Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

The End meet The Beginning : Ijen – antara Pariwisata dan Ladang Nafkah

Siapa yang tidak tahu Kawah Ijen? Masyarakat Indonesia pasti tahu Kawah Ijen. Bahkan Kawah Ijen pernah masuk dalam film “War Photographer” kisah seorang fotografer dan sekaligus jurnalis terkenal James Nachtwey dalam mengabadikan perang-perang dan tragedi yang ada di dunia.

Kawah ijen adalah sebuah kaldera Gunung Ijen (2600mdpl) yang terdapat danau dipuncaknya dengan kedalaman -+200m berisi asam sulfat. Kaldera tersebut juga aktif dan menghembuskan gas belerang dimana sampai sekarang gas tersebut di manfaatkan oleh penampang lokal untuk mencari nafkah. Gas gas yang menguap dan kemudian mengembun dilarikan melalui pipa-pipa besi dan drum bekas, embun merah keemasan akan mengalir ke belerang disekitarnya menciptakan belerang keras murni yang siap di olah. Mereka bisa membawa 80-100kg belerang sekali jalan. Dan mereka biasanya bisa 2-3 kali jalan dalam sehari demi Rp. 400 – Rp. 600 per KG.  “Tidak siang atau malam asal target sudah terpenuhi kami sudahi” kata seorang penambang yang saya tanya diperjalanan. Saat malam jalur menuju kawah setelah pos penimbangan tidak terdapat penunjuk yang jelas; kanan dan kiri menganga jurang menuju kawah tidak ada pembatas. Belum lagi jika angin mengarah ke selatan yang membawa kepulan gas belerang, menambah tertutupnya jalur.

Disisi lain saat matahari nampak di ufuk timur, tidak sedikit wisatawan yang datang untuk mengabadikan lanskap Kawah Ijen terlebih di musim liburan. Memang indah “lukisan” Ijen saat pagi. Dan pasti banyak juga wisatawan yang mengabadikan para penambang dalam framenya, termasuk saya.

“The worst thing is to feel that as a photographer I’m benefiting from someone else’s tragedy. This Idea haunts me. It’s something I have to reckon every day, because I know that if I ever allow genuine compassion to be overtaken by personal ambition, I will have sold my soul. The only way I can justify my role is to have respect for the other person’s predicament. The extent to which I do that is the extent to which I become accepted by the other and to that extent I can accept myself.” James Nachtwey – 1991

to be continued..

Salam
Look Love Learn Indonesia
All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
Licenses & Print photo available.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.
Advertisements

7 responses

  1. Kawah Ijen memang punya kharisma dan banyak cerita yang bisa diungkapin lewat keindahan gambar yah… Nice pics 🙂
    Tapi jujur merinding banget pas baca quote-nya James….

    March 18, 2013 at 22:04

    • Terima kasih masbro.. 🙂

      udah nonton filmnya belum? lebih merinding lagi nanti. Tragedi 98, dan salah satu tuna wisma di pinggir rel kereta Jakarta juga masuk disitu selain Ijen.

      March 19, 2013 at 01:13

      • belum…judulnya apa, bro? Barangkali ada di utube 🙂

        March 22, 2013 at 08:37

      • Judulnya War Photographer..

        March 23, 2013 at 00:04

  2. Danar, koq blognya gak keliatan ya tulisannya? apa lappie aku bermasalah? *komen gak nyambung*

    March 19, 2013 at 17:06

  3. ehhh udah keliatan, fotonya keren 🙂

    March 19, 2013 at 17:07

    • Halo mba..

      Terima kasih 🙂
      Mungkin tulisannya tadi lagi ke wc sebentat 😀

      March 19, 2013 at 17:18

Leave your Thought..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s