Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

Born outlaw, destined savior

Pace' Peter

Pace’ Peter

Story about a men who dedicated his life for the lifes of Manusela National Park Birds. Seram, Ambon – Indonesia

“Ada satu keterampilan hidup yang tidak saya turunkan ke anak-anakku, yaitu menangkap burung. Dulu mungkin itu berguna untuk bertahan hidup sebulan. Tapi itu sebenarnya akan membunuh satu generasi sekarang. Mungkin dua. Mungkin tiga. Mereka bersekolah yang benar, untuk menjadi lebih maju dari saya dulu.” – Peter

“There is a life skill that I was not down to my children, catch the birds. It was possible & useful to survive a month. But it’s actually killing the current generation. Maybe two. Maybe three generation. They going to school now, to be more step ahead of me.” – Peter

Orang tuanya dulu mempunyai pekerjaan menangkap burung, ratusan. Menjualnya ke penadah dan meraup uang dari situ. Diturunkan dari orang tuanya Pace Peter terlahir sebagai penangkap burung-burung langka dan dilindungi yang ada di hutan hujan Taman Nasional Manusela, Seram, Ambon. Tak hanya keluarga Pace Peter, masyarakat desa Masihulan tempat Pace Peter tinggal, juga mempunyai pekerjaan serupa.

Rangkong, Kakatua Janggut Kuning, Nuri Merah, Nuri Kepala Hitam merupakan spesies burung yang menjadi target mereka. Burung-burung tersebut hidup di ujung pohon-pohon, 70-100 meter dari tanah. Pace Peter harus memanjat pohon tersebut untuk menangkap buruannya, memasang perangkap ditempat burung tersebut mencari makan, dan menunggu. Menunggu burung terperangkap, dan mengumpulkannya keesokan harinya.

Itulah kehidupan Pace Peter sebelum 2004. Tiga belas tahun menjadi penangkap dan penjual burung-burung langka sampai akhirnya dia sadar akan kelangsungan hidup burung-burung dihutan tempat dia hidup. Di awali oleh kedatangan sepasang naturalis, pengamat burung dari Inggris yang ingin mengamati “Birds of Wallacea”. Berbulan bulan pasangan tersebut tinggal di Masihulan, mengamati burung dari atas pohon menggunakan tali untuk berdiam diatas pohon. Pace Peter dan teman-teman yang menjadi pemandu saat itu mempunyai inisiatif membuatkan “Tree Canopy” untuk mengamati burung. Niat tersebut di respon positif oleh pasangan naturalis tersebut, dilanjutkan dengan membentuk Yayasan Wallacea & Seram Animal Rescue Center ditahun 2004 menggunakan dana pribadi dari pasangan tersebut. Yang kemudian dikelola oleh Pace Peter &- masyarakat Masihulan. 10 tahun berselang “Tree Canopy” sudah digunakan oleh banyak pengamat burung dari penjuru Indonesia dan juga mancanegara, traveler, bahkan wartawan

All Photos edited with VSCO Cam.

Advertisements

2 responses

  1. pipitokokot

    Hi boleh tanya itinerary ke Manusela National Park nggak? pengen tau juga tree-climbing di sana gimana ya prosedurnya? thank you

    October 10, 2015 at 09:52

    • Halo,

      Untuk akses ke Manusela, kemarin saya melewati desa saleman, ora beach, kemudian ke desa sawai. Di desa Sawai ada seorang bapak aktivis lingkungan yang punya homestay terkenal disana (saya lupa namanya). Anda bisa menghubungi beliau untuk arrange visit ke platform tree house. Beliau akan menjelaskan dan membantu anda 🙂

      October 13, 2015 at 11:07

Leave your Thought..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s