Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

Ranukumbolo : Lying Underneath the Misty Sky

Dan kamipun akhirnya terlelap dibuai sejuknya angin, dibawah awan berkabut dan dinginnya tanah Ranukumbolo..

Mungkin itulah kalimat yang bisa mengungkapkan bagaimana saya dan seorang teman saat berkunjung ke Ranukumbolo. Danau yang berada di ketinggian 2400 mdpl dan juga terletak dijalur pendakian menuju Gunung Semeru (3676mdpl) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Lumajang Jawa Timur, memang serasa rumah untuk saya. Kali kedua saya menapakkan langkah kecil ini disalah satu torehan kuasNya. Dan Ranukumbolo selalu sukses membuat memori yang tidak bisa hilang di benak saya. Dingin angin, panasnya matahari pagi, hijau rerumputan bukit teletubbies, jernihnya air selalu membuat ingin lagi lagi lagi lagi lagi dan lagi untuk kembali merebahkan kepala disana.

Pada kesempatan kedua ini memang kami sengaja hanya ingin sampai di Ranukumbolo untuk sekedar kemping ceria :D, walaupun buddie saya (untuk selanjutnya saya sebut Ade) belum pernah menapakkan langkah di tanah tertinggi Jawa yaitu puncak Mahameru, tak lari gunung dikejar kata pepatah. jika memang masih diberi kesempatan, kami pasti kembali lagi.

Kami berdua berangkat ditanggal yang berbeda menuju Malang. Ade berangkat tanggal 19/12/11 sementara saya tanggal 20/12/11 karena saya harus menyelesaikan pekerjaan. Dan Ade pun karena harus menyelesaikan urusan dulu di Yogyakarta. Singkat cerita Ade sampai di Malang Tanggal 20 sementara saya masih berada di ular besi (baca : kereta) menuju malang. menggembel merupakan kata yang tepat untuk mengungkapkan Ade saat itu :D. Seperti sebuah tulisan yang berada di kaos seorang sahabat saya, “Tuhan bersama orang-orang pemberani“; 2 orang yang tidak dikenal yang juga seorang pendaki (Supri & Uut) bertemu Ade saat itu di stasiun dan mereka menawarkan untuk berangkat bareng ke Ranupani (desa terakhir sebelum naik Semeru). terbukti Tuhan selalu membantu kita dimanapun kita berada.

21/12 saya sampai di Malang, mereka bertiga sudah menunggu saya di sebuah warung pojok dilingkungan stasiun. Tak lama bincang bincang kami langsung cari kendaraan menuju Tumpang, sebuah pasar yang menjadi pangkalan Jeep yang akan membawa kami ke Ranupani. Salah satu kendala untuk berkunjung ke Semeru adalah mahalnya biaya kendaraan yang bisa membawa para pendaki menuju Ranupani. Apalagi untuk kami yang hanya berempat. Kembali, GOD Save Us All! kami bertemu rombongan pendaki asal ITB Bandung yang jumlahnya 14 orang; “ga pake lama, lobi langsunggg” kami bernegosiasi kemereka untuk share jeep mereka dan kami agar share cost yang dikeluarkan lebih sedikit ketimbang hanya kami berempat.

awan hitam menghiasai perjalanan kami menuju ranupani siang itu, terbukti tak lama kami “umpel umpelan” dibelakang jeep titik titik air turun. Cukup deras hujan saat itu. Layaknya hewan ternak hanya beratapkan terpal bolong dibelakang jeep kami menuju ranupani. Itulah seni dan nikmatnya mendaki ke semeru. terombang ambing dibelakang kendaraan beroda gerigi. Mungkin kita para pendaki saat ini harus lebih bersyukur ada kendaraan yang bisa membawa kita menuju ke ranupani. Mungkin dulu Soe Hok Gie dan sahabat harus berjalan kaki menuju ranupani, sekali lagi itu mungkin lho 😀

Pukul 15.00 waktu setempat saat jeep memarkirkan roda tepat didepan kantor balai taman nasional di ranupani. waktu yang sudah cukup telat untuk melanjutkan perjalanan langsung trekking mengingat hujan juga belum reda. Sekedar menyarankan dan tidak bermaksud menggurui, jika teman teman berniat berkungjung ke Semeru ataupun kegiatan outdoor manapun jika memang memungkinkan dan ada kesempatan alangkah spend waktu yang lebih banyak. Tidak terburu buru itu adalah nikmat bagi saya pribadi. itulah yang melandasi saya, Ade, Supri, & Uut untuk stay semalam dulu di Ranupani dan tidak langsung lanjut trekking sekedar untuk menikmati suasana ranupani, aklimatisasi (kalau bahasa kerennya :p). mengingat badan juga lelah seharian berada di ular besi. oiya, salah satu peraturan TNBTS untuk para pendaki yaitu batas pendakian adalah jam 16.00 jika ada peristiwa yang terjadi karena ulah pendaki yang tidak mengindahkan peraturan TNBTS tidak bertanggung jawab.. Teman ITB yang bersamaan naik Jeep memutuskan untuk langsung start trekking saat itu, sementara kita leyeh leyeh ngopi ngopi bersama mae, mas Deden, dan warga sekitar.

Bercengkrama dengan warga sekitar itu indah. Melihat senyum dari wajah kesederhanaan mereka, candaan, tungku masak tradisional yang bisa menghangatkan kami dan mereka (pendapat pribadi :)).

Pagi itu cerah, waktu yang ditunggu untuk start trekking menuju ranukumbolo. Jam 5 sudah cukup terang disana, beda dengan ibukota yang lebih barat ketimbang ranupani. Singkat cerita kami sampai di Ranukumbolo pukul 11. takjub, kaget dan gembira bagi Ade, Supri, & Uut yang kali pertama mereka menapakkan langkah kecil di ranukumbolo. Panas terik dicampur sejuknya udara gunung menghiasi makan siang saat itu. ya, Hal yang pertama uut & supri lakukan saat itu makaaaaannn!! mereka langsung mengeluarkan nesting dan perlengkapannya. Sementara saya masih menikmati horizon ranukumbolo. Ade? Apalagi kalau bukan bengong dan sangat takjub. mengapa? karena salah satu racun yang mengilhami dia untuk datang ke ranukumbolo adalah karena sebuah buku kalau tidak salah berjudul “5 cm” karena itu dia meminta saya untuk menemaninya ke Ranukumbolo.

klik, untuk melihat Ranukumbolo dalam versi 360°

Uut & Supri yang awalnya mengira niat kami untuk sampai puncak ternyata kaget pas mengetahui kami akan stay di ranukumbolo semalam siang itu. Kulkas (baca : Carrier) yang beratnya mungkin sama dengan berat 1 sak semen yang saya bawa dari ranupani sukses membuat malas untuk melanjutkan menuju kalimati, itu juga karena ajakan Ade untuk stay semalam di ranukumbolo. Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan menuju kalimati, dan kami? dirikan tenda dan tidurr 😀 😀 :D. Hanya kami berdua pendaki yang mendiami ranukumbolo saat itu, sepi heningnya ranukumbolo baru kali itu saya rasakan. Ada beberapa pendaki yang lewat dan sekedar istirahat untuk turun ke ranupani dari kalimati. setelah itu sepi lagii. Its like a private lake.. Sepinya ranukumbolo juga terkadang membuat kami merasa “tidak sendirian” satu hal yang membuat kami selalu was was dan ear sensitive jika mendengar suara suara yang sedikit aneh. Tidak lama matahari rebah di ufuk barat ada sekelompok pendaki asal malang yang turun dari kalimati dan akan stay semalam di ranukumbolo. “Akhirnya ada temen juga” ujar Ade :D. Kopi, Indomie, & Singkong goreng perekat kebersamaan kami berlima. Ngobrol panjang lebar dengan salah satu dari mereka yang ternyata berasal dari Lampung yang sedang singgah di Semeru dalam perjalanannya mengelilingi Indonesia menggunakan Pit Kebo (baca : Sepeda Ontel jenis wanita), salut untuk dia yang akrab disapa Ronny.

Moment terindah saat berada di ranukumbolo adalah menikmati si bulat kuning panas (baca : sunrise) di cerukan tepat ditimur ranukumbolo. Keluar tenda dan ranu masih berselimut kabut, rerumputan masih berhias embun sampai matahari naik menghangati kami, tak lupa segelas kopi hangat wow.. Honestly, i can find the right words to describe the atmosphere moment at that time.. Percaya tidak percaya kami berdua menikmati saat itu sampai hampir jam 11, terbayang panasnya jika berada di kota besar. Tidak aneh kulit kami hitam dan mengelupas setibanya kami di ibukota. Tapi itu nikmat..

Kembali hanya berdua karena teman teman dari Malang sudah melanjutkan trekking kembali ke Ranupani. Makan sudah, minum sudah, sunbathing 😀 sudah, kami kehabisan ide mau apa lagi setelah ranukumbolo & sisa pegal karena kulkas kemarin sukses kembali membuat mood males untuk melanjutkan ke kalimati. akhirnya kami berniat untuk jalan jalan sampai cemoro kandang dengan posisi tenda dan barang barang lain ditinggal di ranukumbolo. gambling memang ngeri kenapa kenapa. karena kalau seisi tenda hilang, habislah kita. just positive, ya berfikir positif saja tidak kenapa kenapa. Tanjakan Cinta, Oro Oro Ombo, & Cemoro Kandang merupakan tempat yang kami tuju. Hanya “Happy Shutter” menikmati landscape hijau dan mendung awan disana..

klik, untuk melihat Tanjakan Cinta dalam versi 360°

klik, untuk melihat Oro Oro Ombo dalam versi 360°

 

klik, untuk melihat Oro Oro Ombo dalam versi 360°

Sebaliknya kami dari Cemoro Kandang, ranukumbolo masih milik kami berdua. tidak ada yang datang untuk naik ataupun turun. Kembali we’re lying underneath the misty sky (baca : tidur :D). Tak lama terdengar ramai ramai pendaki yang datang (naik). Private lake is no longer ours. ya rombongan pendaki dari malang sekitar 30 orang datang dari ranupani dengan tujuan sama, hanya camp di ranukumbolo. Riweh ramai sore itu. sementara kami masih meringkup didalam tas tidur..

Singkat cerita pagi datang kembali, kopi dan sunbathing lagi. hari ini hari terakhir di ranukumbolo. Ade mengajak saya untuk mengitari ranukumbolo, ide bagus karena saya pun belum pernah melakukannya. alhasil kami mengitarinya sambil “Happy Shutter”. PS: pake sendal atau sepatu gunung ya, jangan pake sendal jepit :p. Butuh +- 2jam kami untuk mengitarinya. Sampai kembali lagi ke tenda, 2 buddie kita turun dari kalimati. Uut & Supri berhasil kembali ke ranukumbolo setelah berhasil menapakkan langkah di puncak Para Dewa. Singkat cerita kami siap siap untuk kembali ke ranupani. Dalam perjalanan kami berpapasan dengan hampir 300 lebih pendaki yang menuju ranukumbolo; maklum weekend dan liburan natal saat itu.

Seperti post-post saya sebelumnya, saya bukan orang yang pintar mengolah kata. Jadi mungkin foto bisa bercerita lebih baik daripada saya. Hope you Enjoy it. Jika ada teman yang membutuhkan info tentang Gunung Semeru, feel free to contact me i can help you as far as i can.

Tetap jaga Bumi Indonesia.

Look, Like, & Learn Indonesia.

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Advertisements

12 responses

  1. Didit

    Keren Bro….apalai pic 360 nya bikin ngiler….bijimanah tuh ngebikinnya…

    January 10, 2012 at 12:02

    • Hallo Didit

      makasi sudah mampir. makasi makasi.
      bikinnya pakai kamera yang jelas. dan gambarnya baru diolah 😀

      January 10, 2012 at 21:29

  2. Wow.. nice pic!!!

    Juli 2011 permukaan air Ranu Kumbolo berubah jadi padang es tipis.. rumput di tepi danau menyisakan butiran kristal salju.. it’s beautifull.. 🙂

    January 11, 2012 at 18:33

    • Hallo Mas Ahmad..

      terima kasih sudah visit.
      iya kemarin juga sempat ada butiran es sedikit di tanah ranukumbolo pagi pagi. cuma mungkin tidak seperti bulan juli seperti mas Ahmad bilang.

      January 12, 2012 at 01:14

  3. Didit

    saya biasa olah hanya di sambung-sambung pake CS8 tapi gak bisa 3D kayak sampean…mohon pencerahan gan…

    January 14, 2012 at 09:46

  4. Didit

    oh iya tanya lagi…saya bermaksud membeli shutter release. menurut sampean mana yang applicable, model wireless IR atau cable Gan…Mohon pencerahan Gan…

    January 14, 2012 at 09:51

    • Hallo Mas Didit,

      terima kasih sudah visit lagi 🙂
      ada beberapa aplikasi yang bisa membuat foto panorama. photoshop salah satunya. hanya saja (dari pengalaman) photoshop hanya bisa “menjahit” untuk orientas foto vertikal atau horizontal tidak bisa keduanya dalam satu kali jahitan. coba buka link terkait http://wiki.panotools.org/ untuk tau bagaimana membuat virtual 360°. atau bisa juga join ke http://www.indonesiavirtual.com
      singkatnya ada teknik pemotretan & aplikasi khusus untuk membuat foto virtual 360°

      untuk shutter relase, kalau saya pribadi lebih melihat ke penggunaan. kalau hanya untuk keperluan landscape seperti yang saya geluti, saya lebih prefer cable selain harganya juga jauh dibawah yang wireless disamping itu saya juga memang belum butuh. tetapi kalau ada dana lebih, lebih baik beli shutter realese yang ada timernya. 🙂

      salam

      January 14, 2012 at 14:25

  5. wow cakepnya… foto2nya mantap juga, btw kenal sama si Kukuh Julianto juga (garray) ?

    April 13, 2012 at 11:18

    • Halo Mas Andrie,

      Makasi 🙂
      iya saya kenal sama mas Kukuh Garray. Mas temannya juga ya??

      Salam

      April 14, 2012 at 22:09

  6. langkahpetualang

    masbro cable shutter release ku gak bekerja…tape dehhh. mau di akalin pake timer kira2 masuk akal gak yah….
    oh iya september saya mau jalan-jalan ke Ranu kumbolo lagi.sampean monggo kalo mau ikut. skalian tanya point view yang bagus untuk lanscape di Rakum di sebelah mana aja ya? (sudah hampir 7thn saya gak kesana)

    August 7, 2012 at 09:32

    • Bisa saja pakai timer mas. Yang penting kamera tetap steady saat shutter ditekan.

      Kebetulan agustus ini saya berangkat lagi ke semeru. Mengantarkan teman 🙂

      August 7, 2012 at 20:10

  7. langkahpetualang

    wah jangan agustus mas…mepet lebaran…mudik dulu…heheheh….

    August 10, 2012 at 15:15

Leave your Thought..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s