Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

Rise of Film Photography

Nikon FM2N - Danar Tri Atmojo - nnkq.wordpress.com

3 bulan terakhir saya sedang senang-senangnya bergelut sama kamera film. Terima kasih buat Nyimas Laula, teman yang nyekokin saya untuk coba (lagi) film fotografi. Dulu penghujung duduk di bangku sekolah menengah akhir, saya pernah menggunakan kamera dengan film atau roll film atau 35mm film sebagai penangkap cahayanya bermodal pinjaman dari kakak. Ga bertahan lama karena saat itu masih berfikir repot, wasted money, dan ga mahir juga memang. Sampai kepada bulan Agustus lalu I really felt in love with Film Photography.

“Kenapa harus repot kalau bisa instan?”, “Era digital lo masih pake film??” Beberapa pertanyaan atau mungkin lebih tepat kebingungan teman atau orang yang belum mengenal film fotografi. Sebelum diperkenalkan dan dicekokan lagi sama Nyimas, saya tau dia dan beberapa orang lain dari penghobi sampai yang Pro pun ada yang masih menggunakan film kamera. Hasilnya pun WOW, seperti orang bijak bilang “kamera nomor dua yang pertama mata”. Tak kenal maka tak sayang, saya kenalan dengan film kamera. Kamera film pertama yang saya beli Nikon FM seharga 250rb di pasar baru dengan kondisi seadanya yang penting bisa jepret.

The first three roll saya memang ga memuaskan, malah bisa dibilang hancur. belum dapat “feel” nya, kamera tanpa lightmeter, focusing ancur-ancuran. “Jangan takut gagal, just shoot” kata Nyimas. Seru menurut saya (norak juga sih) foto, do the best, cuci-scan, review. Ga liat hasil pas hunting, lebih berhati hati sebelum jepret.

Kenapa saya bilang saya jatuh cinta sama film fotografi? Beberapa kali browse fotografer ternama yang masih menggunakan film disertakan dengan deskripsi kamera dan filmnya, tone atau warna masing masing film itu khas, dan saya suka (banget). Atau mungkin pernah dengar VSCO, sebuah brand yang mengadopsi tone dari film-film kemudian disajikan untuk media editing digital. Yang kedua “nyeni ngamera film” dari loading roll, jepret, “art of gulung roll”, sampai proses developing. Lo bakalan puas dan bangga ketika lo liat hasil foto lo sesuai dengan keadaan pas foto atau sesuai dengan keinginan lo atau netral, no Under or Over exposure.

Memang sedang naik daun film kamera di 2014 saya juga yang menyumbang keikutsertaan meramaikan. Dan saya juga berharap saya bakalan last forever bukan cuma sekedar ikut-ikutan sama seperti harapan beberapa teman yang memang sudah duluan main di film kamera.

Thank to Nyimas Laula, thanks to everyone whom inspired me.

Salam.

Advertisements

4 responses

  1. filmnya gak mahal ya?

    November 28, 2014 at 09:56

    • Beragam kok mba. Masih terjangkau lah.. And it’s worth 🙂

      November 28, 2014 at 13:08

  2. qiqieseghnia

    biasanya kalau beli film di mana ya? soalnya nyari di pasar baru untung-untungan dapetnya.. sekalinya ada mahal banget.

    January 19, 2015 at 15:38

    • Halo..

      Kalo cari stok film, saya sendiri biasanya dapat dari teman teman penggiat analog juga. Ada beberapa nama yang udh dikenal. Atau coba pantengin Low Light Bazzar.

      January 20, 2015 at 14:51

Leave your Thought..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s