Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

Anak Krakatau : Dangerously Beautiful

Anak Krakatau, itulah nama gunung yang lahir selepas meletusnya orangtuanya dulu (Krakatau). 1883 Krakatau memuntahkan semua isi perutnya yang efeknya luar biasa dahsyat digaris pesisir barat pulau jawa dan juga Tsunami yang konon gelombanya mencapai Jakarta pada saat itu. Abu vulkanik yang juga dikabarkan mencapai Asia Tengah dan juga Australia itu merupakan ledakan gunung api terbesar di Indonesia setelah Gunung Toba di Sumatra Utara yang sekarang kalderanya membentuk Danau Toba; dan tidak lupa The Great Great Vulcanic Explosion Ever yaitu Gunung Tambora.

Setiap orang yang mendengar pendakian menuju ke gunung anak Krakatau pasti mereka bilang (dengan ekspresi kaget) “hah? yakin lo? ga meledak apa?” ya memang bisa dibilang berbahaya melakukan pendakian ke gunung anak krakatau yang tingginya -+ 230mdpl itu; bagaimana tidak menurut balai Taman Nasional & penduduk sekitar hampir -+ 1000 gempa kecil disertai “batuk” (memuntahkan material vulkanik) ke udara menghiasi kegiatan sehari hari masyarakat sekitar dan juga terdengar sampai pesisir pantai anyer dan sekitarnya. Sampai saya dan teman-teman mempunyai sebutan untuk anak krakatau yaitu “Si Cantik yang Berbahaya”. ya sangat cantik memang anak krakatau itu, berada di tengah lautan samudra hindia dan dikelilingi oleh 3 pulau kolega orang tuanya silam (Rakata, Sertung, & Panjang).

Mungkin sudah banyak blog, website, forum dari dalam dan luar negri yang membahas pulau anak krakatau (sampai ada film mengenai krakatau), disini saya hanya ingin share pengalaman saya menjumpai “si Cantik”.
2, 3, 4 Desember 2011 sebenarnya saya sudah mempunyai rencana untuk menghadiri gathering nasional di Dieng Jawa Tengah sebuah forum travelling dari komunitas besar di Indonesia, seorang sahabat (Doddy) mengabarkan kepada saya jika ada sahabat lain (Jhejhe) mengajak untuk melakukan pendakian ke anak krakatau. Tidak pakai pikir panjang saya membatalkan rencana awal saya ke Dieng. Sudah merupakan impian untuk bisa menjumpai anak krakatau langsung dari dekat yang sebelumnya hanya bisa saya lihat dari iklan sebuah produk rokok di TV. Tak lama saya sounding kabar ini ke teman teman dekat. mereka pun antusias, 7 orang teman ikut gabung bersama saya dan 20 orang lainnya yang belum saya kenal. Sangat senang rasanya bisa jalan bersama orang orang baru yang belum pernah bertemu sebelumnya yang tujuan utamanya mencari teman baru (teman 1000 itu kurang, tetapi musuh 1 itu sangat banyak).

Jam 5 adalah rencana awal kami berangkat dari Jatibening. karena satu dan beberapa hal lainnya kita baru berangkat dari jatibening jam 20:30 WIB. yah sudah biasa jadwal berangkat selalu delay “this is us! tidak telat bukan kami!” hahahaha. berangkat menuju pelabuhan merak yaitu meeting point dengan rombongan Bu Lurah, mba Nung (nurjanah) sang ketua rombongan. Pikir saya kami yang telat sampai sana karena kita dijadwalkan harus sampai merak pukul 22:30. tetapi malah kami yang datang lebih awal dari rombongan bu lurah, God still Bless Us. Masih sempat kami menyantap nasi goreng `sedikit gosong` ala Pelabuhan Merak untuk mengganjal perut enek di kapal nanti. selang beberapa jam rombongan tiba, sempat kaget karena memang banyak banget rombongannya. yang salah satunya teman dari luar Indonesia yaitu Roman (dari Canada) dan Wendy de Jong (dari Belanda). tak lama bincang bincang kita digiring oleh bu Lurah menuju kapal karena memang sudah mau berangkat menuju Lampung.

Diatas kapal kita berkenalan (walau tidak semua) bercanda ria ditemani secangkir kopi penuh kebersamaan. Saya mengenalkan teman teman kepada rombongan lain begitupun mereka memperkenalkan teman temannya kepada kami.
entah kenapa keadaan badan sedang tidak enak, belum lama naik kapal ferry kepala & perut sudah berkomunikasi untuk menggerakan syaraf motorik mulut untuk mengeluarkan isi perut. Tidur merupakan solusi tepat untuk itu; karena kami hidup dengan canda ya tidur pun tidak bisa karena canda itu pula yang membuat mata tidak mau diajak untuk tidur. Seorang teman wanita dari rombongan kami terlihat sangat senang atau bisa dibilang Girang sesaat sebelum kapal ferry karta bersandar di bibir Pelabuhan Bakauheni. entah kenapa, saya melihat itu dari dia (mungkin kali pertama dia naik gunung :p).

Dari Bakauheni disambung dengan kendaraan angkot kota berwarna kuning yang sebelumnya sudah disewa dan dikoordinasikan oleh Bu Lurah untuk membawa kami ke Dermaga Canti di Kalianda, Lampung Selatan; Dermaga tempat kami akan diberangkatkan menggunakan kapal ojek menuju anak krakatau. Subuh kami sampai di Dermaga Canti prepare dan Sunrise bercampur awan mendung menyambut perjalanan kami dari dermaga Canti. 2 Jam perkiraan lama perjalanan dari Canti menuju Pulau Sebesi. masih disekitaran perut & kepala yang terus berkoordinasi untuk mengeluarkan isi perut membuat saya tidak bisa menikmati horizon dan landskap sekitar. tergeletak diburitan kapal terayun ayun oleh ombak yang menerjang; yang memang berhasil membuat saya mengeluarkan isi perut kedalam kantong plastik. hahahah lucu menurut saya kali pertama saya muntah di kapal kecil yang biasanya tidak pernah. pelajarannya, makanlah dan kenyangkan perut anda sebelum bepergian menggunakan kapal.

Sekitar pukul 08:00 pagi itu kita bersandar di pulau Sebesi untuk repacking dan siap siap menuju anak krakatau. hanya berganti celana saja saya langsung berkeliling pantai sekitar untuk melihat lihat. yang memang juga tidak punya waktu lama juga kami di pulau sebesi karena ingin dilanjutkan menuju anak krakatau. selama perjalanan itu saya pun mengistirahatkan badan dan mata sejenak karena dari semalam memang belum diistirahatkan. di nina bobokan oleh ombak saya pun terbawa ke alam mimpi (bahasa gw gaya banget deh :p :D).
Matahari tepat diatas kepala kami saat tiba di garis pantai hitam si Anak Krakatau. ombak memang sedang besar saat itu, yang efeknya kesulitannya kami untuk turun dari kapal dan memang tidak ada dermaga juga disana. dibantu oleh bapak ABK menggunakan kapal kecil kami dibantu untuk turun.
Takjub dan terkagum kagum seraya senyam senyum sendiri saya sejak pertama kali menginjakan kaki di pantai Anak krakatau. Anak Krakatau yang mempunyai masa orang tua dengan masa kelam pada zamannya itu kini saya bisa bertamu ketempatnya untuk merasakan keindahan lukisanNya. dan yang membuat saya beserta teman teman lain merasa sangat beruntung karena pada hari itu si Cantik sangat tenang, hommy, dan menyambut kami dengan senyumnya. Tidak sesekali ia marah dengan mengeluarkan getaran ataupun luapan materialnya, Once Again God Bless Us.

Hanya butuh kurang dari 1 jam untuk mencapai patok 9, titik aman atau batas terakhir yang diizinkan balai taman nasional kepada para pengunjung yang hendak mendaki Anak krakatau dari pesisir pantai. Tidak semua dari kami adalah seorang pendaki atau kata lain pernah mendaki sebelumnya, jadi banyak juga dari teman teman yang lelah saat mendaki anak krakatau, 3 orang dari kamipun memutuskan untuk tidak melanjutkan karena memang suhu siang itu cukup panas, disamping itu Anak Krakatau mengeluarkan suhu sendiri dari perutnya.

Hanya satu kalimat yang terucap, “terima kasih Allah Kau beri aku kesempatan lagi untuk melihat salah satu dari sekian banyak lukisanMu” dan Teman merupakan hal terindah yang saya (mungkin anda dan kalian juga) miliki saat diberi kesempatan menikmati LukisanNya; *kenapa jadi melankolis gini..
saat saat yang ditunggu adalah “narsis di depan Lensa”. ya Picture Time. foto sana foto sini, kamera ini kamera itu, gaya ini gaya itu sudah kami jajal. sampai beberapa saat saya melihat salah satu teman mencoba untuk melihat lebih dekat puncak si Cantik. ada beberapa teman (saya tidak termasuk :D) yang berhasil sampai puncak Anak Krakatau saat itu. Belerang pekat + panas yang mereka bilang pertama kali saat cerita kepada teman teman lainnya yang tidak sampai kesana.
Sekali lagi, terima kasih kepada Si Cantik yang mengizinkan kami untuk melihat dia lebih jelas.

Kurang lebih 1 jam setelah mendokumentasikan landskap dari atas sana saya dan teman teman turun kembali ke pantai. Makan siang merupakan ide paling bagus saat itu. yeah laparr!!
Setelah semua selesai bertamu ke anak Krakatau dilanjutkan dengan main air. yah, snorkling time. snorkling dilakukan disisi belakang pulau Rakata. Kesan pertama saya melihat bawah airnya terlihat sudah mati terumbu karang disana, hanya terdapat patahan patahan hard coral dan beberapa soft coral kecil yang berusaha untuk survive. ya mungkin ini disebabkan oleh laut sekitar krakatau yang memang masuk dalam zona laut vulkanik gunung api. Tidak bisa beralama lama saya didalam air, karena gelombang cukup besar yang membuat sedikit malas untuk berlama lama. singkat cerita kami pun kembali ke sebesi untuk istirahat dan bersiap untuk esok.

Hari Kedua : kegiatannya hanya bermain air. cuaca Saat itu sangat bersahabat, Blue Sky Clear. cuaca yang tepat untuk main air dan menghitamkan kulit. spot pertama yaitu disisi Timur Laut pulau sebesi (kalo ga salah arahnya :D) hanya beberapa menit dari dermaga pulau sebesi. dan dilanjutkan ke pulau umang umang. Pulau yang masih tetangga dekat dengan pulau sebesi. Pulau ini tidak besar, tetapi disana wow! spot air yang paling bagus yang saya kunjungi menurut saya selama saya disana. Disana saya hanya melihat lihat dan mendokumentasikan landskap disana dan juga narsis time buat teman teman. Saking narsisnya sampai saat seorang teman dari Belanda, Wendy bilang kepada seorang teman “you guys so love making picture” hahaha the best quotation about Indonesian People :D.

saya merupakan orang yang tidak pintar dan tidak bisa banyak berkata kata. jadi saya sudahi cerita saya sampai disini. Mungkin dengan foto foto dibawah bisa bercerita lebih dari yang saya utarakan diatas.

Krakatau in VR360°

click on image to view Krakatau in VR360°

Thanks
my Best Regards

Look, Like, & Learn Indonesia

more about Krakatau :
http://id.wikipedia.org/wiki/Krakatau

All Photo by Danar Tri Atmojo © 2011 All Rights Reserved.
nankqeoldman[at]yahoo[dot]com / nankqeoldman[at]gmail[dot]com
All my images are under © All Rights Reserved and should not be use in any other way.
Please don’t use this image on websites, blogs or other media without my explicit permission.

Advertisements

5 responses

  1. good boy

    Orang tua anak krakatau memang dasyat tapi masih lebih dasyat kakek anak krakatau, konon p jawa dan sumatra terpisah karena meletusnya kakek anak krakatau

    January 24, 2012 at 23:14

  2. good boy

    Orang tua anak krakatau memang dasyat tapi masih lebih dasyat kakek anak krakatau, konon p jawa dan sumatra terpisah karena meletus kakeknya

    January 24, 2012 at 23:16

    • Halo mas Dwi

      Terima kasih sudah visit..
      wah info yang menarik. saya malah belum tau. mungkin ada referensi nya?

      January 25, 2012 at 16:50

  3. Kalau mau naik ke krakatau, ada perizinannya gak yaa? Kalau ada, boleh minta CPnya?

    January 28, 2012 at 16:32

    • Halo Kevin,

      Sebelumnya terima kasih sudah visit.
      Kalo ke krakatau ada izinnya. tetapi tidak rumit atau tidak menggunakan perizinan tertulis atau semacamnya.
      biasanya kami hanya perlu konsultasi dengan pemilik kapal (yang mengantarkan kami) atau orang lokal di P.sebesi bagaimana keadaan di Anak Krakatau. jika memang memungkinkan untuk didaki, mereka pasti mengizinkan. tetapi jika tidak jangankan mendaki, kapal hanya boleh mendekat dengan radius 2-3 Km dari Anak Krakatau. untuk contact person kami tidak punya, karena petugas Taman Nasional disana tidak terlihat seperti petugas dan tidak mempunyai kantor khusus. biasanya mereka menggunakan kapal juga yang bertuliskan petugas Taman Nasional Anak Krakatau.

      Terima Kasih

      January 28, 2012 at 18:25

Leave your Thought..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s