamera yang bisa nyemplung belum rame dan belum ada duit..hehehe..ketemu dengan mudahnya di pinggir pantai pulau samalona, makassar ndak perlu ke tengah-tengah atau pun naik perahu untuk bisa snorkeling dan ketemu mr. clown ini. kalau mau ya jalan-jalan ke makassar.

28. Niken (@andrianiken)

Anak pulau ini cuma butuh google buat nyemplung

29. Adam dan Susan (@pergidulu)

Going for Gold

Down in Ujung Genteng, Jawa Barat, there is a turtle conservation project underway which seeks to capture the eggs of wild turtles, hatch them and then release the small turtles back into the ocean to make sure as many of the eggs are successfully hatched as possible. This foto shows the release of hundreds of baby turtles back into the ocean.

30. Teuku Zamer (@zamerseven)

Akhir Kehidupan Sang Ksatria Laut

Akhir Kehidupan Sang Ksatria Laut

Saya yakin sosok asli bangkai ekor ikan ini dulunya besar. Skala foto ini 1 : 10. Tapi saya tidak tahu persis jenis ikan apa ini. Gambar tersebut saya ambil di dapur umum salah satu dayah di Banda Aceh: Dayah Modern Darul Ulum. Ya, ikan ini sudah dijadikan santapan bagi ratusan kepala santri dayah tersebut. Akhir kehidupan sang ksatria laut.

31. Febry Fawzi (@febryfawzi)

nyonya puff yang tertangkap!

iseng-iseng pas malem-malem di Jailolo, saya meminta teman saya untuk mencarikan udang. Kemarinnya teman baru pamer soal dapet udang dan lobster lalu dibakar bareng-bareng. Sial! malam itu saya malah dapet nyonya puff ini! begitu naik ke darat, dia langsung mengembang kayak adonan roti. Langsung deh dibalikin ke laut lagi. maaf ya nyonya puff


Pulau Semak Daun “Sunset View” in VR360°

Project ini sudah ada di dalam hardisk selama lebih dari 8 bulan lalu. Saya buat ini bulan Februari saat saya diminta menemani beberapa pasang teman yang ingin mencoba sensasi camp di pulau tak berpenghuni. “God bless us!“; Sunset sore itu sunggu indah, gradasi awan kuning kebiruan ditambah semburat sinar matahari membuat rona kemerahan di langit. Spot ini sebenarnya ada di sebelah barat Pulau Semak Daun, (pulaunya terdapat di belakang talent pada panorama). Berupa pasir berkarang yang timbul saat air laut surut. Pada panorama ada beberapa teman yang menjadi talent foto :). Enjoy!

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Click Image to see Pulau Semak Daun “Sunset View” in VR360°


Pulau Tidung Kepulauan Seribu in VR360°

Pulau Tidung, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta yang tidak sepi pengunjung tiap minggunya yang juga pulau destinasi paling di tuju oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Hampir 1500 orang tiap minggunya memadati pulau tersebut. Finally dari kali sekian saya mengunjungi gugusan kepulauan seribu, Pulau Tidung lah yang menjadi tujuan saya minggu kemarin. Dan seperti biasa saya pasti membuat Panorama Virtual Tour 360°, agar para visitor serasa berasa disana saat mengakses Virtual Tour ini. Di VR360° kali ini ada beberapa titik, diantaranya: 3 spot di Jembatan penghubung antara Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil dan satu lagi di Spot Gosong (Pulau Pasir Putih) di dekat dengan Pulau Payung (spot snorkeling). Enjoy!

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Click Image to see Pulau Tidung in VR360°


Complete Anak Krakatau in VR360°

Setelah beberapa kali mengunjungi Cagar Alam Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, pekerjaan rumah membuat virtual tour 360° terselesaikan. Walaupun pengambilan gambar dilakukan di hari dan waktu yang berbeda, paling tidak bisa membuat anda yang mengunjungi blog ini dan melihat virtual tour ini membayangkan serta berasa berada disana. didalam VR360° ini terdapat beberapa scene atau tempat, diantaranya, Pulau Sebuku, Pulau Umang umang, Pulau Sebesi, dan Anak Krakatau sendiri. Virtual tour ini juga masih banyak kekurangan, I’m still have much learn to create a perfect VR360°. I wish this VR360 could help you to gave a reference about wonderful places in Indonesia, Enjoy!

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Click Image to see Anak Krakatau Virtual Tour


Kalimati Camp Site, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru in VR360°

Akhir Agustus 2012 lalu saya untuk ketiga kalinya mendaki Gunung Semeru, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Lumajang Jawa Timur. Dengan tujuan mengantar beberapa teman yang memang ingin sekali menikmati keindahan Gunung Semeru yang terkenal sebagai tanah tertinggi Pulau Jawa dan juga Ranu Kumbolo yang tersohor itu. Dan dibawah adalah salah satu Pos atau Camp Site di Gunung Semeru yaitu Kalimati. Pos terakhir yang terbesar untuk Camp sebelum pendakian puncak Mahameru, saya sajikan dalam bentuk VR360° atau 360° Panorama Photography.

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

click Image to see Kalimati Camp Site in VR360°

intro Image


Solo Batik Carnival 5 : Metamorphosis

Batik merupakan salah satu dari sekian banyak budaya dan ciri bangsa Indonesia, yang sah di mata dunia sejak ditetapkannya oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009. Dan pada tanggal itu pula ditetapkan sebagai hari Batik Nasional oleh pemerintah Indonesia. Banyak daerah di Indonesia yang memproduksi batik, sehingga memunculkan banyak varian corak, warna, dan bentuk yang mencirikan daerah masing masing. Salah satunya Solo; Solo merupakan kota di Jawa Tengah yang merupakan salah satu sentra produsen batik terkenal di Indonesia. Banyak seniman dan hasil batik dari Solo sudah me-Mancanegara.

“Solo Kota Budaya”, “Batik is live, Solo is batik”, “Solo The Spirit of Java”; itulah beberapa semboyan atau sebutan untuk Solo dengan kaitannya dengan Batik & Budaya di Indonesia. Dengan semangat itu pula Pemerintah Kota Solo membuat ajang unjuk ketrampilan masyarakat dalam memadukan batik, tari, dan karnaval modern, yang bertajuk Solo Batik Carnival. Solo Batik Carnival (SBC) pada tahun ini sudah menginjak gelaran ke 5 dengan tema Metamorphosis sejak gelaran pertama pada tahun 2008. SBC 5 disenggalarakan pada tanggal 30 Juni 2012 bertempat di Lapangan Sriwedari Solo. Yang dilanjutkan dengan arak arakan peserta karnaval dari Lapangan Sriwedari sampai Balai Kota Solo (sepanjang jalan Slamet Riyadi).

Arti Metamorphosis pada gelaran SBC ke 5 ini adalah bagaimana proses pembuatan atau lahirnya batik yang berawal hanya dari kain putih sampai menjadi kain yang memiliki nilai yang tinggi, mampu memodernisasi, sampai mendunia. Maka dari itu gelaran ke 5 ini di kelompokan menjadi 5 group penampilan yaitu Meta 1 sampai Meta 5 (dibedakan dari warna kostum peserta Karnaval).

 

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com / https://nnkq.wordpress.com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Full Moon

Full Moon

“Full Moon”
2 Agustus 2012 01:49:49 WIB (GMT+7)
at S 6.26139° E 106.93149°


Pulau Biawak : Surga yang Terlupakan

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia dan dunia, Indonesia adalah surga bawah laut. Hampir ¾ dari keseluruhan spesies ada di Indonesia. Indonesia juga dikenal sebagai negara 1000 pulau. Bagaimana tidak bagian negara ini terpisahkan oleh lautan dan terpecah menjadi 6 pulau besar dan hampir 17.000 pulau pulau kecil. Tidak dipungkiri Indonesia bagian timur memang surga dari surganya bawah laut. Hamparan Soft Coral & Hardcoral yang terjaga serta spesies yang beraneka ragam. Tapi bagi sebagian orang yang tinggal dipulau jawa untuk berkunjung kesana tidak memakan waktu & biaya yang sedikit, dari itulah bagi sebagian orang harus pintar pintar mencari spot alternatif untuk menikmati indahnya bawah laut Indonesia.

“Dimana kita bisa menemukan spot bawah air dan pulau yang tidak jauh [dari Jakarta] dan tidak memakan banyak waktu serta biaya?” pertanyaan yang mungkin sering mengisi kepala bagi sebagian traveller/backpacker/jejalan yang juga seorang pekerja [mungkin] yang tidak memiliki banyak waktu. Adalah Pulau Biawak [5.926142°LS 108.379898°BT] jawabannya, pulau yang berada di 40km Utara pesisir Jawa Barat ini merupakan salah satu dari sekian banyak pulau Indah yang ada di Indonesia. Masuk kedalam administratif Kabupaten Indramayu Jawa Barat, Pulau Biawak menawarkan keindahan bawah laut yang tidak kalah dengan tempat lainnya di Indonesia. Memang masih jarang orang mendengar atau mengetahui pulau ini. Nama Biawak diberikan oleh nelayan sekitar yang hendak istirahat atau singgah dipulau ini yang kemudia oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu diubah dan disahkan namanya menjadi Pulau Biawak. Nama awal pulau ini adalah Pulau Byompies yang diberikan oleh pemerintah Belanda saat itu pimpinan Z. M. Willem III. Pemerintah Belanda juga membangun mercusuar setinggi 65 meter pada tahun 1872, sampai saat ini mercusuar tersebut masih berfungsi sebagai tanda kapal kapal yang melintas disekitar pulau Biawak. Mungkin ada akan bertanya, jika mercusuar masih digunakan maka ada yang mengoperasikan dong? ya betul. Penghuni tetap disana adalah seorang pegawai Departemen Perhubungan Laut bagian Navigasi. Pak Sumanto namanya, sudah bekerja di Departemen Perhubungan sejak tahun 80 kemudian dikirim ke Pulau Biawak pada tahun 1988. Beliau berstatus pegawai negeri yang tinggal disana dalam kurun waktu tertentu untuk mengoperasikan, merawat mercusuar untuk kepentingan perjalanan laut. Terakhir saya kesana, beliau sudah di Pulau Biawak selama 4 bulan.

Kepulauan Biawak terdapat 3 pulau yaitu Pulau Biawak, Pulau Gosong, dan Pulau Candikian. Pulau Biawak pulau yang terdekat dari pesisir Jawa. untuk mencapai pulau Gosong ditempuh dalam 1jam dengan cuaca laut normal menggunakan kapal tradisional. dan -+ 2 jam untuk menuju ke pulau Candikian.

Pulau Gosong

Pulau ini lebih kecil dan tidak berpenghuni, tidak seperti pulau Biawak yang masih tertutup hutan, mangrove dan hewan lainnya. di Pulau Gosong hanya tersisa tanaman pantai. Pulau ini terlihat seperti pasir lautan yang terangkat saat laut surut. pulau ini menakjubkan bagi saya, karena hanya beda satu langkah dari bibir pasir pulau air lautan berisi hamparan coral yang luas [benar benar luas] dan dangkal. jadi kita harus hati hati jangan sampai merusak biota laut jika kita ingin melihat [snorkling] biota laut tersebut “Don’t Ever ever touch Them

Pulau Candikian

Pulau Candikian berada di paling utara dari gugusan 3 pulau ini. Saat saya berkunjung ke pulau biawak saya tidak sempat untuk berkunjung ke pulau Candikian karena cuaca yang tidak memungkinkan. namun dari cerita teman yang orang Indramayu ditambah informasi dari Bapak Darji [nelayan handal] yang membawa kapal kami, Pulau Candikian sekarang tidak lagi berbentuk pulau, dataran yang dulu ada sekarang sudah tenggelam oleh air laut. yang tersisa hanya hamparan karang dangkal seperti Pulau Gosong.

Biawak [Varanus salvator]

Biawak atau nama latinnya Varanus salvator berjumlah ratusan dalam berbagai ukuran ini hidup di hutan lembab Pulau Biawak. Predator yang masih bersaudara dengan komodo ini masih dipertanyakan tentang asal muasal keberadaannya. Banyak mitos yang berkembang mengenai hal ini. Banyak juga cerita cerita yang bisa anda dapatkan saat mengetik pulau Biawak pada teksboks pencarian search engine google. Saat saya bertanya kepada pak Sumanto, beliau pun belum benar benar mengerti kapan dan oleh siapa dan bagaimana biawak bisa ada dipulau tersebut.

Banyak juga para pendatang yang melakukan ritual ritual tertentu di pulau ini, atau aroma mistis dipulau ini juga masih sangant kental. Ditambah ada Makam Seorang syekh yang saya lupa namanya, kemudian sumur tua berwarna merah, makam seorang belanda yang tidak dikenal. tetapi, “Dimana Bumi berpijak disitu Langit diJunjung

Pulau Biawak in VR360°

Saya sempat membuat dokumentasi Pulau Biawak dan Pulau Gosong dalam bentuk Virtual Reality 360°. untuk mengaksesnya, cukup klik gambar dibawah 🙂

How To Get There

– Dari Jakarta menuju Indramayu

– Bila menggunakan Bus umum dari Jakarta, berhenti di Pertigaan Celeng [jalur lama pantura] lanjut menggunakan Elf [pagi – sore] atau ojek jika sampai disana malam hari.

– Pelabuhan Karangsong Indramayu adalah titik keberangkatan kapal menuju Pulau Biawak

Salam

DTA

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2012 All Rights Reserved. https://nnkq.wordpress.com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Milky Way over Sebesi Island

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2012 All Rights Reserved. https://nnkq.wordpress.com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


My Brand New “Eye”

Sudah lama saya tidak membuka halaman demi halaman, dashboard, site stats, komentar dari blog saya ini. Karena keterbatasan untuk mengakses ya jadi terbengkalai blog ini.

Kali ini bukan untuk meracuni melalui foto-foto 😀 tetapi lebih ke memperkenalkan “mata” baru saya. Seperti judul “My Brand New Eye” bukan album Paramore lho ya, saya akan memperkenalkan mata baru saya untuk mengabadikan momen momen, “lukisan Tuhan” jika saya sedang bercumbu dengan alam. Lensa nama asli jenisnya. saya sebut mata karena dengan lensa lah kita bisa membidik objek melalui viewfinder kamera. Atau kata lain kita tidak bisa melihat jika tidak ada mata di kamera kita.

Tujuan awal saya adalah meng-upgrade focal length (jangkauan/zooming) dari lensa saya terdahulu yaitu Canon EF 17-40mm F4 L saya sekarang beralih ke nama lain yang juga tidak kalah dari lensa dengan merk bawaan kamera saya yaitu Sigma. Pilihan saya jatuh ke Sigma 10-20mm f3.5 EX DC HSM. Sempat bimbang karena dua mata ini. Si 17-40 yang sudah membawa saya kemana-mana, mengabadikan momen momen di luar sana dan merupakan mata pertama saya, mata yang juga merupakan salah satu mata yang masuk jajaran lensa Istimewa atau biasa di sebut Luxury atau L Series atau Gelang Merah ini. Yang juga sempat di bingungkan dengan saudara lama lensa 17-40 yaitu Canon EF-S 10-22mm f3.5 karena di lensa itulah focal yang saya cari. tetapi karena satu dan lain hal 😀 tambatan hati jatuh ke Siggy.

Sudah banyak review yang saya baca untuk mematapkan hati untuk meminang si Siggy, salah satunya review dari Photographer asal Italia yaitu Juza (http://www.juzaphoto.com/) yang banyak menggunakan lensa Sigma untuk memotret. Yang  juga saya jadikan panutan dalam mengabadikan landscape-landscape diluar sana.

Belum saya coba mata ini untuk terjun langsung diluar sana. Semoga pilihan saya tidak salah dan menghasilkan karya yang sejuk dilihat mata.

Regard


Anak Krakatau 360° Panorama

Anak Krakatau VR360°

click on image to view Anak Krakatau in VR360º

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Virtual Tour

Terakhir kali Desember kemarin saya kembali ke TNBTS. Sekedar berkemah di Ranukumbolo melepas kepenatan ibukota. Disana saya sempat membuat beberapa Virtual 360 untuk beberapa tempat atau pos di jalur pendakian Gunung Semeru. Dan baru hari ini saya selesaikan karena memang baru punya hosting untuk menyimpan filenya :D. Berikut Virtoual Tour dari Ranukumbolo sampai Pos Cemoro Kandang

Selamat Menikmati

Look, Love, & Learn Indonesia

All Photo & Material by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Curug Seribu : The Moment a Part of Sweet Memory

The Moment a Part of Sweet Memory

Kita membuang waktu bersama, kita ciptakan hangat sebuah cerita.
Seharusnya berikan pupuk terbaik untuk benih yg sudah ditanam..
(text By @Ekho Skupe Budiagung)

 

Look, Love, & Learn Indonesia

 

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Ranukumbolo : Lying Underneath the Misty Sky

Dan kamipun akhirnya terlelap dibuai sejuknya angin, dibawah awan berkabut dan dinginnya tanah Ranukumbolo..

Update September 2019: All VR360 links on this page might be unavailable due the migration of file hosting. If you wish to see all my works, please visit www.danartriatmojo.com or email me at danar.atmojo@gmail.com

Mungkin itulah kalimat yang bisa mengungkapkan bagaimana saya dan seorang teman saat berkunjung ke Ranukumbolo. Danau yang berada di ketinggian 2400 mdpl dan juga terletak dijalur pendakian menuju Gunung Semeru (3676mdpl) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Lumajang Jawa Timur, memang serasa rumah untuk saya. Kali kedua saya menapakkan langkah kecil ini disalah satu torehan kuasNya. Dan Ranukumbolo selalu sukses membuat memori yang tidak bisa hilang di benak saya. Dingin angin, panasnya matahari pagi, hijau rerumputan bukit teletubbies, jernihnya air selalu membuat ingin lagi lagi lagi lagi lagi dan lagi untuk kembali merebahkan kepala disana.

Pada kesempatan kedua ini memang kami sengaja hanya ingin sampai di Ranukumbolo untuk sekedar kemping ceria :D, walaupun buddie saya (untuk selanjutnya saya sebut Ade) belum pernah menapakkan langkah di tanah tertinggi Jawa yaitu puncak Mahameru, tak lari gunung dikejar kata pepatah. jika memang masih diberi kesempatan, kami pasti kembali lagi.

Kami berdua berangkat ditanggal yang berbeda menuju Malang. Ade berangkat tanggal 19/12/11 sementara saya tanggal 20/12/11 karena saya harus menyelesaikan pekerjaan. Dan Ade pun karena harus menyelesaikan urusan dulu di Yogyakarta. Singkat cerita Ade sampai di Malang Tanggal 20 sementara saya masih berada di ular besi (baca : kereta) menuju malang. menggembel merupakan kata yang tepat untuk mengungkapkan Ade saat itu :D. Seperti sebuah tulisan yang berada di kaos seorang sahabat saya, “Tuhan bersama orang-orang pemberani“; 2 orang yang tidak dikenal yang juga seorang pendaki (Supri & Uut) bertemu Ade saat itu di stasiun dan mereka menawarkan untuk berangkat bareng ke Ranupani (desa terakhir sebelum naik Semeru). terbukti Tuhan selalu membantu kita dimanapun kita berada.

21/12 saya sampai di Malang, mereka bertiga sudah menunggu saya di sebuah warung pojok dilingkungan stasiun. Tak lama bincang bincang kami langsung cari kendaraan menuju Tumpang, sebuah pasar yang menjadi pangkalan Jeep yang akan membawa kami ke Ranupani. Salah satu kendala untuk berkunjung ke Semeru adalah mahalnya biaya kendaraan yang bisa membawa para pendaki menuju Ranupani. Apalagi untuk kami yang hanya berempat. Kembali, GOD Save Us All! kami bertemu rombongan pendaki asal ITB Bandung yang jumlahnya 14 orang; “ga pake lama, lobi langsunggg” kami bernegosiasi kemereka untuk share jeep mereka dan kami agar share cost yang dikeluarkan lebih sedikit ketimbang hanya kami berempat.

awan hitam menghiasai perjalanan kami menuju ranupani siang itu, terbukti tak lama kami “umpel umpelan” dibelakang jeep titik titik air turun. Cukup deras hujan saat itu. Layaknya hewan ternak hanya beratapkan terpal bolong dibelakang jeep kami menuju ranupani. Itulah seni dan nikmatnya mendaki ke semeru. terombang ambing dibelakang kendaraan beroda gerigi. Mungkin kita para pendaki saat ini harus lebih bersyukur ada kendaraan yang bisa membawa kita menuju ke ranupani. Mungkin dulu Soe Hok Gie dan sahabat harus berjalan kaki menuju ranupani, sekali lagi itu mungkin lho 😀

Pukul 15.00 waktu setempat saat jeep memarkirkan roda tepat didepan kantor balai taman nasional di ranupani. waktu yang sudah cukup telat untuk melanjutkan perjalanan langsung trekking mengingat hujan juga belum reda. Sekedar menyarankan dan tidak bermaksud menggurui, jika teman teman berniat berkungjung ke Semeru ataupun kegiatan outdoor manapun jika memang memungkinkan dan ada kesempatan alangkah spend waktu yang lebih banyak. Tidak terburu buru itu adalah nikmat bagi saya pribadi. itulah yang melandasi saya, Ade, Supri, & Uut untuk stay semalam dulu di Ranupani dan tidak langsung lanjut trekking sekedar untuk menikmati suasana ranupani, aklimatisasi (kalau bahasa kerennya :p). mengingat badan juga lelah seharian berada di ular besi. oiya, salah satu peraturan TNBTS untuk para pendaki yaitu batas pendakian adalah jam 16.00 jika ada peristiwa yang terjadi karena ulah pendaki yang tidak mengindahkan peraturan TNBTS tidak bertanggung jawab.. Teman ITB yang bersamaan naik Jeep memutuskan untuk langsung start trekking saat itu, sementara kita leyeh leyeh ngopi ngopi bersama mae, mas Deden, dan warga sekitar.

Bercengkrama dengan warga sekitar itu indah. Melihat senyum dari wajah kesederhanaan mereka, candaan, tungku masak tradisional yang bisa menghangatkan kami dan mereka (pendapat pribadi :)).

Pagi itu cerah, waktu yang ditunggu untuk start trekking menuju ranukumbolo. Jam 5 sudah cukup terang disana, beda dengan ibukota yang lebih barat ketimbang ranupani. Singkat cerita kami sampai di Ranukumbolo pukul 11. takjub, kaget dan gembira bagi Ade, Supri, & Uut yang kali pertama mereka menapakkan langkah kecil di ranukumbolo. Panas terik dicampur sejuknya udara gunung menghiasi makan siang saat itu. ya, Hal yang pertama uut & supri lakukan saat itu makaaaaannn!! mereka langsung mengeluarkan nesting dan perlengkapannya. Sementara saya masih menikmati horizon ranukumbolo. Ade? Apalagi kalau bukan bengong dan sangat takjub. mengapa? karena salah satu racun yang mengilhami dia untuk datang ke ranukumbolo adalah karena sebuah buku kalau tidak salah berjudul “5 cm” karena itu dia meminta saya untuk menemaninya ke Ranukumbolo.

klik, untuk melihat Ranukumbolo dalam versi 360°

Uut & Supri yang awalnya mengira niat kami untuk sampai puncak ternyata kaget pas mengetahui kami akan stay di ranukumbolo semalam siang itu. Kulkas (baca : Carrier) yang beratnya mungkin sama dengan berat 1 sak semen yang saya bawa dari ranupani sukses membuat malas untuk melanjutkan menuju kalimati, itu juga karena ajakan Ade untuk stay semalam di ranukumbolo. Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan menuju kalimati, dan kami? dirikan tenda dan tidurr 😀 😀 :D. Hanya kami berdua pendaki yang mendiami ranukumbolo saat itu, sepi heningnya ranukumbolo baru kali itu saya rasakan. Ada beberapa pendaki yang lewat dan sekedar istirahat untuk turun ke ranupani dari kalimati. setelah itu sepi lagii. Its like a private lake.. Sepinya ranukumbolo juga terkadang membuat kami merasa “tidak sendirian” satu hal yang membuat kami selalu was was dan ear sensitive jika mendengar suara suara yang sedikit aneh. Tidak lama matahari rebah di ufuk barat ada sekelompok pendaki asal malang yang turun dari kalimati dan akan stay semalam di ranukumbolo. “Akhirnya ada temen juga” ujar Ade :D. Kopi, Indomie, & Singkong goreng perekat kebersamaan kami berlima. Ngobrol panjang lebar dengan salah satu dari mereka yang ternyata berasal dari Lampung yang sedang singgah di Semeru dalam perjalanannya mengelilingi Indonesia menggunakan Pit Kebo (baca : Sepeda Ontel jenis wanita), salut untuk dia yang akrab disapa Ronny.

Moment terindah saat berada di ranukumbolo adalah menikmati si bulat kuning panas (baca : sunrise) di cerukan tepat ditimur ranukumbolo. Keluar tenda dan ranu masih berselimut kabut, rerumputan masih berhias embun sampai matahari naik menghangati kami, tak lupa segelas kopi hangat wow.. Honestly, i can find the right words to describe the atmosphere moment at that time.. Percaya tidak percaya kami berdua menikmati saat itu sampai hampir jam 11, terbayang panasnya jika berada di kota besar. Tidak aneh kulit kami hitam dan mengelupas setibanya kami di ibukota. Tapi itu nikmat..

Kembali hanya berdua karena teman teman dari Malang sudah melanjutkan trekking kembali ke Ranupani. Makan sudah, minum sudah, sunbathing 😀 sudah, kami kehabisan ide mau apa lagi setelah ranukumbolo & sisa pegal karena kulkas kemarin sukses kembali membuat mood males untuk melanjutkan ke kalimati. akhirnya kami berniat untuk jalan jalan sampai cemoro kandang dengan posisi tenda dan barang barang lain ditinggal di ranukumbolo. gambling memang ngeri kenapa kenapa. karena kalau seisi tenda hilang, habislah kita. just positive, ya berfikir positif saja tidak kenapa kenapa. Tanjakan Cinta, Oro Oro Ombo, & Cemoro Kandang merupakan tempat yang kami tuju. Hanya “Happy Shutter” menikmati landscape hijau dan mendung awan disana..

klik, untuk melihat Tanjakan Cinta dalam versi 360°

klik, untuk melihat Oro Oro Ombo dalam versi 360°

 

klik, untuk melihat Oro Oro Ombo dalam versi 360°

Sebaliknya kami dari Cemoro Kandang, ranukumbolo masih milik kami berdua. tidak ada yang datang untuk naik ataupun turun. Kembali we’re lying underneath the misty sky (baca : tidur :D). Tak lama terdengar ramai ramai pendaki yang datang (naik). Private lake is no longer ours. ya rombongan pendaki dari malang sekitar 30 orang datang dari ranupani dengan tujuan sama, hanya camp di ranukumbolo. Riweh ramai sore itu. sementara kami masih meringkup didalam tas tidur..

Singkat cerita pagi datang kembali, kopi dan sunbathing lagi. hari ini hari terakhir di ranukumbolo. Ade mengajak saya untuk mengitari ranukumbolo, ide bagus karena saya pun belum pernah melakukannya. alhasil kami mengitarinya sambil “Happy Shutter”. PS: pake sendal atau sepatu gunung ya, jangan pake sendal jepit :p. Butuh +- 2jam kami untuk mengitarinya. Sampai kembali lagi ke tenda, 2 buddie kita turun dari kalimati. Uut & Supri berhasil kembali ke ranukumbolo setelah berhasil menapakkan langkah di puncak Para Dewa. Singkat cerita kami siap siap untuk kembali ke ranupani. Dalam perjalanan kami berpapasan dengan hampir 300 lebih pendaki yang menuju ranukumbolo; maklum weekend dan liburan natal saat itu.

Seperti post-post saya sebelumnya, saya bukan orang yang pintar mengolah kata. Jadi mungkin foto bisa bercerita lebih baik daripada saya. Hope you Enjoy it. Jika ada teman yang membutuhkan info tentang Gunung Semeru, feel free to contact me i can help you as far as i can.

 

Tetap jaga Bumi Indonesia.

Look, Like, & Learn Indonesia.

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Anak Krakatau : Dangerously Beautiful

Anak Krakatau, itulah nama gunung yang lahir selepas meletusnya orangtuanya dulu (Krakatau). 1883 Krakatau memuntahkan semua isi perutnya yang efeknya luar biasa dahsyat digaris pesisir barat pulau jawa dan juga Tsunami yang konon gelombanya mencapai Jakarta pada saat itu. Abu vulkanik yang juga dikabarkan mencapai Asia Tengah dan juga Australia itu merupakan ledakan gunung api terbesar di Indonesia setelah Gunung Toba di Sumatra Utara yang sekarang kalderanya membentuk Danau Toba; dan tidak lupa The Great Great Vulcanic Explosion Ever yaitu Gunung Tambora.

Setiap orang yang mendengar pendakian menuju ke gunung anak Krakatau pasti mereka bilang (dengan ekspresi kaget) “hah? yakin lo? ga meledak apa?” ya memang bisa dibilang berbahaya melakukan pendakian ke gunung anak krakatau yang tingginya -+ 230mdpl itu; bagaimana tidak menurut balai Taman Nasional & penduduk sekitar hampir -+ 1000 gempa kecil disertai “batuk” (memuntahkan material vulkanik) ke udara menghiasi kegiatan sehari hari masyarakat sekitar dan juga terdengar sampai pesisir pantai anyer dan sekitarnya. Sampai saya dan teman-teman mempunyai sebutan untuk anak krakatau yaitu “Si Cantik yang Berbahaya”. ya sangat cantik memang anak krakatau itu, berada di tengah lautan samudra hindia dan dikelilingi oleh 3 pulau kolega orang tuanya silam (Rakata, Sertung, & Panjang).

Mungkin sudah banyak blog, website, forum dari dalam dan luar negri yang membahas pulau anak krakatau (sampai ada film mengenai krakatau), disini saya hanya ingin share pengalaman saya menjumpai “si Cantik”.
2, 3, 4 Desember 2011 sebenarnya saya sudah mempunyai rencana untuk menghadiri gathering nasional di Dieng Jawa Tengah sebuah forum travelling dari komunitas besar di Indonesia, seorang sahabat (Doddy) mengabarkan kepada saya jika ada sahabat lain (Jhejhe) mengajak untuk melakukan pendakian ke anak krakatau. Tidak pakai pikir panjang saya membatalkan rencana awal saya ke Dieng. Sudah merupakan impian untuk bisa menjumpai anak krakatau langsung dari dekat yang sebelumnya hanya bisa saya lihat dari iklan sebuah produk rokok di TV. Tak lama saya sounding kabar ini ke teman teman dekat. mereka pun antusias, 7 orang teman ikut gabung bersama saya dan 20 orang lainnya yang belum saya kenal. Sangat senang rasanya bisa jalan bersama orang orang baru yang belum pernah bertemu sebelumnya yang tujuan utamanya mencari teman baru (teman 1000 itu kurang, tetapi musuh 1 itu sangat banyak).

Jam 5 adalah rencana awal kami berangkat dari Jatibening. karena satu dan beberapa hal lainnya kita baru berangkat dari jatibening jam 20:30 WIB. yah sudah biasa jadwal berangkat selalu delay “this is us! tidak telat bukan kami!” hahahaha. berangkat menuju pelabuhan merak yaitu meeting point dengan rombongan Bu Lurah, mba Nung (nurjanah) sang ketua rombongan. Pikir saya kami yang telat sampai sana karena kita dijadwalkan harus sampai merak pukul 22:30. tetapi malah kami yang datang lebih awal dari rombongan bu lurah, God still Bless Us. Masih sempat kami menyantap nasi goreng `sedikit gosong` ala Pelabuhan Merak untuk mengganjal perut enek di kapal nanti. selang beberapa jam rombongan tiba, sempat kaget karena memang banyak banget rombongannya. yang salah satunya teman dari luar Indonesia yaitu Roman (dari Canada) dan Wendy de Jong (dari Belanda). tak lama bincang bincang kita digiring oleh bu Lurah menuju kapal karena memang sudah mau berangkat menuju Lampung.

Diatas kapal kita berkenalan (walau tidak semua) bercanda ria ditemani secangkir kopi penuh kebersamaan. Saya mengenalkan teman teman kepada rombongan lain begitupun mereka memperkenalkan teman temannya kepada kami.
entah kenapa keadaan badan sedang tidak enak, belum lama naik kapal ferry kepala & perut sudah berkomunikasi untuk menggerakan syaraf motorik mulut untuk mengeluarkan isi perut. Tidur merupakan solusi tepat untuk itu; karena kami hidup dengan canda ya tidur pun tidak bisa karena canda itu pula yang membuat mata tidak mau diajak untuk tidur. Seorang teman wanita dari rombongan kami terlihat sangat senang atau bisa dibilang Girang sesaat sebelum kapal ferry karta bersandar di bibir Pelabuhan Bakauheni. entah kenapa, saya melihat itu dari dia (mungkin kali pertama dia naik gunung :p).

Dari Bakauheni disambung dengan kendaraan angkot kota berwarna kuning yang sebelumnya sudah disewa dan dikoordinasikan oleh Bu Lurah untuk membawa kami ke Dermaga Canti di Kalianda, Lampung Selatan; Dermaga tempat kami akan diberangkatkan menggunakan kapal ojek menuju anak krakatau. Subuh kami sampai di Dermaga Canti prepare dan Sunrise bercampur awan mendung menyambut perjalanan kami dari dermaga Canti. 2 Jam perkiraan lama perjalanan dari Canti menuju Pulau Sebesi. masih disekitaran perut & kepala yang terus berkoordinasi untuk mengeluarkan isi perut membuat saya tidak bisa menikmati horizon dan landskap sekitar. tergeletak diburitan kapal terayun ayun oleh ombak yang menerjang; yang memang berhasil membuat saya mengeluarkan isi perut kedalam kantong plastik. hahahah lucu menurut saya kali pertama saya muntah di kapal kecil yang biasanya tidak pernah. pelajarannya, makanlah dan kenyangkan perut anda sebelum bepergian menggunakan kapal.

Sekitar pukul 08:00 pagi itu kita bersandar di pulau Sebesi untuk repacking dan siap siap menuju anak krakatau. hanya berganti celana saja saya langsung berkeliling pantai sekitar untuk melihat lihat. yang memang juga tidak punya waktu lama juga kami di pulau sebesi karena ingin dilanjutkan menuju anak krakatau. selama perjalanan itu saya pun mengistirahatkan badan dan mata sejenak karena dari semalam memang belum diistirahatkan. di nina bobokan oleh ombak saya pun terbawa ke alam mimpi (bahasa gw gaya banget deh :p :D).
Matahari tepat diatas kepala kami saat tiba di garis pantai hitam si Anak Krakatau. ombak memang sedang besar saat itu, yang efeknya kesulitannya kami untuk turun dari kapal dan memang tidak ada dermaga juga disana. dibantu oleh bapak ABK menggunakan kapal kecil kami dibantu untuk turun.
Takjub dan terkagum kagum seraya senyam senyum sendiri saya sejak pertama kali menginjakan kaki di pantai Anak krakatau. Anak Krakatau yang mempunyai masa orang tua dengan masa kelam pada zamannya itu kini saya bisa bertamu ketempatnya untuk merasakan keindahan lukisanNya. dan yang membuat saya beserta teman teman lain merasa sangat beruntung karena pada hari itu si Cantik sangat tenang, hommy, dan menyambut kami dengan senyumnya. Tidak sesekali ia marah dengan mengeluarkan getaran ataupun luapan materialnya, Once Again God Bless Us.

Hanya butuh kurang dari 1 jam untuk mencapai patok 9, titik aman atau batas terakhir yang diizinkan balai taman nasional kepada para pengunjung yang hendak mendaki Anak krakatau dari pesisir pantai. Tidak semua dari kami adalah seorang pendaki atau kata lain pernah mendaki sebelumnya, jadi banyak juga dari teman teman yang lelah saat mendaki anak krakatau, 3 orang dari kamipun memutuskan untuk tidak melanjutkan karena memang suhu siang itu cukup panas, disamping itu Anak Krakatau mengeluarkan suhu sendiri dari perutnya.

Hanya satu kalimat yang terucap, “terima kasih Allah Kau beri aku kesempatan lagi untuk melihat salah satu dari sekian banyak lukisanMu” dan Teman merupakan hal terindah yang saya (mungkin anda dan kalian juga) miliki saat diberi kesempatan menikmati LukisanNya; *kenapa jadi melankolis gini..
saat saat yang ditunggu adalah “narsis di depan Lensa”. ya Picture Time. foto sana foto sini, kamera ini kamera itu, gaya ini gaya itu sudah kami jajal. sampai beberapa saat saya melihat salah satu teman mencoba untuk melihat lebih dekat puncak si Cantik. ada beberapa teman (saya tidak termasuk :D) yang berhasil sampai puncak Anak Krakatau saat itu. Belerang pekat + panas yang mereka bilang pertama kali saat cerita kepada teman teman lainnya yang tidak sampai kesana.
Sekali lagi, terima kasih kepada Si Cantik yang mengizinkan kami untuk melihat dia lebih jelas.

Kurang lebih 1 jam setelah mendokumentasikan landskap dari atas sana saya dan teman teman turun kembali ke pantai. Makan siang merupakan ide paling bagus saat itu. yeah laparr!!
Setelah semua selesai bertamu ke anak Krakatau dilanjutkan dengan main air. yah, snorkling time. snorkling dilakukan disisi belakang pulau Rakata. Kesan pertama saya melihat bawah airnya terlihat sudah mati terumbu karang disana, hanya terdapat patahan patahan hard coral dan beberapa soft coral kecil yang berusaha untuk survive. ya mungkin ini disebabkan oleh laut sekitar krakatau yang memang masuk dalam zona laut vulkanik gunung api. Tidak bisa beralama lama saya didalam air, karena gelombang cukup besar yang membuat sedikit malas untuk berlama lama. singkat cerita kami pun kembali ke sebesi untuk istirahat dan bersiap untuk esok.

Hari Kedua : kegiatannya hanya bermain air. cuaca Saat itu sangat bersahabat, Blue Sky Clear. cuaca yang tepat untuk main air dan menghitamkan kulit. spot pertama yaitu disisi Timur Laut pulau sebesi (kalo ga salah arahnya :D) hanya beberapa menit dari dermaga pulau sebesi. dan dilanjutkan ke pulau umang umang. Pulau yang masih tetangga dekat dengan pulau sebesi. Pulau ini tidak besar, tetapi disana wow! spot air yang paling bagus yang saya kunjungi menurut saya selama saya disana. Disana saya hanya melihat lihat dan mendokumentasikan landskap disana dan juga narsis time buat teman teman. Saking narsisnya sampai saat seorang teman dari Belanda, Wendy bilang kepada seorang teman “you guys so love making picture” hahaha the best quotation about Indonesian People :D.

saya merupakan orang yang tidak pintar dan tidak bisa banyak berkata kata. jadi saya sudahi cerita saya sampai disini. Mungkin dengan foto foto dibawah bisa bercerita lebih dari yang saya utarakan diatas.

Krakatau in VR360°

click on image to view Krakatau in VR360°

Thanks
my Best Regards

Look, Like, & Learn Indonesia

more about Krakatau :
http://id.wikipedia.org/wiki/Krakatau

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Jakarta Old Town in 360°

Kota Tua Jakarta VR360°

Click on image to view Kota Tua Jakarta in VR360°

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


My Room in 360° Panorama Version

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Handeuleum in 360° Panorama Version

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Cokin Z-Pro Filter Holder & Cokin Z-Pro 77mm Ring Adapter

Karena saya sangat tertarik pada fotografi landscape saya mencari referensi sebanyak banyak tentang hal hal dasar fotografi landscape serta gear apa saja yang dibutuhkan. Dari beberapa refernsi yang saya temukan disitu ditulis penggunaan filter GND (untuk mengatur perbedaan exposure) dan juga ND (jika anda ingin bermain dengan slow speed pada siang hari) saya pun langsung berfikir untuk menggunakan sistem filter menggunakan square filter atau filter kotak. Karena akan lebih mudah mengaturnya jika kita menggunakan filter Gradient.

pertama saya membeli Cokin Z-Pro holder dan Cokin Z-Pro 77mm Adapter Ring untuk 17-40mm saya. saya pikir bahan yang digunakan semacam mika atau semacamnya tapi ternyata plastik bahan dari holder ini. dan alumunium untuk ringnya.

Perbedaan antara Cokin Z-Pro Holder (kiri) (Standard Filters 100x100mm or 4 x 4” and Graduated Filters 100 x 150mm or 4 x 6”) & Cokin P Series Holder (kanan). Courtesy of http://darwinwiggett.wordpress.com

Bagian-bagian Cokin Z-Pro Holder

Z-Pro Holder ini terbagi dari beberapa bagian:

  1. holder utama
  2. beberapa penjepit slot yang dapat dipindah pindah sesuai keinginan
  3. Baut untuk memasang bagian slot tadi ke holder utama.

Holder ini terdiri dari 3 slot filter dan 1 slot untuk adapter ring yang terdapat dibagian belakang holder. Menurut penuturan penjual di toko tempat saya membeli holder ini, Z-Pro hanya tersedia 2 slot untuk filter karena pada slot pertama tidak bisa karena akan menggores badan filter ke badan holder. Sepertinya slot pertama ini digunakan untuk filter polarizer untuk square sistem filter seperti milik LEE.

Filter & Adapter Ring Slot

Z-Pro Holder filter slot

Gambar diatas memperlihatkan slot yang terdapat di Z-Pro holder. bagian bawah merupakan slot untuk adapter ring yang menempel pada lensa, dan 3 slot diatas slot untuk filternya. bagian-bagian tersebut ditempel menggunakan baut (dari kuningan) pada bagian holder utama. Anda dapat merubah dan memodifikasikan penggunaan slot dengan mengurangi atau menambah bagian slot tersebut.

Pasak Adaptor pada Holder

Holder ini juga mempunyai pasak (semacam tonjolan pada badan holder) yang memungkinkan mengunci adaptor ring pada holder agar holder tetap presisi pada adaptor ring. pasak ini juga dapat mengunci filter dalam hal ini filter polarizer yang bentuk pinggirnya seperti gerigi (contoh gambar). untuk vendor yang memproduksi filter polarizer untuk sistem holder hanya ada beberapa (setau saya) salah satunya cokin & Lee. tapi untuk meminang filter polarizer tersebut mahar yang harus disiapkan juga tidak sedikit :p

Cokin Z-Pro Holder on Canon 17-40mm F4 L

Canon 7D, Canon 17-40mm, UV HMC filter, CPL non slim fliter, & Cokin Adapter Ring + Holder

Foto disamping menunjukkan Cokin Z-Pro Holder terpasang pada lensa Canon 17-40mm. Pada lensa tersebut terpasang 2 filter screw in (bulat) yaitu UV & CPL, satu adaptor ring. Saya tidak tau berapa maksimum filter bulat yang bisa dipasang sebelum adaptor ring tanpa menghasilkan vignette (untuk APS-C sensor). memang masalah terbesar vignette adalah penggunaan screw in filter (filter bulat) yang terlalu banyak sebelum filter holder.

With Hitech GND 1.2 4″ x 6″ Soft

pada thumbnail foto disamping terpasang filter Hitech Gradient ND 1.2 4″ x 6″ (100 x 150) soft pada slot kedua holder tanpa perubahan slot. telihat baut logam hanya tersisa sedikit jika holder tidak ada modifikasi pada slot. lihat juga 2 pasak yang berada pada bawah holder terlihat sedikit keluar. Pasak tersebut selain bisa mengunci holder pada adaptor ring bisa juga menahan filter dengan badan holder agar filter tidak bengkok pada saat dipasangkan dengan holder.

Kesimpulan

Saya akan merekomendasikan holder ini untuk anda apabila anda mempunyai lensa wide angle. Holder ini masuk dalam kategori paling murah dibandingkan dengan holder 4″ x 4″ merek lain seperti hitech atau LEE. Seperti yang saya katakan sebelumnya jika anda memang ingin menggunakan sistem filter kotak dengan paduan lensa wide angle saya merekomendasikan holder ini. jika anda memiliki lensa non wide angle lebih baik anda memilih Cokin P-Series Holder ataupun Cokin A-Series Holder.

Jika anda penasaran dimana bisa mendapatkan holder ini, saya mendapatkan di Bhinneka.com toko nya berada di bilangan jakarta pusat (dekat senen) dengan bandrol Rp. 575.000 untuk holdernya dan +- Rp. 250.000 untuk 77mm adaptor ring nya (untuk adapter ring ini kebetulan saya order dari toko online).

salam

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.


Glazypop @Tryst’s Kemang 22/10

This slideshow requires JavaScript.

for more info :

http://www.facebook.com/profile.php?id=100000288749559

@glazypop

 

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.