Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

Mahameru : I always be there for you friends

Ini menjadi kali kedua dalam satu tahun saya ke Gunung Semeru. Desember tahun lalu saya pergi ke Taman Nasional ini dalam rangka untuk mengantar seorang teman yang memang sudah memintanya lama sekali. Saya pun berangkat walaupun yang akhirnya hanya piknik ceria 3 hari di Ranu Kumbolo. Pada kesempatan kali ini saya dan teman-teman menargetkan untuk menginjak tanah tertinggi pulau Jawa, yaitu Puncak Mahameru.

Berangkat 3 hari setelah Hari raya Idul Fitri Agustus lalu saya dan 7 sahabat pergi menuju Malang. Saya tau pasti akan sangat ramai Gunung Semeru pada bulan bulan seperti ini. Dan jelas hampir 1500 pendaki dalam 2 hari yang terdaftar dalam database Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dan ini menjadi kali pertama saya melakukan pendakian di Gunung Semeru saat High Season seperti itu.

Ranu Kumbolo hari pertama terlihat warna warni dan riuh ramai. Warna tenda para pendaki yang beraneka ragam mewarnai Ranu Kumbolo pagi itu. “Kaya pasar, rame bangett” ucap salah seorang teman yang baru kali pertama menginjakkan kaki di Danau di ketinggian 2400mdpl itu. Raut lelah dan senang terpancar dari beberapa wajah teman teman. Kami sampai di Ranu Kumbolo sudah sangat telat sekitar jam 3 Pagi, dan butir es kecil sudah menyelimuti tenda, dan rerumputan Ranu Kumbolo malam itu. Memang bukan pemandangan biasa jika es muncul di Ranu Kumbolo.

Kemarau membuat Oro oro Ombo tampak pudar, kering; tidak ada bunga yang menghiasi hijaunya bukit teletubies siang itu. Jalur pendakian dihiasi pasir debu gunung yang entah datang dari mana. Masker pun terpasang disemua muka para pendaki. pemandangan tersebut terlihat sepanjang jalur oro-oro Ombo sampai Kalimati. Namun pepohonan sudah tampak hijau setelah September/11 – Januari/12 lalu terbakar karena kemarau.

Gunung Semeru terlihat jelas dan gagah sore itu dari Kalimati. Takjub menjadi raut yang pertama dipancarkan teman teman. Indah sekali lukisan Tuhan yang satu ini. Menikmati sore dengan landscape Gunung Semeru ditemani segelas kopi dan candaan sahabat, momen tidak akan bisa tergantikan. Perapian kecil di malam hari, membuat makanan, dan tidak lupa guyonan membuat suasana dingin malam itu menjadi hangat. Siluet Gunung Semeru serasa memanggil untuk mengundang kami menyicipi indahnya landskap Jawa dari atas sana.

Tepat jam 12, 4 dari 8 orang berangkat untuk memenuhi undangan Mahameru tadi malam. 4 orang teman kami yang lain memilih untuk di tenda karena memang ada yang sangat drop kondisi badannya, dan beberapa karena sudah pernah menyicipi indahnya Mahameru. Akan kali kedua untuk saya untuk merasakan indahnya Mahameru. Pasir vulkanik mewarnai jalur Kalimati-Arcopodo-Kelik. Debu menyesakan pernapasan, dingin menyelimuti. Seorang teman akhirnya tak bisa melanjutkan, karena lututnya yang terkilir. Dia memilih stay di Arcopodo dan numpang di tenda para pendaki yang bermalam di Arcopodo, “suatu saat nanti kita pasti kembali Sal, Semeru selalu membuka pintu untuk semua orang yang dengan rendah hati bertamu kerumahnya..”. “Pelan tapi pasti” seperti sebuah lagu kami pelan pelan menapaki jalur menuju Mahameru. Nampak sangat ramai jalur menuju puncak pagi itu, terlihat lampu senter para pendaki yang berbaris dari Cemoro Tunggal – Mahameru. Pasir Mahameru tidak tampak seperti biasanya, lebih lembut, kering dan melelahkan. kaki kami terendam hampir mendekati lutut , naik 3 turun 2. Harga yang mahal untuk melihat sebuah keindahan.

Jam 06.30 tepat saya sampai di Tanah tertinggi pulau Jawa untuk kedua kalinya. 2 teman saya masih jauh dibawah. Sampai 8.30 saya menunggu mereka tidak kunjung datang. Dingin angin dan terik matahari yang membuat kulit wajah memerah diatas Mahameru pelan pelan melemaskan badan. Cerah, biru, kering,  Terik menggambarkan Mahameru pagi itu, sangat indah. Saya sempat berbincang dengan salah satu ranger yang juga seorang guide yang sedang membawa tamu (pendaki) asal negri Singa, “Sejak erupsi tahun lalu, jalur puncak ini menjadi tergerus. Saya takut jika hujan datang, material pasir terbawa oleh air dan jalur ini akan hilang..” Ucapnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh beliau. Itulah sebabnya mengapa pasir Mahameru tidak tampak seperti biasanya. Nampak lebih melelahkan untuk di pijak. Akhirnya hanya saya dan seorang teman yang berhasil muncak. Satu orang lagi memilih stay di jalur Mahameru untuk menunggu, karena kelelahan. “Someday friends, Someday..”

“It is not the mountain we conquer, but ourselves” — Sir Edmund Hillary

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
https://nnkq.wordpress.com / nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don't use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.
Advertisements

5 responses

  1. Semeru selalu charming, sayang belum kesampean.

    February 14, 2013 at 14:14

    • Halo bang Febry..

      Tengkyu sudah visit.
      Selalu bang, selalu charming.. disempatkan lah 🙂
      Luar negri aja bisa masa dalam negri ndak ..

      Salam

      February 14, 2013 at 14:20

      • Aishh… iya deh. disegerakan. hehe

        February 14, 2013 at 14:28

  2. Sumpah keren banget foto nya, jadi makin nafsu ke ranu kumbolo 🙂

    March 6, 2013 at 10:23

    • Berangkat mas.. jangan ditunda. Dipersiapkan yang matang .. 🙂

      March 7, 2013 at 00:14

Leave your Thought..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s