Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

Latest

Cerita Setir Biru

Blue Bird new Mobile Apps, "My Blue Bird"

Blue Bird new Mobile Apps, “My Blue Bird”

Apa sih yang melandasi sebuah penemuan dan pembaharuan? Kebutuhan. Kebutuhan yang membuat manusia menciptakan penemuan baru akan semua hal yang membuat dirinya mudah dalam melakukan segala hal.

Kebutuhan transportasi merupakan kebutuhan turunan akibat aktivitas ekonomi, sosial, dan sebagainya. Di kota besar seperti Jakarta yang manusia didalam nya dituntut untuk cepat, membutuhkan moda transportasi yang nyaman dalam menempuh aktivitas sehari-hari. Ditambah faktor ramainya lalu lintas, kemacetan, dan keamanan dijalan.

When everything as easy as the click of the button

Ketika kami pergi sekeluarga (dulu) selalu menggunakan angkutan umum, termasuk taksi. Itu berlangsung hingga beberapa tahun kedepan sampai sekarang. Jika hendak pergi sekeluarga dan membawa barang yang banyak, taksi merupakan pilihan keluarga kami. Dulu inget banget waktu di tahun 2000-an pas mau pergi sekeluarga, gw yang selalu ditugaskan cari taksi. Pergi ke salah satu persimpangan jalan raya besar yang banyak angkutan umum lewat. Nunggu sampai ada taksi yang tidak berpenumpang buat di charter dan digiring kerumah untuk jemput keluarga, baru pergi ke tujuannya karena rumah kami jauh dari jalan utama.

Di zaman digital dan mobile, cara diperbaharui dengan menggunakan reservasi menggunakan telepon. Sekarang dengan maraknya telepon pintar, semua terasa lebih mudah. Tidak lagi pergi ke simpang jalan raya utama untuk menggiring taksi kerumah. Cukup klik lewat layar handphone. Ketika ditanya taksi apa yang sudah terpercaya dan selalu kami (keluarga gw) percaya, Blue Bird. Lately gw selalu pakai Aplikasi smartphone terbarunya “My Blue Bird” untuk pesan taksi Blue Bird Group. Untuk gw sendiri, pesan untuk ibu jika beliau hendak pergi, pas gw traveling keluar kota.

Sempat gw pergi ke Bali, masalah pertama sesampainya di suatu kota saat traveling adalah “naik apa ya keluar dari bandara” hahahah klasik. Di Bali banyak banget moda transportasi. Dan pernah suatu saat apes, tarifnya juga ga murah; bisa di bilang bengkak dengan jarak tempuh yang dekat. Ya akhirnya sekarang-sekarang lebih pilih salah satu taksi dari Blue Bird Group yaitu Bali Taxi (berlambang burung lho ya | quick fact: semua taksi di bali bernama Bali Taxi) karena banyak armadanya, ga susah. Dengan aplikasi My Blue Bird, kalian ga cuma taksi Blue Bird biasa, lo juga bisa pesen tuh taksi Silver Bird yang pake mobil Mercedez dan Alphard, dan semua taksi dari Blue Bird Group.

Prioritas: Antara Kewajiban sebagai Driver Blue Bird dan Kewajiban sebagai seorang Ayah

Portrait bapak M. Hariadi, sesaat setelah beliau mengantarkan saya ke Jalan Merdeka Barat

Portrait bapak M. Hariadi, sesaat beliau mengantarkan saya ke Jalan Merdeka Barat

Hari itu, 18 Juni 2016. Gw hendak pergi dari rumah di kawasan Jatibening Bekasi ke arah Jalan Merdeka Barat Monas. Gw pakai aplikasi My Blue Bird untuk pesan taksi Blue Bird. Dengan step-step nya yang mudah ga sampai 5 menit sudah dapat driver taksi yang siap antar ke daerah Monas. Saat itu jarak driver dengan pickup point kurang dari 15 menit hingga sampainya di depan rumah gw. Bapak M. Hariadi siang itu dengan nomor taksi GJ 4238 yang menjemput saya. “Siang Pak Danar” sapanya saat saya masuk kedalam taksi, ditambahnya dengan memastikan lagi ke gw tujuan adalah jalan Merdeka Barat.

Ada yang beda saat itu, Pak Hariadi lantas langsung bertanya ke saya “Pak Danar, apakah saya bisa agak sedikit kencang, karena saya harus buru-buru pulang dan ke rumah sakit, karena anak saya masuk rumah sakit?” “tentu pak, tentu boleh” Jawab saya. Kami pun langsung berangkat menuju Jalan Merdeka Barat. Karena beliau sudah tanya seperti itu, gw ada perasaan ga enak, karena beliau harus pulang dan cepat-cepat ke rumah sakit. Saya sempat tawarkan untuk membatalkan pesanan dan saya pesan ulang sehingga beliau bisa langsung pulang kerumah, tidak jawab pak Hariadi. Beliau tetap memprioritaskan antar saya sebagai penumpang ke tujuan saya.

Di perjalanan sedikit kami bercerita tentang satu sama lain. Beliau tanya pekerjaan saya apa kemudian saya tanya balik sudah berapa lama berprofesi sebagai driver Blue Bird, 18 tahun sudah dia menjadi driver Blue Bird, waktu yang tidak sebentar. Dari zaman Reformasi lahir di Indonesia dia sudah menjadi driver Blue Bird. Tidak mengurangi rasa hormat saya ke beliau, akhirnya saya tanya sakit apa anaknya yang masuk rumah sakit, “Leukimia, Kanker Darah putih mas” beliau jawab. “Ini sudah kali ketiga anak saya masuk rumah sakit” imbuhnya.

Itu merupakan sedikit cerita pengalaman yang saya temui ketika saya menggunakan Transportasi Taksi Blue Bird, masih banyak orang-orang baik yang berdedikasi terhadap pekerjaannya di luar sana, termasuk bapak M. Hariadi, si Supir Blue Bird. Salut dan respect untuk beliau, semoga kesehatan cepat diberikan untuk anaknya.

nnkq-DanarTriAtmojo-CeritaSetirBiru-BlueBird_gj4238

Barempuk & Karaci, Tari Bela Diri dari Desa Kakiang, Sumbawa

Dua Orang petarung bersiap melakukan tarian Karaci yang diadaptasi dari petarungan Karaci yang digunakan oleh kerajaan Sumbawa untuk mencari seorang Laskar Kerajaan, di Desa Kakiang, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa. Klik Foto Tambora/Danar Tri Atmojo

Dua orang bersiap bertarung bermodalkan Owe dan Empar dengan badan berbalut Pabualang untuk membuktikan kepada Raja siapa yang berhak menyandang gelar Laskar Kerajaan

Hari pertama trip Klik Foto Tambora yang diselenggarakan dalam salah satu rentetan Festival Pesona Tambora menuntun rombongan ke Desa Kakiang, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa. Desa yang berjarak 45 menit dari Bandara Sultan Moh. Kaharuddin berada di sentral Kabupaten Sumbawa. Berbukit, dengan hamparan sawah di kanan dan kiri jalan menghiasi perjalanan rombongan Klik Foto Tambora siang itu.

Read the rest of this page »

Cerita di balik kata “nnkq”

Danar Tri Atmojo foto diatas Vespa 1977 di salah satu jalan Raya Sarangan - Tawangmangu saat sedang menuju Pulau Sempu Jawa Timur tahun 2008; Foto diambil oleh Ferdiansyah (Pepeng)

Danar Tri Atmojo foto diatas Vespa 1977 di salah satu jalan Raya Sarangan – Tawangmangu saat sedang menuju Pulau Sempu Jawa Timur tahun 2008; Foto diambil oleh Ferdiansyah (Pepeng)

Gw lahir dari pasangan keturunan orang Solo, Jawa Tengah. Bukan kota Solo tapi tetangga kota Solo, Kabupaten Sukoharjo. Mereka berdua tinggal di satu Kecamatan yang sama; malahan Ibu adalah adik dari teman STM bapak dulu.

Beda dengan bapak dan ibu gw, gw ga lahir di Solo; gw lahir di Jakarta Timur, tinggal dan besar di pinggiran kota Bekasi yang juga berada dipinggir kota Jakarta Timur yang masuk administratif Kota Bekasi. Banyak yang nanya gw masih ada hubungan dengan salah satu anak mantan diktaktor Indonesia, yang dua kata terakhir nama kami sama; dan gw bisa jawab kami tidak mempunyai hubungan kerabat apapun.

Read the rest of this page »

%d bloggers like this: