Journal, Stories, Travel Photos, & VR360°

Latest

@WowFakta & @FaktaGoogle : Monetisasi akun Media Sosial menggunakan karya Orang Lain

Sebagai pembuat konten digital dan bahkan banyak yang menjadikannya bagian dari mata pencaharian, perlindungan karya merupakan hal yang akan sangat sulit dilakukan di era seperti sekarang ini. Arus data yang sangat cepat, pertumbuhan teknologi yang sangat pesat, terkadang tidak diimbangi dengan peraturan perlindungan yang efektif. Di Indonesia khususnya peraturan Informasi Teknologi terkadang masih berjalan di tempat atau timpang sebelah.

Pelanggaran terhadap kebijakan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan masih sering diabaikan baik dari si pembuat ataupun si pengguna. Edukasi terhadap pengaksesan materi digital di Indonesia pun tidak pernah dilakukan secara formal. Tidak ada badan khusus yang menangani pelanggaran-pelanggaran yang terjadi sampai ke tingkat yang paling rendah. Baru sebatas “pornografi” yang menjadi perhatian lebih para pembuat peraturan di Indonesia.

Pelanggaran Penggunaan Konten Digital

Apakah kalian pernah berfikir ketika kalian mencari sebuah gambar pada mesin pencari Google, gambar hasil yang dimunculkan Google merupakan bukan milik Google? Somewhere, someone own that picture/video/content.. Kita penggunanya seringkali mengabaikan itu.

dta-google_search_result

Hampir di semua media, mesin pencari, website, media sosial, mereka pasti mempunyai peraturan yang mengatur tentang penggunaan konten yang ada di dalamnya. Seperti Google contohnya selalu ada peringatan “Images may be subject to copyright.” disetiap hasil pencarian gambar yang ditampilkan. Bahkan tertera di https://www.google.com/permissions/faq.html, tertulis:

I found an image on Google Image Search that I want to use. Do I need permission to use it?

Yes you do need permission in order to use it. However Google does not own the images found via Google Search. You must contact the owner of the image (typically whoever first posted the image on the web) and obtain his/her permission in order to use it.

Tetapi masih banyak pengguna yang melanggar. Mengambil, menggunakan kembali konten tersebut, atau bahkan memodifikasi. Kurangnya minat baca dan tingkat kemalasan membaca di Indonesia bisa juga jadi pengaruh banyaknya pelanggaran terhadap penggunaan konten. Kita masih terpaku pada it’s-free-to-use-content pada semua hasil pencarian Google ataupun dari media lain.

Pranala Luar tentang Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik terkait Hak Cipta dan penyalahgunaannya : UU ITE No. 19 Tahun 2002

http://jdihn.bphn.go.id/?page=peraturan&section=produk_bphn&act=year&id=2008032915423012&year=2002

Tingkat pengguna Media Sosial Tertinggi di Dunia dan Monetisasi Media Sosial

Apalagi Indonesia merupakan tingkat tertinggi penggunaan media sosial saat ini, tak jarang banyak yang berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam penyampaian informasi. Copy that paste this, tanpa menyaring lagi datang darimana informasi tersebut, ke-valid-an informasinya pun patut di pertanyakan. Hampir di semua lini masyarakat Indonesia mempunyai media sosial. Bahkan beberapa badan pemerintahan ataupun kantor berita menjadikannya kanal utama dalam penyampaian informasi ketimbang situs resmi mereka.

Media sosial pun kini menjadi mata pencaharian bagi para pembuat konten digital (saya termasuk didalamnya). Dengan kemampuan yang dimiliki, seorang photographer, videographer, penulis, blogger, atau yang lainnya membuat kanal pada media sosial yang menjadi tempat menyalurkan karya-karya kami, tak ayal kamipun bisa mempengaruhi (influence) pengikut kami (followers) di media sosial tersebut.

Karena kemampuan itu, banyak brand-brand produk, agency periklanan datang kepada kami untuk beriklan pada kanal kami. Disitulah uang datang, kami menggunakan karya-karya untuk mencari uang dari kanal-kanal media sosial.

@WowFakta & @FaktaGoogle : Monetisasi akun Media Sosial menggunakan karya Orang Lain

Pada 7 November 2016, saya sedang melihat linimasa Twitter. Kemudian 2 orang teman sedang membahas foto siapa yang di unggah oleh @FaktaGoogle saat itu, melihat twit tersebut saya kaget, karena foto tersebut merupakan foto saya, foto saya yang mereka unggah pada media sosial mereka tanpa menggunakan credits ataupun izin saya untuk menggunakan foto tersebut. Foto saya yang buat pada 2013 dan sudah dari tahun 2014 terakhir saya unggah ke media sosial.

Mengetahui itu, saya usut akun @FaktaGoogle dari semua twit dan siapa yang dia follow untuk menemukan foto saya yang mana saja dan dari kapan mereka gunakan pada media sosial . Singkat cerita saya menemukan 3 kali penggunaan pada akun @FaktaGoogle dan 1 kali penggunaan pada akun @WowFakta. Bahkan hingga saat ini, kedua akun tersebut masih melakukan hal yang sama yaitu menggunakan foto/gambar orang lain dan mem-posting kan pada akun mereka.

Sudah banyak kasus seperti ini berlangsung, dan para pemilik dan pembuat konten tersebut sering mengabaikan hal ini. Belajar dari seorang teman mengenai hal seperti ini, saya tidak mau tinggal diam. Saya ingin membuat jera para pelaku media sosial seperti @WowFakta dan @FaktaGoogle yang dengan sengaja hanya dengan menggunakan mesin pencari seperti Google, mengambil karya, dan menggunakannya pada kanal media sosial mereka, dan mereka mendapat keuntungan dari situ (bisa di cek berapa follower pada kedua akun tersebut). Lantas saya menghubungi pemilik akun tersebut untuk mengklarifikasi dan saya kirimkan Invoice karena telah menggunakan konten tanpa izin dan tanpa pemberian credits pada karya tersebut. Pada invoice, hanya saya charge harga penggunaan konten saya dan bukan karena mereka melakukan pelanggaran yang mana bisa sangat besar.

Pemilik akun enggan untuk membalas email yang saya layangkan untuk mereka, bahkan harus dengan berkali-kali saya hubungi mereka melalui Whatsapp, baru mereka membalas dan mengklarifikasi hal tersebut.

Dari percakapan kami diatas, pihak @WowFakta dan @FaktaGoogle enggan untuk melunasi apa yang saya minta, karena keterbatasan informasi yang saya miliki seperti nama asli dan alamat asli pemilik akun saya tidak bisa melaporkan akun tersebut ke tingkat yang lebih tinggi. Bahkan sekarang, semua bukti twit dihapus, akun Media sosial saya di block oleh mereka.

Bukan hanya karena uang lantas saya menulis ini, saya hanya ingin membagi pengalaman bagi sesama teman-teman yang mencari uang dari membuat konten digital, dan juga saya ingin pihak @WowFakta dan @FaktaGoogle jera akan hal ini. Biarkan hal ini menjadi pembelajaran bagi kita para pembuat konten, bahkan kalian para agency digital, ataupun kalian para brand. Mari lebih aware terhadap hal-hal seperti ini. Ini bukan yang pertama, banyak media yang dengan sadar kesalahan mereka dan mau untuk menebus kesalahan yang mereka buat, tapi banyak juga media besar yang masih melakukan pelanggaran serupa.

Share jika kamu peduli terhadap para pembuat konten digital di Indonesia J

Salam

Danar Tri Atmojo

Cerita Setir Biru

Blue Bird new Mobile Apps, "My Blue Bird"

Blue Bird new Mobile Apps, “My Blue Bird”

Apa sih yang melandasi sebuah penemuan dan pembaharuan? Kebutuhan. Kebutuhan yang membuat manusia menciptakan penemuan baru akan semua hal yang membuat dirinya mudah dalam melakukan segala hal.

Kebutuhan transportasi merupakan kebutuhan turunan akibat aktivitas ekonomi, sosial, dan sebagainya. Di kota besar seperti Jakarta yang manusia didalam nya dituntut untuk cepat, membutuhkan moda transportasi yang nyaman dalam menempuh aktivitas sehari-hari. Ditambah faktor ramainya lalu lintas, kemacetan, dan keamanan dijalan.

When everything as easy as the click of the button

Ketika kami pergi sekeluarga (dulu) selalu menggunakan angkutan umum, termasuk taksi. Itu berlangsung hingga beberapa tahun kedepan sampai sekarang. Jika hendak pergi sekeluarga dan membawa barang yang banyak, taksi merupakan pilihan keluarga kami. Dulu inget banget waktu di tahun 2000-an pas mau pergi sekeluarga, gw yang selalu ditugaskan cari taksi. Pergi ke salah satu persimpangan jalan raya besar yang banyak angkutan umum lewat. Nunggu sampai ada taksi yang tidak berpenumpang buat di charter dan digiring kerumah untuk jemput keluarga, baru pergi ke tujuannya karena rumah kami jauh dari jalan utama.

Di zaman digital dan mobile, cara diperbaharui dengan menggunakan reservasi menggunakan telepon. Sekarang dengan maraknya telepon pintar, semua terasa lebih mudah. Tidak lagi pergi ke simpang jalan raya utama untuk menggiring taksi kerumah. Cukup klik lewat layar handphone. Ketika ditanya taksi apa yang sudah terpercaya dan selalu kami (keluarga gw) percaya, Blue Bird. Lately gw selalu pakai Aplikasi smartphone terbarunya “My Blue Bird” untuk pesan taksi Blue Bird Group. Untuk gw sendiri, pesan untuk ibu jika beliau hendak pergi, pas gw traveling keluar kota.

Sempat gw pergi ke Bali, masalah pertama sesampainya di suatu kota saat traveling adalah “naik apa ya keluar dari bandara” hahahah klasik. Di Bali banyak banget moda transportasi. Dan pernah suatu saat apes, tarifnya juga ga murah; bisa di bilang bengkak dengan jarak tempuh yang dekat. Ya akhirnya sekarang-sekarang lebih pilih salah satu taksi dari Blue Bird Group yaitu Bali Taxi (berlambang burung lho ya | quick fact: semua taksi di bali bernama Bali Taxi) karena banyak armadanya, ga susah. Dengan aplikasi My Blue Bird, kalian ga cuma taksi Blue Bird biasa, lo juga bisa pesen tuh taksi Silver Bird yang pake mobil Mercedez dan Alphard, dan semua taksi dari Blue Bird Group.

Prioritas: Antara Kewajiban sebagai Driver Blue Bird dan Kewajiban sebagai seorang Ayah

Portrait bapak M. Hariadi, sesaat setelah beliau mengantarkan saya ke Jalan Merdeka Barat

Portrait bapak M. Hariadi, sesaat beliau mengantarkan saya ke Jalan Merdeka Barat

Hari itu, 18 Juni 2016. Gw hendak pergi dari rumah di kawasan Jatibening Bekasi ke arah Jalan Merdeka Barat Monas. Gw pakai aplikasi My Blue Bird untuk pesan taksi Blue Bird. Dengan step-step nya yang mudah ga sampai 5 menit sudah dapat driver taksi yang siap antar ke daerah Monas. Saat itu jarak driver dengan pickup point kurang dari 15 menit hingga sampainya di depan rumah gw. Bapak M. Hariadi siang itu dengan nomor taksi GJ 4238 yang menjemput saya. “Siang Pak Danar” sapanya saat saya masuk kedalam taksi, ditambahnya dengan memastikan lagi ke gw tujuan adalah jalan Merdeka Barat.

Ada yang beda saat itu, Pak Hariadi lantas langsung bertanya ke saya “Pak Danar, apakah saya bisa agak sedikit kencang, karena saya harus buru-buru pulang dan ke rumah sakit, karena anak saya masuk rumah sakit?” “tentu pak, tentu boleh” Jawab saya. Kami pun langsung berangkat menuju Jalan Merdeka Barat. Karena beliau sudah tanya seperti itu, gw ada perasaan ga enak, karena beliau harus pulang dan cepat-cepat ke rumah sakit. Saya sempat tawarkan untuk membatalkan pesanan dan saya pesan ulang sehingga beliau bisa langsung pulang kerumah, tidak jawab pak Hariadi. Beliau tetap memprioritaskan antar saya sebagai penumpang ke tujuan saya.

Di perjalanan sedikit kami bercerita tentang satu sama lain. Beliau tanya pekerjaan saya apa kemudian saya tanya balik sudah berapa lama berprofesi sebagai driver Blue Bird, 18 tahun sudah dia menjadi driver Blue Bird, waktu yang tidak sebentar. Dari zaman Reformasi lahir di Indonesia dia sudah menjadi driver Blue Bird. Tidak mengurangi rasa hormat saya ke beliau, akhirnya saya tanya sakit apa anaknya yang masuk rumah sakit, “Leukimia, Kanker Darah putih mas” beliau jawab. “Ini sudah kali ketiga anak saya masuk rumah sakit” imbuhnya.

Itu merupakan sedikit cerita pengalaman yang saya temui ketika saya menggunakan Transportasi Taksi Blue Bird, masih banyak orang-orang baik yang berdedikasi terhadap pekerjaannya di luar sana, termasuk bapak M. Hariadi, si Supir Blue Bird. Salut dan respect untuk beliau, semoga kesehatan cepat diberikan untuk anaknya.

nnkq-DanarTriAtmojo-CeritaSetirBiru-BlueBird_gj4238

Barempuk & Karaci, Tari Bela Diri dari Desa Kakiang, Sumbawa

Dua Orang petarung bersiap melakukan tarian Karaci yang diadaptasi dari petarungan Karaci yang digunakan oleh kerajaan Sumbawa untuk mencari seorang Laskar Kerajaan, di Desa Kakiang, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa. Klik Foto Tambora/Danar Tri Atmojo

Dua orang bersiap bertarung bermodalkan Owe dan Empar dengan badan berbalut Pabualang untuk membuktikan kepada Raja siapa yang berhak menyandang gelar Laskar Kerajaan

Hari pertama trip Klik Foto Tambora yang diselenggarakan dalam salah satu rentetan Festival Pesona Tambora menuntun rombongan ke Desa Kakiang, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa. Desa yang berjarak 45 menit dari Bandara Sultan Moh. Kaharuddin berada di sentral Kabupaten Sumbawa. Berbukit, dengan hamparan sawah di kanan dan kiri jalan menghiasi perjalanan rombongan Klik Foto Tambora siang itu.

Read the rest of this page »

%d bloggers like this: